
Malam harinya setelah hampir seharian penuh diajak mama Sandra berbelanja. Kini Varell dan Rani sudah berada didalam kamar. Mereka langsung pulang ke Apartemen. Rani duduk bersender pada tumpukan bantal yang disenderkan di kepala ranjang. sedangkan Varell tiduran dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.
Rani terus memandangi photo usg bayi mereka, senyum terus tersungging diwajah cantiknya. Varell mendongakkan kepalanya dan terus menatap penuh cinta sang istri sambil terus mengelus lembut perut yang semakin membesar itu.
"Sayang, kalau sudah lihat anaknya pasti lupa deh sama suaminya."
Mendengar itu Rani langsung meletakkan photo usg tersebut dan menunduk menatap wajah suaminya yang tampak cemberut manja, sepertinya bayi besar itu sedang mencari perhatiannya.
"Iya iya, Ayah. Maafin bunda ya." Rani tersenyum manis sambil mengelus pipi suaminya.
Varell lalu merubah posisi memiringkan tubuhnya menghadap perut Rani dan mengecupnya beberapa kali sambil mengajak bicara bayinya yang masih betah didalam.
"Hallo jagoan Ayah, sedang apa diidalam?"
"Sedang bobo Ayah, nanti kalau aku bangun Ayah ajak main aku lagi ya!" Rani menjawab dengan suara yang dirubah seperti anak kecil. Varell pun tertawa melihat kelakuan Rani yang menggemaskan itu.
"Ayo tidur, sudah malam. bumil dilarang begadang." merapikan bantal-bantal dan merapikan posisi tidur istrinya agar lebih nyaman. ia pun merebahkan diri disebelahnya lalu merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukannya hingga akhirnya mereka terlelap.
‐--‐-------------
Pagi hari dimeja makan, sepasang suami istri sedang menikmati sarapan paginya.
"Sayang, lusa aku ada perjalanan bisnis ke Surabaya selama dua sampai tiga hari saja. Ngak lama kok sayang. Jadi nanti sore kita kerumah Papa. selama aku tidak ada kamu tinggal dirumah papa ya!"
"Kok mendadak sih mas?" menunduk lesu.
"Tidak sayang, perjalanan tersebut memang sudah direncanakan sejak dua minggu yang lalu. sudah jangan sedih gitu dong. nanti aku jadi ngak bisa ninggalin kamu." menghampiri Rani yang sudah berdiri lalu memeluknya erat mencium kening sang istri untuk menenangkannya.
"Iya mas, maafin Rani ya kalau terlalu manja." menelusupkan wajahnya didada bidang Varell.
"Sudah-sudah jangan nangis!" dedek, Ayah pergi kerja dulu ya. jangan nakal diperut Bunda!" mengelus dan menciumnya.
‐-------------
__ADS_1
Sorenya yang sudah disepakati, Rani dan Varell kerumah papa Tyo. Ia hendak menitipkan istri dan calon anaknya kepada kedua orangtuanya.Mama Sandra tentu saja sangat senang karena bisa menghabiskan waktu yang lama bersama menantu kesayangannya. Kedatangan mereka tentu saja disambut dengan penuh suka cita. Mama Sandra langsung menggiring Rani untuk menuju salah satu kamar. mertuanya itu sepertinya ingin mamerkan kamar baru yang telah dirubah menjadi ruang kamar bayi.
"ceklekk..... Lihatlah sayang, bagaimana menurutmu. Apa kamu suka Ran? ini akan menjadi kamar cucu mama nanti. Ayo sini mama mau kasih lihat pakaian-pakaian baby boy nanti." menarik tangan Rani dan berjalan mendekati ranjang. diatasnya telah berjejer beberapa potong pakaian bayi yang sangat lucu dan baru tadi siang mama Sandra membelinya.
"Mama....wow, ini semua mama yang mempersiapkan? terima kasih ya ma, hebat deh mamaku ini." bergelayut manja.
"Hei, malu dilihat istrimu Varell. sudah mau jadi bapak masih saja bersikap manja." Rani tersenyum melihat kemesraan kedua ibu dan anak itu. lalu Varell beralih mendekati istrinya yang terduduk di pinggir ranjan. ia lalu bersimpuh dan menggenggam tangan halus Rani.
"Sayang, aku tinggal sebentar ya. Doni dan yang lainnya mengajak bertemu. ada urusan juga sih sama si Doni. cuma sebentar sayang ngak sampai satu jam kok, janji." ✌
"Iya mas, ngak pa-pa. mas Varell pergilah, ada mama yang menemani Rani. tenang saja mas."
"Ya sudah, Ma.... titi Rani sebentar ya!"
"Kamu gimana sih Rell, istri sedang hamil besar masih aja keluyuran malam." mama Sandra mengomeli putranya.
"Ngak pa-pa ma, kasihan mas Varell juga kan memang ada keperluan dengan kak Doni." Mama Sandrapun akhirnya terdiam dan luluh oleh ucapan Rani.
"ck....yang sudah jadi bucin. ngak perduli apapun, dunia hanya milik berdua." mama Sandra berdecak melihat kebucinan sang putra.
"Hai, bro apa kabarnya nih calon papa muda? lama ngak muncul. maklum baru sibuk memanjakan sang bidadari hatinya."
Seperti biasa Doni pasti lebih ceriwis diantara ketiga sahabatnya.
"Ya wajib dong, kalau memanjakan istri itu.ngak usah nunggu sampai istri hamil dulu baru dimanja. setiap hari gue selalu memberi kemanjaan yang hakiki dong buat istri tercinta. memangnya kalian masih nganggur."
Menunjuk bagian bawah satu persatu sahabatnya.
" wah, Anjirr... niat banget nyindirnya sih loe. Eh Rell, inget jangan keseringan nengok anak loe. belum waktunya. ber-ba-ha-ya! ngerti kan loe?"
Doni dan Varell masih terus berdebat tentang hal yang tak berfaedah. sedangkan Rangga seperti biasa hanya menyimak celotehan dari kedua sahabatnya yang semakin tak jelas dan tak penting itu.
__ADS_1
"Iya, ngerti. gue juga udah konsultasi kok sama dokter. ah...padahal ya, bercinta saat istri hamil itu lebih....wow!. kalian ngak akan tahu deh rasanya. hahaha"
"Nah sebentar lagi baru deh gue geber biar gampang nanti anak gue brojolnya. iya ngak iya ngak?" mengedipkan matanya.
Rangga hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd keduanya.
"Ish, ini lagi si bule depok. asik bener sampe ngak perduli sama kita. lagi asik chattingan sama siapa sih loe?" Doni mencoba merebut ponsel Zack. tapi langsung ditepisnya.
"Eits....sorry bro, yang ini kalian ngak boleh tahu dulu. gue masih usaha nih. Terutama elo ngga?"
"Memangnya gue kenapa?" Rangga mengernyitkan keningnya.
"Wah si Zack punya rahasia nih, halah tumben pake rahasia-rahasiaan segala loe?" Doni menimpali.
"Gebetan baru toh, eh tapi kok lu bilang Rangga yang paling ngak boleh tahu? maksud loe apa Zack?" Varell jadi ikutan kepo
"Ada deh....tunggu jadiannya ya!"
Zack tersenyum menyeringai pada ketiga sahabatnya.
Sedangkan Rangga mengernyitkan dahinya. sebenarnya ia juga kepo, penasaran siapa gadis yang dimaksud oleh Zack tersebut?
"Sebenarnya siapa gadis yang dimaksud Zack itu? Apa jangan-jangan? Ah....sudahlah, untuk apa aku ikut-ikutan kepo seperti mereka."
Dan malam ini mereka menghabiskan waktu dengan bercanda tawa, saling meledek dan menjahili satu sama lain.
Apalagi sekarang kegesrekkan mereka semakin menjadi, ketika membahas tentang Varell yang memang telah berubah tidak lagi seperti Varell yang dingin, kaku dan arogan. Sekarang Varell telah menjadi sosok yang humoris, ceria dan mesum tentunya.
"So...Kapan nih kita dapat traktirannya Zack?" Doni mengedip kan matanya.
"Secepatnya?" Melirik Rangga.
Tbc
__ADS_1