Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
61.Masih belum bisa menerima kenyataan


__ADS_3

Rangga mengerucutkan bibirnya sambil memasang pupie eyes.


"Ayo sayang, cepetan aku sudah tidak tahan! tu lihat! adikku sudah bangun?" Mengarahkan pandangannya kebawah.


Brushh


"Aduh mas,itu kapan bangunnya?"


Matanya terbelalak melihat sesuatu yang terlihat menonjol di balik celana piyama yang dikenakan sang suami.


"Kok malah bengong sih? ayo cepat bantu mas membukanya, agar dia bisa bebas dan lepas untuk mencari sarangnya sayang." Meraih tangan Maima dan mengarahkannya pada adik kecilnya yang sepertinya telah membesar dalam sekejap saja.🤭


Brush


Wajah Maima semakin merah merekah karena malu. Ia sanpai bersusah payah untuk menelan salivanya. Bukannya tak tertarik dengan godaan dari bibir manis dan adik kecilnya dari sang suami.


Akan tetapi, ia masih bisa menahan segala gejolak dalam dirinya. Mengingat saat ini mereka berada di tempat yang bukan semestinya untuk melakukan ritual suami istri yang pastinya sayang untuk di lewatkan.


"Sayang....ayolah, waktu kita tak banyak sebelum mereka kembali! apa kau mau mereka menangkap basah kita lagi, yang sedang berolahraga pagi?" mengedipkan matanya.


Akhirnya Maima pun menurut san pasrah akan apa yang diinginkan oleh suami manja dan mesumya itu.


Perlahan ia menurunkan sepaket bawahan yang masih di kenakan oleh sang suami. Posisinya saat ini Rangga duduk diatas dudukan kloset yang tertutup.Sedangkan Maima berdiri di hadapan Rangga.


Perlahan Maima mulai menanggalkan satu persatu atribut yang melekat di tubuhnya. Karena gerakan Maima terlalu lamban, dengan tak sabar Rangga membantu sang istri melucutinya tanpa sisa.


"Ayo, duduk di sini sayang!" Setelah keduanya sama-sama polos, Rangga membimbing sang istri untuk duduk di pangkuannya. Rangga mulai mengeksplor titik-titik tersensitif pada tubuh Maima, merasa telah cukup memancing h****t sang istri. Perlahan Rangga mulai memasukkan senjata miliknya pada sasaran tembak.


Jlebb


"Akh....m..***!?" Maima melengguh dan melingkarkan tangannya ke leher Rangga. memeluknya erat, menahan rasa yang begitu mendera dibawah sana.


"Stttt, kecilkan suaramu sayang, kamar mandi ini tidak kedap suara!" Rangga berbisik pelan.


"Mas, ini lalu bagaimana?"


"Apa?Oh....iya, sekarang bergeraklah sayang. mas bantu!"


"Aduhh, mass?"


Rangga menghentikkan sejenak gerakannya, menatap wajah sayu Maima yang tengah berkabut gairah.


"Kenapa sayang,hemm?"


"Enak mas."


"hahahah.... !" Rangga tertawa mendengar jawaban absurd istrinya yang tampak semakin menggemaskan.


 


Drrrttt drrrtttt drrrrttt


"Ya, Hallo. Ada apa Rell?"


"Gue sekarang ada di depan Rumah sakit , sama Rani. cepetan loe kesini!"


"Iya iya boss, bentar. ini gue juga lagi sama tante Herlina, baru di kantin Rumah Sakit."


"Lah, ngapain loe sama tante Herlina di kantin? si Rangga siapa yang nemenin?"


"Bini nya lah Rell, siapa lagi. maka dari itu, gue sama tante Herlina di usir sama tu si bucin. Mau mandi katanya, padahal sih paling pingin minta jatah? hahaha"


"Eh, maaf ya tante."

__ADS_1


"*Ck, elo Don. kebiasaan aja kalo ngomong ngak liat sikon. ya udah, cepwtan jemput gue ke depan!"


"Oke, bossku*!"


Setelah itu, Doni pamit pada bu Herlina menuju kedepan Rumah Sakit untuk bertemu Varell dan Rani. Bu Herlina pun memutuskan untuk ikut saja, dari pada kembali sendiri ke ruang perawatan Rangga bisa-bisa ia akan melihat lagi hal yang iya iya, yang sedang di lakukan oleh anak dan menantunya.


"Tante ikut kamu aja deh Don."


"Loh, kenapa memangnya tan. ngak pa pa, biar Doni aja yang jemput Varell dan Rani."


"Pakai tanya kamu Don, kamu juga kan ngwrti maksud tante?"


"hahaha....oh iya ya, itu ya tan?kalau itu sih Doni juga ngerti."


Sesampainya di depan, bu Herlina langsung menghampiri Rani dan bercipika cipiki.


"Assalamuallaikum tante, apa kabar?"


"Waalaikumsalam sayang, Alhamdulillah baik. loh, baby Rava nya mana?"


Bu Herlina mencari keberadaan baby Rava yang tak ada bersama orang tuanya.


"Baby Rava tidak ikut tante, sama mama Sandra di rumah."


"O, begitu. ya nggak apa-apa sih. tak baik juga buat bayi berada di rumah sakit. Ayo, kita langsung ke tempat Rangga, ada Maima juga."


"Iya tante."


Mereka pun melangkah beriringan menuju ke ruang perawatan Rangga. sambil mengobrol ringan.


Di depan pintu kamar, mereka tak langsung masuk kedalam.


"Gimana nih tante? kira-kira mereka sudah selesai belum ya?" tanya Doni.


"Mereka sedang main jungkat jungkit Ran?" Jawab Doni terkekeh. dan otomatis mendapat keplakan dari Varell.


Plakk


"Aduh, ngapa sih loe Rell? memang kenyataannya begitu kok, iya kan tante?" bu Herlina hanya mengangguk malu.


"Jungkat jungkit? ih, kak Doni bisa aja. tapi, masa' iya sih mereka melakukan itu di sini


?" Rani akhirnya mengerti apa yang di maksud oleh Doni.


Tok tok tok


"Rangga....Maima?" Kali ini bu Herlina yang mencoba mengetuk pintu kamar itu.


"Iya, ma masuk saja!"


Mendengar suara sahutan Maima dari dalam, bu Herlina pun memutar handle pintu dan membukanya. Tampak Rangga sudah duduk di atas ranjang dan tengah di suapi oleh Maima.


"Rani?" Maima meletakkan piring yang tengah di pegangnya ke atas meja, lalu ia berhambur memeluk Rani sahabat yang sangat dirindukannya.


"Rani, aku kangen banget sama kamu."


"Iya, sama Mai. Rani juga kangen sama Maima."


Mereka pun berpelukkan dan saling melepas rindu. dan melupakan orang-orang di sekitarnya.


"Ehem....btw Ngga, loe kelihatannya dah sembuh ya? seger banget tu muka?" Doni mengerlingkan matanya menyindir Rangga.


"Gimana ngak seger Don, baru juga ganti oli dia? hahaha " Kali ini Varell yang tak mau kalah menjahili sang sahabat.

__ADS_1


Perkataan ambigu Varell membuat kedua wanita cantik itu mengernyit bingung, beda halnya dengan bu Herlina. Wanita paruh baya itu mengerti akan arti dari perkataan Varell. bu Herlina pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Mas Rangga ganti oli mobil? kapan dan untuk apa?" Kali ini istri polos dari si pasien yang bertanya pada suaminya.


"hahaha....loh, kamu sendiri kan Mai yang membantunya ganti oli? tuh liat betapa sumringahnya wajah suami tercintamu itu?" Doni sangat gemas dan semakin bersemangat untuk menggoda istri dari sahabatnya itu.


"Aku membantu mas Rangga ganti oli? kayaknya enggak deh kak, dari tadi aku disini mengurus mas Rangga. kak Doni nih mengada-ada saja?"


"Hush, sudah-sudah. jangan menggoda istriku terus.dia itu sangat polos, jadi jangan kalian kotori pikirannya dengan hal-hal semacam itu!"


"Iya iya boss bucin, maaf ya Mai. kita cuma guyon aja kok. kamu ngak akan mengerti." Doni dan Varell tersenyum menatap Maima yang kelihatannya masih belum mengerti.


"Hei hei....ngak usah senyum-senyum sama istri orang!"


"Dasar macan kumbang bucin!?"


Bu Herlina dan Rani menggeleng melihat kelakuan para lelaki yang pikirannya satu server, ke absurd annya tak terelakkan lagi.


"emm, btw Rell. gimana Zack?" Rangga menanyakan keadaan Zack pasca kejadian malam lalu.


"Ngak pa pa ni gue cerita di depan istri loe Ngga?" Varell melirik sekilas ke arah Maima yang duduk di samping Rani dan bu Herlina.


"Iya tidak apa-apa, biar Maima juga tahu semuanya. ceritakanlah!"


Malam itu saat gue nganter Zack ke Apartemennya, Zack mengatakan sesuatu? begini ceeitanya:


Flash back on


Varell memapah tubuh Zack yang sempoyongan, ya. laki-laki yang tengah patah hati itu meneguk beberapa botol minuman beralkohol. Varell tak bisa mencegahnya.


Setelah bersusah payah memapah tubuh besar Zack, akhirnya mereka sampai juga di Apartemen Zack.


Varell merebahkàn tubuh Zack diatas tempat tidur. melepas sepatu lalu menyelimutinya.


"Zack, kenapa loe jadi kayak gini sih?"


"Maima, aku sangat mencintaimu. kenapa kamh malah memilih dia? aku sungguh tak bisa menerimanya Mai, kamu hanya boleh menjadi milikku seorang manisku!" Zack melindur dalam keadaan setengah sadar.


"Zack....Zack, loe harus bisa menerimaa semua kenyataan yang sudah terjadi. Maima sekarang sudah berbahagia dengan Rangga. loe harus mengikhlaskannya!"


Mendengar itu, Zack bangkit dari tidurnya. ia terduduk sambil memijat pelipisnya yang terasa sakit dan kepalanya yang masih pusing.


"Entahlah Rell, sorry....gue memang masih belum bisa menerimanya? Bagi gue, Maima adalah segalanya. gue bener-bener hancur Rell. loe juga ngerti kan gimana rasanya kalau orang yang sangat loe sayangi direbut oleh orang lain dan mirianya orang itu adalah sahabat loe sendiri? kasih gue waktu untuk memikirkan semuanya! "


"Iya, gue ngerti gimana perasaan loe Zack. Baiklah kalau memang itu yang elo inginkan sekarang ini Zack. semoga loe bisa berpikir jernih. Jangan sampai persahabatan diantara loe dan Rangga hancur. ingat kita bersama bukan cuma dlsetahun atau dua tahun Zack!"


"Pikirkan dengan hati yang tenang, oke! gue balik ya?"


flash back off


Seketika suasana ruangan hening tanpa suara. Maima tertunduk dengan wajah sendu. Rani mengusap punggung tangan Maima. menguatkan sang sahabat.


"Loe tenang aja Ngga, kalau Zack sampai nekat dan berbuat macam-macam pada kalian. kami akan turun tangan membantu kalian." Varell mendekat dan menepuk pundak Rangga.


"Thanks ya Rell dan juga elo Don."


"Iya, santai aja bro. kayak sama siapa aja?" Doni terkekeh mencairkan suasana.


tok tok tok


Kriettt


......??

__ADS_1


Tbc


__ADS_2