Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
20. Tiga pria tampan


__ADS_3

Warning 21+


Ciuman bertubi-tubi mendarat diseluruh permukaan wajah cantik Rani, dari mulai kening, pipi yang mulus merona, mata lalu terakhir pada bibir cherry yang telah menjadi candu bagi Varell. Mata mereka saling menatap penuh cinta dan semakin menggelora.


"Mas....." Rani pasrah ketika daster yang dikenakannya telah lolos dari tubuhnya. sekarang tereksposlahh keindahan ciptaan tuhan. Tubuh Rani menegang, Varell merengkuh pinggangnya dan mengelus punggungnya dan tangan kekar itupun dengan mudahnya melepas kaitan bra lalu menariknya.Refleks Rani menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dadanya yang sudah tak tertutupi apapun. ia sangat malu.


"Jangan ditutup sayang." meraih kedua tangan lentik itu dan menciumnya. sesaat Varell begitu terkesima pada dua gunung kembar yang telah berubah semakin indah, padat berisi dan ujungnya yang kecil telah keras. tanpa basa-basi ia langsung menyesapnya dan meremasnya dengan gerakan teratur. (koyo senam wae) 🤭


Tubuh mungil itu telah direbahkannya dan Varellpun kembali beraksi, ia mengelus dan mencium perut buncit sang istri. hingga aemakin turun kebawah menarik turunkan ** yang merupakan kain terakhir yang menutupi area v sang istri. Rani menahan nafasnya merasakan sesuatu menyentuh miliknya dibawah sana. ada rasa geliyer aneh namun nikmat melingkupi area tersebut.


"Ini sudah basah sayang, sekarang ya?" Rani mengangguk pasrah.


Varell pun langsung mengarahkan senjatanya terarah pada area v Rani....


"Mas....pelan-pelan, ada baby!" Rani menahan pinggang Varell agar tak menindih perutnya.


"Iya sayang, aku pasti akan.... Jlebb... Akhh!"


"Akhh, mas Varell." ******* demi desahanpun saling bersahutan menggema didalam kamar dengan cahaya temaram itu. Varell melakukannya dengan posisi yang aman, sehingga Ranipun merasa nyaman dan bisa menikmati percintaan panas mereka. Varell mengakhirinya dengan mencium perut dan kening Rani lalu membawa tubuh mungil itu kedalam pelukan hangatnya.


 


"Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu. Pasangan suami istri yang masih terlelap saling berpelukan.Rani mengerjapkan matanya. sayup-sayup ia mendengar suara ketukan pintu. ia melepaskan lengan kekar Varell lalu turun dari atas ranjang.memungut daster nya yang tergeletak dilantai. dengan cepat ia memakainya dan langsung menuju pintu untuk membukanya.


"Taraa....lama sekali sih kak buka pintunya?" Rani terlonjak kaget karena kedatangan Angela yang selalu saja datang secara tiba-tiba.


"Angela, dek pagi-pagi begini kamu datang sama siapa?" Rani celingak celinguk.


"Pagi? ya ampun kak Rani. ini bukan pagi lagi, tapi sudah menjelang siang loh. kak Rani baru bangun ya, hayo habis ngapain sampai bangun kesiangan? eh, kakak sekarang pindah kekamar bawah toh? trus kak Varell..." Angela langsung menerobos masuk kekamar. Rani jadi salah tingkah karena keadaan kamar yang berantakan dan Varell yang masih tidur.


"Dek ....tunggu!" Rani ingin menghalaunya masuk, akan tetapi terlambat gadis telah menyelonong masuk.


"Eh, kak Varell juga tidur disini. Kak...kak Varell ayo bangun!" Angela ingin menarik selimut yang masih menutup rapat tubuh kekarnya yang masih dalam keadaan polos. Rani yang mengetahui itu langsung mencegahnya.


"Jangan dek...!" Rani menarik lengan gadis itu dan mengajaknya untuk keluar kamar.


"sebentar ya dek, kamu tunggu kakak didapur ya!" Angela pun menurutinya. sebelumnya ia membangunkan sang suami terlebih dahulu.


"Mas, mas Varell bangun!" mengguncang-guncang punggung suaminya.Varell menyipitkan matanya mulai tersadar dari tidur lelapnya dan merenggangkan otot-ototnya.


"Huahh....Pagi sayang, jam berapa ini. aku masih ngantuk sayang ayo kita tidur lagi!" merengkuh tubuh Rani yang masih terduduk ditepi ranjang hingga kembali terjerembab jatuh kepelukkannya.


"Mas, ini sudah jam 10 pagi. itu ada Angela juga." Mendengar keberadaan sang adik mata Varell langsung terbelalak.


"Haa, Angela....ish ngapain tu anak pagi-pagi selalu saja mendadak muncul?" Varell mengacak-acak rambutnya sambil menggerutu kesal.


"Ya sudah, sana mas mandi! Rani mau masak sarapan dulu." eh....bukan sarapan sih, tapi makan siang?." batinnya, merasa malu.


 

__ADS_1


Hidangan telah tertata rapi dimeja makan. Rani menghampiri Angela yang sedang asik dengan ponselnya.


"Dek, ayo kita makan.kakak mau mandi dulu. bau asem nih." Rani terkekeh sambil mengendus bawah lengannya.


"Angela mana?" Varell yang baru akan keluar dari kamar berpaspasan dengan Rani.


"Menunggu di meja makan mas, sebentar ya mas.Rani mau bersih-bersih dulu."


"Iya sayang, cup." mencuri cium bibir istrinya.


"ih, mas Rani belum mandi." mengerucutkan bibirnya.


Mereka makan bersama sambil sesekali Varell mengomeli adik perempuannya yang sangat manja itu.


"Kamu ini sukanya mengganggu saja dek, kakak kan baru sibuk. Weekend gini kan waktunya bersantai ria, eh kamu malah nongol tiba-tiba." sambil mengunyah makanannya.


"Ck...sibuk apa? sibuk mengerjai kak Rani ya.awas loh kak jangan kebablasan kayak kemarin sampai kak Rani masuk rumah sakit."


Varell hanya diam saja tidak membalas Sindiran sang adik karena memang itu benar adanya. Dan Ranipun hanya terdiam menatap suaminya yang tertunduk lesu.


"Kak, besok lusa temenin aku ya kerumah tante Mona. Katty kan ulang tahun, mama menyuruhku bantu-bantu mempersiapkan pestanya."


"Lusa ngak bisa dek, kakak ada meeting pagi siangnya mau mengontrol proyek pembangunan gedung perkantoran di Bandung."


"Yah, terus yang nganter aku siapa dong kak? mama sama papa ngak ngizinin aku bawa mobil sendiri ke Bogor kak." cemberut


"Nanti kakak minta tolong seseorang untuk mengantar dan menemanimu kesana." menyesap secangkir kopi yang baru saja diletakkan diatas meja. Rani hanya memperhatikan kedua kakak beradik itu.


"Siapa kak?"


"Enggak, udah bilang sama mama kalau mau kesini kok.ya sudah mending jalan sama temen-temen aja deh.bye bye kak Rani...muach!"


"Awas loh dek jangan keluyuran nanti mama marah!"


"Iya, nanti aku bilang sama mama." melambaikan tangannya.


Tinggalah sepasang suami istri yang tampak saling terdiam. masih ada rasa canggung mengingat kegiatan panas mereka tadi malam.Rani yang terus ditatap oleh Varellpun tertunduk malu pipinya sudah bersemu merah.


"Mas...?"


"hmm....ada apa sayang? mau nambah lagi kah? ayuk, mumpung masih siang!" tersenyum penuh arti.


"Hah...nambah!?"


-------------------


 


Seorang gadis manis baru saja terlihat keluar dari sebuah gang kecil. ia telah memakai seragam kerjanya dan tas selempang yang tersampir di pundaknya. langkahnya terhenti ketika ada sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan. yang mana ia mengenali siapa pemiliknya.


"Hai , Maima." melambaikan tangannya lalu keluar menghampiri gadis itu.

__ADS_1


"Ayo, masuk. aku antar ya!" membukakan pintu mobilnya. Maima hanya mengernyit bingung.


"Kak Rangga mau apa kesini?" masih terdiam


"Ayolah, masuk saja. aku antar sampai tujuan!" menarik lengan gadis itu dan mendorongnya untuk masuk dan duduk si kursi depan.


Mobil itupun kembali bergerak menelusuri jalan yang masih tampak lenggang. Hening sejak.


"Ehemm...Mai, aku boleh bertanya sesuatu?" Rangga membuka pembicaraan.


"Iya, tentu saja boleh dong kak." Kak Rangga mau ngomong apa ya, kok aku jadi deg degan begini?


"Kamu tahu alasan Rani bekerja? apa dia pernah menceritakan sesuatu gitu sama kamu?"


"Maaf kak, bukan kapasitasku untuk memberitahu masalah Rani. baik kak Rangga atau siapapun.Kenapa kakak tidak bertanya langsung saja sama Rani?." Maima menolak dengan halus untuk tidak menjawab pertanyaan pribadi yang menyangkut sang sahabat.


"Oh begitu, baiklah aku tidak akan bertanya lagi. Dia juga tidak akan mau menjawabnya. ya sudah tidak apa-apa." menoleh kesamping dan tersenyum.


"I..iya kak." salah tingkah karena diberi senyuman yang membuat hatinya meleleh.


"aku kira dia mau tanya apa, ternyata soal Rani. ah, aku aku sudah kege'eran saja deh.jadi malu."


Akhirnya mereka sampai dan berhenti didepan Restauran. Maima langsung turun dan berlari ketika melihat Rani yang juga baru datang dan hendak masuk.


"Raaniii... tunggu!" Ranipun menoleh kebelakang dan mendapati sahabatnya itu sedang berlari kecil menghampirinya. ia juga melihat Rangga yang juga berjalan mengekori Maima.


"Hai Ran, apa kabar?"


"Alhamdulillah baik kak. Maaf kak, kami masuk duluan ya." Ranipun langsung menarik tangan Maima dan melangkah pergi meninggalkan Rangga yang masih berdiri terpaku.


--‐-----------


Menjelang pukul 10, Restauran mulai ramai pengunjung. Ada dua orang laki-laki tampan memasuki Restauran. mereka duduk disalah satu meja. berbincang sambil menunggu pesanannya.


"Kabarnya menu disini sangat enak, suasananya juga lumayan nyaman. Bagaimana tuan Luis apakah anda suka?"


"Ya, benar tuan Varell, Restauran ini terlihat begitu berkelas." ya mereka adalah Luis dan Varell yang akan mengadakan meeting di Restauran tersebut.


"Ran, tolong kamu bersihkan genangan air dari gelas yang tumpah tadi!"


"Baik pak, Rani pun mulai mengelap meja yang basah tersebut lalu mengepel lantai yang ikut tergenangi air juga.


"Hati-hati Ran, nanti kamu terpeleset!"


"Tidak apa-apa mas, maaf." Rangga langsung menghampirinya, tanpa disadari ada dua tatapan mata tajam yang melihat interaksi mereka dengan hati yang serasa panas.


"RANI...!!"


"RANI...!!"


Ketiga pria tampan itupun saling menatap dengan perasaan dihati maaing-masing.

__ADS_1


"Mas Varell..."


Tbc


__ADS_2