
Hai...para readers, mampir juga ya di novelku yang baru yang berjudul Cita dan Cinta Nada. Novel ini rencananya baru akan update rutin insyaallah setelah Kala Cinta Menyapa tamat.
Semoga kalian suka ya, terima kasih 😊🙏
Seorang gadis berlari tergopoh-gopoh sambil menenteng sebuah keranjang. Setelah sampai di depan sebuah Kampus yang terbilang cukup elit.
Dengan langkah tertatih-tatih ia pun bergegas maauk dan menuju ke belakang kampus.
"Hos–hos–hos...Assalmuallaikum bu. Maaf, saya kesiangan!" Mencium punggung tangan seorang wanita paruh baya.
"Tidak apa-apa Nada, masih sepi juga kok! belum ada pembeli juga. Oh ya, kamu tambahin kan kue paatelnya?" Wanita paruh baya yang bernama ibu Mirna itu meraih kerangjang dari tangan Nada dan membukanya. Lalu ia menatanya di sebuah kotak box plastik.
"Tenang bu, jangan khawatir!sudah Nada tambahin kira-kira 20 buah." Nada mengacungkan jari jempolnya dan tersenyum manis.
"Sip-lah kalau begitu kamu memang yang terbaik, Nada!"
Kemudian Nada melangkah menuju ke dalam tepatnya ke ruang pantry yang sangat sederhana. Karena tempat itu adalah kantin kampus dan sudah sekitar 1 tahun-an Nada bekerja dengan bu Mirna. Walaupun gajinya tidak sesuai UMR.Akan tetapi, Nada sudah cukup senang.
Selain bekerja ia juga bisa menitipkan kue-kue basah yang di buatnya sendiri untuk di jual. Lumayan untuk menambah pundi-pundi uang dan mencukupi kehidupan sehari-hari keluarganya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi dan situasi kantin sudah mulai tampak ramai.Nada pun telah stanby di meja kasir.
"Mbak, pesan soto dagingnya 1, terua soto ayam 1 sama minumnya 2 es jeruk manis ya!"
__ADS_1
"Baik Mbak, di tunggu ya!"
Nada lalu menyerahkan pesanan tersebut kepada bu Mirna yang akan menyiapkannya. Sebenarnya ada satu orang lagi yang membantu bu Mirna, yaitu keponakannya sendiri yang bernama Hani. Jika sedang ramai, Nada juga ikut membantu di dapur.
"Mbak Nada, ini pesanannya audah siap!"Hani menaruh nampan yang berisi dua mangkuk soto daging dan dua gelas es jeruk sesuai dengan yang di order oleh salah satu pelanggannya.
"Oke, terima kasih ya Hani!" Setelah iti Nada mengatarkan pesanan tersebut.
"Pesanan datang, mari silahkan!selamat menikmati mbak dan mas-nya!" Nada menangkupkan telapak tangannya dan tak lupa tersenyum ramah.
"Iya, terima kasih mbak!"
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua sore. Seperti biasa, Nada akan pamit setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. Beberes dan memberaihkan semua peralatan di dapur dan etalase bersama-sama dengan Hani.
"Iya, hati-hati ya nduk!istirahatlah yang cukup jangan terlalu ngoyo, Nada! pikirkan kesehatanmu juga!"
Dan Nada pun melenggang pergi dengan senyum yang selalu mengembang di wajah cantiknya.
"Beres bu, sudah ya!Nada sudah hampir telat ini? Assalamuallaikum!"
Nada berlari sekencang- kencangnya, Walau pun dengan kaki yang tertatih-tatih. Fisik nada memang berbeda dari kebanyakan orang biasa. Ia memiliki cacat bawaan sejak lahir pada kakinya.
Namun, Nada tidak pernah berkecil hati. Gadis itu menerima dengan ikhlas kekurangannya itu. Baginya sudah bersyukur ia terlahir dengan sehat dan yang terpenting ia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya.
Dari kejauhan Nada tidak menyadari bahwa ada sekelompok mahasiswa yang terus mengawasi gerak geriknya.
__ADS_1
Terutama salah satu diantaranya. Seorang pemuda tampan yang menyunggingkan senyumnya ketika menatap Nada.
"Siapa dia?"
"Hey, ngapain loe Sen, liatin siapa sih loe?"
Ardi Ikut melihat arah pandang Asen. Dan ternyata Asen tengah memandang seorang gadis yang sedang berlarian di sepanjang koridor kampus.
"Loe tahu dia dari fakultas apa?"
"Siapa? cewek itu? dia bukan anak kampus ini dan dia juga bukan seorang mahasiswi. dia bekerja di kantin kampus."
Ya, Ardi memang tahu karena ia sering makan di kantin kampus tidak seperti seorang Asen yang tak pernah menginjakkan kakinya di sana.
"Kantin? maksud loe kantin yang di belakang kampus?"
"Ya iya lah, Sen. masa' kantin di depan kampus? makannya sekali-kali nongkrong di kantin sama kita-kita yang bukan kalangan anak sultan." Ardi terkekeh dan sedikit menyindir Asen.
"O, begitu!" Asen hanya manggut-manggut lalu senyum tersungging di wajah tampannya.
Tak lama setelah itu mereka masuk ke kelas karena mata kuliah akan segera di mulai.
Budayakan meninggalkan jejak like, comment untuk menghargai Author. Dan juga bisa memacu semangat untuk up lebih banyak lagi.
Terima kasih 🙏
__ADS_1