Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
118.Extra Part 3


__ADS_3

Tepat pukul 18.30 Rama telah sampai di kos-kosan Sasa. Tangannya sudah bersiap untuk mengetuk daun pintu dan bersamaan dengan terbukanya pintu tersebut, muncullah seorang gadis yang seketika membuat Rama terkesima. Tampilan Sasa begitu berbeda, gadis itu tampak sangat anggun dan cantik dengan gaun berwarna maroon yang kontras dengan kulit putih serta mencetak lekuk tubuhnya dan itu membuat Sasa terlihat begitu sexy.


"Ekhem...sudah datang?" Suara deheman Sasa mengembalikan kesadarannya, laki-laki itu pun kikuk menggaruk tengkuknya mengalihkan rasa malunya.


"Oh, iya.Sorry ya aku telat."


"Enggaklah–sebenarnya kamu juga tidak harus menjemputku,kok.Aku bisa berangkat sendiri."


Rama menatap tidak suka akan perkataan Sasa. Padahal ia lebih mementingkan untuk menjemput gadis itu dari pada membantu keluarganya dalam persiapan pesta yang akan di gelar.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?aku sudah berusaha beraikap baik sama kamu dan ingin memperbaiki hubungan kita yang kurang enak di masa lalu. sok sekali sih kamu jadi perempuan jual mahal banget."


Sasa mencoba mengontrol emosinya, ucapan Rama benar-benar pedas dan menyakitkan.


"O...sorry kalau perkataanku telah membuat kamu tersinggung.Terima kasih atas kebaikkanmu, kita jadi berangkat kan? apa masih mau berdebat dulu." Sasa mengalihkan topik pembicaraan agar Rama tidak semakin memojokkannya.


"Ayo–!" Rama langsung menggandeng tangan Sasa menuju ke mobilnya yang terparkir di depan gang.


Sapanjang perjalan,Sasa bungkam malas untuk berinteraksi dengan laki-laki yang selalu memaksakan kehendaknya terhadap dirinya. Ia menyibukkan diri dengan telpon pintarnya.Sedangkan Rama fokus menyetir sesekali melirik gadis di sampkngnya yang masih bersikap cuek. Sepertinya gadis itu masih kesal padanya.


Mereka pun turun ketika mobil berhenti didepan lobby hotel. Sasa berjalan di belakang Rama dan ketika menyadarinya, Rama pun berbalik dan melangkah mendekati Sasa dan langsung meraih tangan gadis itu untuk di apit pada lengannya.Sasa sempat kaget namun akhirnya ia pun menurut saja.


Suasana ruangan tempat di adakannya resepsi tersebut sudah tampak ramai dan sebentar lagi acara alan segera di mulai.


"Ayo, kita duduk di sana!"


Rama menunjuk ke sebuah meja yang disana sudah hadir Zander dan Dean serta dua teman wanitanya. Mungkin kedua gadis tersebut adalah pacar baru mereka.


"Hai bro, akhirnya datang juga. Gimana sih tuan rumah malah datang terlambat." Zander menyindir Rama yang memang datang paling akhir diantara mereka.


Rama tak mengindahkan celotehan Zander yang memang agak usil persis seperti daddy Zack. Ia menarik kursi untuk di duduki oleh Sasa dan kemudian ia pun duduk di kursi tepat disebelah gadis itu.


Mereka menikmati pesta yang begitu mewah namun dengan suasana yang cukup santai. Para tamu bergantian naik ke atas panggung menyalami kedua mempelai dan memberikan do'a restunya. Sasa tersenyum lepas melihat sang sahabat yang akhirnya telah meraih kebahagiaannya bersama laki-laki yang di cintainya.


Ya, Rava dan Naina adalah couple goals membuat siapa saja akan merasa iri melihat keromantisan mereka berdua. Tanpa gadis itu sadari sejak tadi Rama selalu memperhatikannya.


"Ehem–Kenapa, iri ya?"

__ADS_1


Mendengar suara Rama Sasa terjingkat kaget, gadis itu pun refleks menoleh dan betapa malunya karena di tatap selekat itu dengan mata teduhnya.


"Si–siapa yang iri? aku merasa ikut bahagia karena akhirnya mereka di persatukan dalam ikatan perkawinan yang di landasi oleh cinta. Siapa pun pasti akan merasa iri dan menginginkan seperti mereka, kan."


Sasa berucap dengan mimik biasa sambil mengalihkan pandangannya ke arah pelaminan di mana kedua mempelai yang tengah tersenyum bahagia menyalami para tamu.


Beberapa menit kemudian, tiba-tiba saja muncul seorang gadis muda yang langsung menyapa dengan begitu akrabnya pada Rama. Membuat semua orang yang beeada di sekitar menoleh kearah mereka.


"Kak Rama..!" Gadis cantik itu langsung mengapit lengan Rama posesif.


"Celin–" Rama masih tetap bersikap datar walaupun ia agak terkejut dengan kemunculan gadis bar-bar tersebut.


Ternyata gadis tersebut tidak datang seorang diri. Tak jauh di belakangnya tampak pasangan paruh baya yang kemudian juga menyapa Rama.


"Loh, Ram. Kamu kok malah duduk di sini sih? tante kira kamu bersama dengan mama dan papa mu." Wanita paruh baya itu mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Rangga dan Maiima, orang tua dari si pemuda.


"Oh...ngak apa-apa kok tan, aku disini saja bersama teman-teman." Rama mengarahkan tatapannya pada Zander, dan Dean.


"Begitu–kalau begitu tante sama om ke mama dan papa mu dulu ya,Ram. Ayo Cel...!"


Sasa merasa kurang nyaman berada di antara mereka. Dan gadis itu pun undur diri kepada Zander dan Dean untuk menghampiri pasangan pengantin di atas pelaminan.


"Zan, Dean. Aku ke Naina dan Rava ya."


Dan di angguki oleh kedua pemuda tampan tersebut. Rama yang masih repot dengan tingkah centil dan agresif Celin yang tambah menempel seakan tak ingin lepas pun tak menyadari jika Sasa sudah tidak ada di sampingnya.


"Kak Rama, sebentar lagi Celin sudah mau wisuda loh. Jadi, kapan kak Rama akan melamarku?"


Mendengar penuturan dari gadis genit itu sontak membuat Rama terkejut dan mengernyit penuh tanya. Begitu pun Zander dan Dean yang memang sejak tadi memperhatikan tinngkah gadis pecicilan itu juga ikut di buat melongo dan tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Celin.


"Apaan sih loe bocil, loe itu hanya gue anggap sebagai adik dan sorry gue udah punya calon ini kenalkan...Sa–sa...? loh, Sasa kemana? Zan, De. Sasa pergi kemana. Kok, dia ngak bilang sama gue?" Rama kaget karena Sasa sudah tidak ada di sebelahnya.


Zander yang memang tadi sempat di pamiti oleh Sasa langsung memberitahukan pada Rama dan Rama pun refleks melihat ke arah pelaminan. Benar saja, gadis itu sudah berada di sana.Tanpa memperdulikan Celin, laki-laki itu bergegas menyusul sang gadis melangkah menuju ke pelaminan.


"Nai, sekali lagi selamat ya. By the way aku pamit duluan ya Nai. Besok pagi-pagi sekali aku harus berangkat kerja."


"Yah...kok buru-buru sih. Kenapa? apa ada sesuatu yang bikin kamu ngak nyaman. Apa karena mas Rama?"

__ADS_1


"Eh–bukanlah Nai, kamu ini. Aku sudah melupakan masa yang lalu. Semua sudah berubah Nai."


"Beneran? kamu tidak sedang berbohong kan?" Naina masih belum bisa percaya jika Sasa sudah move on dan melupakan Rama.


"Iya...iya, sudah ah. Malah ngelantur. Sampai jumpa lagi ya bestie dan selamat berbahagia."


Kedua sahabat karib itu pun kembali saling berpelukan erat dan seakan tak rela untuk berpisah. Terutama Naina yang memang masih kangen karena baru saja bertemu kembali.


Baru saja Sasa melangkah, Naina kembali memanggilnya.


"Sa, kamu pulang bareng siapa? biar mas Rama yang akan mengantarkanmu ya." Naina melihat dan menunjuk Rama yang tengah berjalan kearah mereka.


Dan Sasa pun ikut menoleh dan melihat Rama yang tengah melangkah kearahnya. Gadis itu pun segera mempercepat langkahnya menghindari laki-laki tersebut.


"Eh...ngak usah Nai, aku bisa pulang sendiri. Bye–"


"Mas Rama tolong antarkan Sa–eh, ada apa dengan mereka ya?" Naina tak melanjutkan perkataannya karena Rama langsung melesat pergi mengejar Sasa.


Naina menarik-narik lengan Rava dan membisikkan sesuatu.


"Mas, itu Sasa sama mas Rama kenapa ya. Sepertinya ada sesuatu di antara mereka."


"Hmm...ada apa, sayang. Kamu tadi bilang apa?" Rava bertanya karena memang belum ngeh apa yang baru saja di katakan oleh sang istri.


"Itu loh Sasa sepertinya sedang menghindari mas Rama deh.Pasti deh tidak salah lagi ini pasti telah terjadi sesuatu di antara mereka."


Rava hanya mengangguk dan mengatakan kalau nanti ia akan mencari tahu dengan menanyakannya langsung pada Rama.


Sasa semakin mempercepat langkahnya apalagi ketika ia menyadari kalau Rama tengah mengikutinya. Dan akhirnya Rama bisa mengejar gadis di depannya.Dengan sigap Rama mencekal lengan Sasa lalu menarik dan merengkuh tubuh gadis tersebut.


"Grepp–"


"Mau kemana kamu Marsha Ayunda Pratiwi?"


"Ra–rama..."


Tbc

__ADS_1


__ADS_2