
Sesuai yang telah disepakati, Rangga dan Varell. kini mereka bertemu di sebuah Restauran untuk dinner.
Varell datang bersama Rani sedangkan Rangga mengajak Maima. Sebenarnya gadis itu tidak begitu bersemangat untuk ikut, tapi demi kebaikan dan kebahagiaan sang sahabat akhirnya iapun mengenyampingkan perasaan dirinya sendiri.
"Mai, ada apa nih. kok tumben kamu dan kak Rangga jalan bareng? Rani sedikit heran sejak kapan mereka dekat.
"Ehem....Kami sedang menjalin hubungan, Ran. iya kan sayang?"
Rangga menyentuh punggung tangan Maima yang sedang berada diatas meja. Gadis itu tercekat merasakan sentuhan laki-laki yang disukainya itu.
"Wah, benarkah? Selamat ya Maima dan kak Rangga." Rani tersenyum sumringah pada keduanya.
Varell hanya memperhatikan Rangga dan Maima. terlihat jelas gadis itu agak kikuk dan wajahnya tak memancarkan kebahagiaan.
"I....iya Ran, terima kasih ya."
Tertunduk dan berpura-pura menyentuh ponselnya. Rangga juga tak luput menangkap kegundahan Maima.
"Oh, Jadi karena ini alasanmu mengajak kami dinner, untuk pamer pacar barumu." Varell sepertia biasa akan selalu bersikap dingin dengan tatapan menyelidik.
"Enggak gitu juga Rell. sebenarnya ya selain itu juga, gue mau menyelesaikan masalah diantara kita dan mengakhiri kesalah fahaman yang selama ini membuat hubungan pertemanan kita tidak baik.
"Jadi loe jangan berpikir macam-macam lagi tentang Rani dan gue Rell. Kami ngak pernah ada hubungan apa apun, murni aku hanya menganggap Rani seperti seorang adik saja. cuma itu."
"Lagipula aku sudah memiliki seseorang yang telah mengisi kekosongan hatiku, dialah Maima. Terima kasih ya sayang, kamu juga mau mengerti."
Rangga tersenyum hangat pada Maima. gadis itupun juga membalas dengan balik tersenyum manis.
"Baiklah kak, kali ini aku akan mengikuti permainanmu . setelah ini aku tidak akan mau berhubungan lagi denganmu, apapun itu. lebih baik menjauh darimu kak. berdekatan denganmu membuat hatiku perih kak."
Ungkapan Maima dalam hati. Wajahnya tersenyum ceria namun didalam hatinya begitu terasa perih. ya, cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"Jadi loe percaya kan Rell, jangan salah faham lagi terhadap kami. aku juga tidak ingin menyakiti kekasihku." menggenggam tangan Maima.
Varell pun akhirnya mau menerima dan mempercayai apa yang telah diucapkan Rangga. " Oke, gue percaya. dan gue harap yang loe katakan itu benar adanya. Maafin gue juga yang terlalu terbawa emosi!"
"Kalau gitu sekarang sudah clear kan? oke, sekarang kita dah sobatan lagi kan bro? " mengajak bersalaman dan sambut pula oleh Varell.
Rani dan Maima pun tersenyum bahagia, akhirnya bersahabatan kedua lelaki tampan itu telah lembali membaik.
"Sudah selasai kan ngga? kita mau pulang, kasihan Rani sudah lelah." bangkit dari duduknya dan meraih tangan Rani.
"Oh iya Rell, gue juga masih ada urusan lainnya." ikut berdiri lalu mereka beriringan keluar dari Restauran menuju ke mobil masing-masing.
"Selamat istirahat ya Ran, yuk Rell gue duluan!" Rangga berpamitan telebih dahulu .
__ADS_1
"Duluan ya Rani, nanti aku telpon kamu." melangkah gontai menuju ke pintu mobil.
"Iya kak, Mai terima kasih. Mai, kamu kenapa? wajahmu kok pucat sekali?" Rani menatap wajah Maima yang sepertinya dalam keadaan tidak baik.
"Eh, iya ngak apa-apa Ran, cuma agak pusing sedikit." memijat pelipisnya.
"Pusing?" Varell dan Rani malah menatap Rangga penuh selidik. Ditatap seperti itu Rangga pun mengerti apa yang ada didalam pikiran keduanya.
"Hei, kenapa kalian menatapku seperti itu? jangan berpikiran macam-macam ya. gue ngak sebrengsek itu.
"Ya sudah, kamu jaga kesehatanmu ya Mai. Kak Rangga titip Maima ya!" Rangga pun hanya mengangguk.
Sepanjang perjalanan Maima hanya terdiam, ia merasa tidak enak badan. Rangga tak berani mengajak gadis itu mengobrol hanya fokus menyetir.
"Stop didepan sana kak!" Rangga pun langsung menghentikan laju mobilnya.lalu menoleh kearah gadis disampingnya.
"Kenapa Mai, apakah kamu sakit?" mencoba menyentuh dahi Maima, namun ditepis oleh gadis itu.
"eum....tidak apa-apa kak, aku cuma mau kerumah temanku ada urusan. itu masuk di jalan sana. terima kasih ya kak." tanpa berlama-lama iapun langsung turun dari mobil Rangga.
"Tapi Mai, biar aku antar sampai kedalam ya!" namun perkataan Rangga tak digubrisnya. gadis itu terus melangkah dan hanya melambaikan tangannya saja.
"Apa dia marah ya ? ish...Rangga, apa yang telah kau lakukan sih?" kesal pada dirinya sendiri.
Sementara itu diApartemen Varell. Rani telah bersiap-siap untuk tidur. ia melihat suaminya duduk bersandar pada kepala ranjang sambil mengutak atik ponselnya. Ranipun naik keatas kasur dan merebahkan tubuhnya disebelah sang suami.
"Mas, aku boleh tanya sesuatu boleh?" Rani membalikkan posisi miring menghadap suaminya.
"hmm...mau tanya soal apa?" Varell meletakkan ponselnya di meja nakas dan mengalihkan perhatiannya pada Rani.
Agak ragu Rani ingin mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, tapi ia sungguh penasaran. akhirnya iapun mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"itu mas, soal kak Rangga." Rani langsung mengalihkan pandangannya ketika Varell menatapnya tajam.
"Untuk apa kamu tanya-tanya soal Rangga, apa kamu...?" Bertanya penuh curiga.
Rani yang mengerti arti dari tatapan dan pertanyaan yang terucap dari suaminya itu langsung mengklarifikasinya.
"Ini bukan seperti yang mas pikirkan, dengarkan Rani dulu ya mas!" Rani mengelus dada sang suami untuk menenangkannya.
"Ini soal Maima, Rani khawatir padanya mas. Apa kak Rangga benar-benar menyukainya atau hanya mempermainkannya. Aneh aja gitu, mereka kan belum lama kenal dan juga rasanya tidak mungkin dalam waktu singkat tiba-tiba saja mereka berpacaran?"
"Loh, memangnya kenapa? itu mungkin saja bukan. Jangan khawatir sayang, Rangga itu pria baik-baik dan tak akan mungkin macam-macam sama temanmu itu, siapa tadi namanya...?"
__ADS_1
"Maima mas....namanya Maima. bukan apa-apa mas, kasihan Maima. dia itu tidak punya sanak saudara di kota besar ini. Dan sejak kecil hidupnya selalu susah. Kurang kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. gimana ya mas, apa mas Varell mau bantu Rani cari tahu?".
"Maksudnya?" mengernyitkan dahinya.
"Itu, maukah mas Varell menanyakan padanya tentang keseriusannya pada Maima, jika hanya main-main saja Rani harap kak Rangga segera menjauhi Maima, Rani ngak mau Maima patah hati dan kecewa mas. mau ya mas tolong...!"
"Baiklah, aku akan bicara pada Rangga. Sudah, ngak usah berpikir macam-macam. kamu harus rileks dan jangan stress. ingat kandunganmu. ayo, sekarang tidur sudah larut!"
"Terima kasih ya mas, cup!" mengecup sekilas bibir suaminya. Varell sedikit terlonjak kaget mendapati Rani yang berani menciumnya terlebih dahulu. bukan Rani yang biasanya. lalu ia pun tersenyum nakal dan tanpa aba-aba langsung menarik dan merengkuhnya erat masuk kedalam pelukannya. lalu mulai merapatka kembali bibir mereka.
Waktu bergulir begitu cepat tak terasa kini kandungan Rani telah memasuki bulan ke tujuh.
Suasana dirumah keluarga Darmanto tampak sibuk kembali. Ya, karena mereka akan mengadakan acara mitoni tujuh bulanan calon cucu pertama keluarga Darmanto. Rani kini suadah berada dikediaman mertuanya sejak kemarin dan rencananya acara tersebut akan diadakan esok lusa.
"Mai, lusa kamu datang ya ke acara mitoni tujuh bulanan Rani. emm...datang sama kak Rangga ya!"
"Iya Ran, beres. aku pasti datang kok."
Sementara itu dikantor, Varell pun melakukan hal yang sama. ia menelpon Rangga untuk mengundangnya juga.
"Ngga, besok lusa datang ya ke acara mitoni calon anak gue, jangan lupa ajak Rani. gue tunggu!" grekk.... "
"Iya, tapi Rell itu soal Ma..... tut tut tut!" belum juga menjawab, Varell telah menutup panggilannya.
"Ish....si Varell ini, selalu saja seenaknya sendiri." Rangga pun hanya berdecak kesal.
‐---------------
Akhirnya hari H pun tiba, suasana kediaman keluarga Darmanto telah ramai para tamu undangan. Rani yang terus memandang arah pintu masuk, tak sabar menunggu kedatangan Maima. sementara itu Varell menyambut para tamu diteras depan.
"Hai, bro selamat ya." Rangga tiba dan langsung bersalaman dan mengucapkan selamat pada sahabatnya itu.
Namun yang membuat Varell terkejut dan bertanya-tanya adalah mengapa Rangga datang bersama wanita lain bukan Maima.
Tanpa disadari ternyata ada seorang gadis yang melihat itu semua. ya gadis itu ternyata Maima. kemudian ia memutuskan berbalik untuk pergi, namun karena terburu-buru dan tak memperhatikan ada seseorang dibelakangnya otomatis merekapun bertabrakan. Maima terlonjak kaget dan berteriak ketika akan terjatuh, namun aebuah lengan kekar menahan tubuhnya.
"Akhh....!"
semua orang yang berada disekitarnya langsung terfokus pada Maima dan laki-laki itu. begitu juga dengan Varell dan Rangga. mereka langsung menoleh kebelakang dan terbelalak kaget.
"Maima...."
Tbc
__ADS_1