
Pagi hari di kediaman Varell dan Rani. Suasana di meja makan tampak berbeda, ya...biasanya akan terdengar celotehan ke dua putra dan putri mereka.Namun, saat ini Rava yang memang selalu bersikap usil pada sang adik kini terlihat agak pendiam. Seperti ada yang tengah di pikirkannya.
"Ehemm...ada apa Rava? ayo, cepat habiskan sarapanmu nanti telat ke sekolah!" Rani menegur sang putra yang terlihat malas untuk memakan sarapannya.
"Enggak ada apa-apa kok,ma. Rava berangkat duluan ya pa,ma."
Rava meraih tas ranselnya kemudian melesat pergi setelah sebelumnya mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Woi...Rav, tunggu!" Zander berlari tergesa-gesa menyusul langkah Rava.
"Yang lainnya dah pada datang belum? Rama sama si Dean, trus gimana ya keadaan Naina sekarang?kasihan banget, gara-gara tu cewek ngak ada otak."
Mereka berjalan di lorong kelas dan ketika hampir sampai di depan kelas tiba-tiba mereka mendengar suara tawa dari seseorang yang begitu mereka kenal.
"Kalian tahu tidak, kalau si Naina itu asal muasalnya adalah seorang jongos. Sekarang saja dia sok-sok-an seperti anak orang kaya padahal sih, gembel."
BRAKKK
Suara gebrakan pintu yang sangat keras membuat semua siswa yang berada di dalam kelas terlonjak kaget menoleh ke arah pintu. Dan seketika mereka bergidik ngeri melihat siapa yang telah melakukan hal itu.Dialah Rava murid yang paling di segani dan sangat berpengaruh di sekolah tersebut.
Mereka semua mundur teratur menjauhi Chintya yang sedang duduk di kursinya gadis itu pun merasa takut melihat tatapan tajam Rava, apa lagi pemuda itu saat ini melangkah mendekatinya di ikuti oleh Zander yang tak kalah menakutkan.
"Apa yang sedang kalian bicarakan,hah?dan kau dasar gadis tidak tahu diri. Memangnya siapa kamu berani-beraninya berulah di sekolah ini? apa belum puas semalam kau telah mempermalukan Naina?ayo jawab!"
Chintya tak menyangka kalau Rava dan Zander ternyata sudah datang dan mendengar apa yang tadi di katakannya.Tiba-tiba saja nyalinya menciut bahkan lidahnya kelu tak bisa menjawab pertanyaan Rava yang tengah di lingkupi amarah.
"Ti–tidak, bukan seperti itu Rava. Aku kan cuma mengatakan hal yang sebenarnya.Apakah aku salah? kecuali aku memfitnah Naina dengan berkata bohong tentangnya dan aku tidak merasa melakukan kesalahan apa pun,kok–."
Chintya masih saja berkelit dan merasa tidak bersalah sama sekali.Gadis itu memang sangat keterlaluan.
"Apa kau bilang?" Rava begitu geram dengan tingkah laku gadis di hadapannya saat ini, ingin sekali ia menghajarnya andai saja Chintya seorang laki-laki pasti sudah babak belur di buatnya.
"Ada apa ini?"
__ADS_1
Semua menoleh ke arah pintu dan melihat Rama yang tengah berdiri di ambang pintu menatap datar pada kedua sahabatnya dan mimik wajahnya berubah dingin dan tatapannya tajam mengarah pada sosok Chintya.
"Kebetulan loe dah datang, Ram.Kita harus apakan nih si nenek lampir satu ini?"
Rava menunjuk terang-terangan ke arah Chintya membuat gadis itu memelotot karena di ejek dengan menyamakannya seperti nenek lampir sang legenda.
Rama meletakkan tas ranselnya di tempat duduknya.
"Biarkan saja dia mau berulah apa pun, Naina akan baik-baik saja dan cewek nyinyir ini tak akan lama bertahan di sekolah ini.Tunggu saja tanggal mainnya."
Rava dan Zander mengernyit penuh tanda tanya, apa maksud dari perkataan Rama.Sedangkan Chintya tersenyum sinis penuh kemenangan.
"Maksud loe apaan Ram?"
Rama tak menjawab, pemuda itu duduk bersandar sambil memainkan ponselnya. Rava mengangguk lalu duduk di kursinya sedabgkan Zander pamit untuk ke kelasnya.
"Guys–gue balik ke kelas dulu ya."
"Yo..."
Bahkan seluruh siswa di sekolah tidak ada yang berani berkomentar apa pun.Mereka bersikap biasa saja dan kini situasi berbalik pada Chintya sendiri. Gadis itu kini tidak memiliki teman sama sekali. Ya, Semuanya tidak ada yang menggubris ucapan Chintya baik itu benar atau pun tidak, mereka sama sekali tidak memperdulikannya apalagi Chintya yang merupakan murid pindahan bagi mereka gadis itu tidaklah penting.
"Hi guys–kita ke kantin yuk, gue yang traktir deh!"
Chintya mendekati beberara siswi yang tengah berkumpul di kursi yang berada di lorong kelas. Namun, mereka sama sekali tak bereaksi bahkan seakan tak perduli akan kehadiran gadis itu.
"Yuk, kita ke kantin guys. Ngak usah pake traktir-traktiran kita ini kan bukan orang susah bisa bayar masing-masing. Ngak usah sombong mentang-mentang anak orang kaya." Kata-kata yang di ucapkan oleh salah satu siswi benar-benar sebuah sindiran pedas untuk Chintya.
Gadis itu mengepalkan tangannya kesal akan perlakuan para murid terhadap dirinya setelah kejadian malam pesta Rava.
"Huh...dasar anak-anak melarat, gayanya saja sok kaya." Sepertinya Chintya kena batunya akibat dari perbuatannya sendiri.
Naina dan kedua sahabatnya tengah berada di kantin sekolah.Ketiga gadis itu pun tampak menikmati makanannya dan juga sambil bersenda gurau. Naina kini telah dapat tersenyum kembali, ia tak ingin memikirkan hal yang tidak penting apalagi itu menyangkut Chintya yang memang tak pernah menyukainya sejak mereka masih kecil dulu.
__ADS_1
"Eh Nai, emm...gue boleh tanya ngak? si Rama itu gimana sih sifat aslinya? maksud gue selain di sekolah, ya di rumah lah."–sasa
Sasa adalah salah satu sahabat Naina yang paling dekat dengan Naina. Gadis itu memang agak bar-bar, ia tak akan segan untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
Sudah bukan rahasia lagi jika sasa sangat menyukai Rama dan Naina tahu itu. Tapi Rama sama sekali tidak menanggapinya.
Beberapa kali Sasa memberi perhatian pada Rama dengan memberikan hadiah namun pemuda tersebut sama sekali tak memberi reaksi apapun.Rama si cowok kulkas duplikat papa Rangga.
"Ya, ngak gimana-gimana sih Sa.Ya seperti apa yang loe lihat sehari-hari di sekolah. Seperti itu lah." Jawab Naina jujur.
"Jadi dia di rumah juga dingin gitu?tanpa ada basa basi sama sekali."–Sasa masih tak percaya.
"iya Sa, beneran gue ngak bohong. Gue kan kenal tinggal di keluarga mas Rama udah bertahun-tahun sejak umur gue masih 6 tahunan.Dan gue sudah menganggapnya sebagai kakak sendiri."
Sasa mengerucutkan bibirnya karena sepertinya akan sangat sulit untuk mendekati Rama.
"Sudahlah Sa, elo jangan terlalu berharap sama Rama. Tapi nih ya, kalau gue perhatiin kayaknya dia suka sama elo deh Nai." –Kiki
Naina sontak tak percaya akan apa yang di katakan oleh Kiki. Naina menggelengkan kepalanya.
"Ah elo nih Ki, bisa aja. Ya ngak mungkinlah. Gue menganggap mas Rama hanya sebatas kakak, walaupun kami sama sekali tidak ada ikatan darah. Mama Maima dan papa Rangga juga begitu. Mereka menyayangi gue seperti putri kandung mereka sendiri.Dan gue sangat bersyukur akan hal itu. Memiliki keluarga yang harmonis. Apalagi melihat keromantisan papa Rangga dan mama Maima setiap hari. Bahagia sekali." Naina tersenyum membayangkan kehidupan keluarganya yang bahagia.
"Wah...beruntung sekali loe Naii, gue juga mau dong jadi bagian dari keluarga kalian."–Sasa
"Maksudnya loe mau jadi anak angkat papa Rangga juga?"
Naina menatap aneh Sasa yang senyum-senyum sendiri entah apa yang sedang di khayalkan oleh gadis itu.
"Ya enggaklah Nai, tapi jadi pendamping hidup Rama kelak.Kalau sampai itu terjadi gue pasti bakal mandi pake kembang tujuh rupa. Trus kita bakalan jadi saudara ipar,deh.Ah...membayangkannya saja dah bikin gue berbunga-bunga,Nai."
"Siapa yang berbunga-bunga?"
"Eh...?"
__ADS_1
Tbc