
Maima memalingkan pandangannya dari Rangga, agar sang suami tidak melihat mimik wajahnya yang sudah memerah karena menahan tawanya.
"Om, tante. Kalau begitu aku pamit pulang ya.biasa tan, mama sudah bingung putra tampannya belum pulang juga." nyengir memamerkan deretan gigi putihnya.
"Oh iya, terima kasih ya Don sudah membantu Rangga!" Bu Herlina menepuk punggung Doni.
"Iya tante sama-sama. gue balik dulu ya Ngga, besok gue pasti dateng lagi." Rangga menjawab hanya mengangguk karena dirinya masih fokus dengan sang istri tercinta.
"huh....dasar bucin akut!"
Setelah Doni keluar, suasana ruangan kembali hening. pak Jatmiko dan bu Herlina berasa bagai nyamuk menyaksikan sejoli yang tengah melepas rindu.
"Ehemm....sayang, ayo kita pulang! biar nanti papa yang menemani Rangga."
Bu Herlina mendekat dan mengusap kepala Maima dan tersenyum menyeringai pada sang putra.
"Lah ma, ngak mau ah. Rangga maunya Maima yang nemenin, bukan papa." memasang muka cemberutnya.
Maima melihat wajah sendu suaminya pun jadi tak tega.
"Ngak apa-apa ma, malam ini biar aku saja yang jaga mas Rangga. kan Maima istrinya mas Rangga ma."
"Iya, mama tahu sayang. Tapi kamu juga kan harus banyak istirahat.Ingat kan apa yang dokter katakan tadi? Kalau kamu disini, bisa-bisa malah ngak bisa istirahat diganggu suamimu terus. pulang sama mama saja ya....ya?"
Melihat gelagat Rangga yang sudah memasang tampang memelas membuat bu Herlina tak tahan ingin semakin menjahili putra sulungnya itu.
"Kenapa wajahmu di tekuk-tekuk gitu? seperti duit lecek aja. Ayo Mai, kita pulang sekarang!"
"Pa, jagain Rangga baik-baik ya!"
Pak Jatmiko pun mengacungkan jempolnya sambil menahan tawanya juga.
"Tidakkk....Maima, please. Jangan tinggalkan masmu sendiri sayang! Mas ngak kuat kalau kalau sampai tak ada kamu di sisi mas!"
Bu Herlina dan pak Jatmiko mengernyit dan saling pandang lalu berucap.
"Lebayy!!"
Rangga tak perduli akan sindiran kedua orang tuanya. yang dia pikirkan saat ini adalah tak ingin di tinggalkan oleh sang istri tercinta. ingin selalu berdekatan selalu. bucin mood on?
"Ma, aku mohon. boleh ya? kasihan mas Rangga ma." Maima tak tega juga jika harus meninggalkan sang suami dalam keadaan sakit.
Akhirnya keduanya pun mengalah dan mengabulkan keinginan Maima yang bersikeras ingin menemani suaminya.
"Baiklah sayang, tapi ingat ya jangan terlalu lelah. Dan untuk kamu Rangga, jangan macam-macam ya kamu sama menantu dan cucu mama! awas kalau sampai kenapa-napa. mama sunatin lagi kamu nanti?"
Glekk
"Mama ini gimana sih, kalau nanti Rangga disunantin lagi. ngak bisa dong mau kasih mama cucu lagi? dan kasihan Maima juga kan ma, jadi tidak bisa merasakan surgawi dunia." Melirik dan mengedipkan matanya genit pada sang istri.
__ADS_1
"Iya iya deh, mama ngaku kalah. sudah sana selamat bermesraan. awas kalau sampai kebablasan!"
"Kebablasan juga ngak pa pa kan ma, sama istri sendiri juga. iya ngak sayang?" mengelus pipi Maima dengan penuh harap.
"Halah....mulai deh, yuk pa kita pulang saja! dari pada liat mereka. merinding mama?" Bu Herlina lalu beranjak dan menarik tangan pak Jatmiko untuk keluar.
"Merinding? memang kami setan apa? mama ini sekate-kate."
Rangga kesal, namun hatinya bersorak gembira karena akhirnya para pengganggu telah pergi semua.
Setelah itu suasana hening sejenak, tiba-tiba Rangga langsung menarik tangan Maima dan merebahkan tubuh sang istri kesampingnya.
"Mas mau apa? nanti bisa dk marahi suster loh. masa' aku tidur disini sih mas ? kan dilarang, itu lihat!" Maima menunjuk tulisan tentang peraturan bahwa tidak boleh tidur di ranjang pasien.
Maima baru hendak akan beranjak bangun, namun langsung di tahan oleh Rangga.
"Itu bagi orang lain, kalau untuk kita sih pengecualian sayang. no problem. oleh-oleh wae kok. ayo sudah sini, aku mau tidur sambil peluk kamu!"
Kemudian Rangga merengkuh kembali pinggang Maima agar lebih merapat dan memeluk erat tubuh mungil sang istri, menikmati kehangatan bersama.Sampai bersama menuju ke alam mimpi.
---‐------------
Di lain tempat, tepatnya di kediaman keluarga Darmanto. Varell baru saja tiba , ia langsung menuju kekamarnya.
Kriettt
Melangkah perlahan dan sangat hati-hati, takut membangunkan istrinya yang tengah terlelap.
"Mas Varell, jam berapa ini?" Rani mengedip-ngedipkan matanya sambil melihat kerah jam dinding.
"Sayang, kenapa bangun. Maaf ya mas terlambat pulang, tadi ada urusan yang sangat genting. Jadi ya suamimu ini akhirnya harus turun tangan juga."
"Urusan apa mas? tidak terjadi apa-apa kan? bagaimana pertemuan kalian tadi?"
Varell bingung harus bercerita yang sebenarnya apa tidak? dia tidak akan bisa menyembunyikannya, sudah pasti istrinya akan mencari tahu sendiri dengan menghubungi Maima.
"emm....bagakmana ya?" Varell akhirnya ingin mengatakan semua yang telah terjadi.
"Apa sih mas? ayo cepat ceritakan, awas ya jangan sampai ada yang disembunyikan!"
"Iya iya sayang, suamimu ini mana berani melakukannya."
Bisa rugi berkali-kali lipat ia kalau sampai istrinya ngambek.
"Baiklah sayang, begini. Tadi pertemuan kami tidak berjalan lancar. Sejak awal Zack selalu menebar permusuhan dan mengumbar amarahnya."
"Sampai Rangga tak kuasa juga menahan gejolak emosinya. ya akhirnya terjadilah baku hantam diantara mereka berdua. Yang lebih membuat kami terkejut, Zack sampai melukai Rangga dengan memukul kepalanya dengan sebuah botol."
"Lalu, bagaimana keadaan kak Rangga sekarang?" Rani langsung memotong perkataan sang suami, padahal belum juga selesai menceritakan kronologi kejadiannya.
__ADS_1
Varell kembali menarik nafas panjang lalu melanjutkan ceritanya.
"Karena suasana semakin tak terkendali, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah. Doni membawa Rangga ke rumah sakit, sedangkan aku mengantarkan Zack pulang ke apartemennya."
"Sudah sayang, segitu dulu ya ceriitanya. Mas mu ini sangat lelah dan mengantuk. lihatlah sudah jam 2 pagi!" sambil terus menguap karena rasa kantuknya yang sudah tak tertahankan.
Melihat hal itu, Rani jadi tak tega. suaminya pasti sangat kelelahan. Apalagi mengurusi si Zack yang memang selalu berbuat nekat kalau menyangkut tentang Maima.
"Ya sudah, mas istirahatlah! tapi bersih-bersih dulu ya mas! tidak usah mandi , nanti mas bisa masuk angin!" Rani kemudian melangkah menuju ke lemari dan mengambil sehelai handuk lalu memberikannya pada sang suami.
"Siap nyonya boss!Mandinya nanti sama-sama saja ya sayang, setelah kita...."
"Rani menyuruh mas tak mandi bukan karena nanti akan mengajak mas mandi bareng loh? ck, dasar otak mesum?"
Setelah meletakkan baju ganti untuk Varell, kenudian Rani turun kebawah menuju ke dapur untuk membuatkan secangkir teh hangat untuk sang suami.
Varell melihat secangkir teh hangat diatas meja nakas. ia pun tersenyum senang, karena sang istri begitu perhatian. setelah mengganti bajunya, ia lalu meminum teh hangat itu sampai tandas tak tersisa. Kemudian ia perlahan naik ke atas tempat tidur, lalu memeluk sang istri.
"Terima kasih sayang!"
cup
Mengecup kening Rani dan tak sampai beberapa menit, Varell pun sudah tertidur lelap.
Pagi pun menjelang. di sebuah kamar. dua insan masih setia di dalam dunia mimpi.
Akan tetapi, Maima merasakan ada sesuatu yang tengah bergerak menjalar di tubuhnya. tepatnya di dua aset penting untuk baby nya nanti.
Tangan itu semakin bergerak aktif, akan tetapi ternyata bukan hanya tangan saja. Bahkan Maimai bisa merasakan sesuatu yang basah tengah menyesap area P*****nya, hingga terasa basah dan menimbulkan rasa geli serta nikmat.
"Mass....ahh, stop mas nanti ada yang masuk dan melihat!" Maima semakin menggeliat tak tenang, mata nya sesekali melihat ke arah pintu.
"Tenanglah sayang, mas mu ini lagi pingin banget. Kangen sama milikmu yang sudah bikin mas semakin kecanduan sayang."
"Iya, tapi mas nanti kalau ada perawat yang datang bagaimana? lagi pula mas kan juga masih sakit kan?nanti saja ya kalau sudah sembuh!"
Maima mencoba menghentikan kegiatan menyenangkan sang suami sebelum kebablasan, bisa malu kalau sampai ketahuan salah seorang perawat nanti.
Suara-suara aneh pun mulai terdengar semakin intens, Rangga begitu bersemangat memainkan 2 buah suquisy kenyal favoritnya. Maima hanya pasrah menerima dan merasakan perbuatan suami mesumnya itu.
tok tok tok
"Permisi tu...an?"
"Ups, maaf. silahkan di lanjutkan!"
Brakkk
__ADS_1
Tbc