
Hari yang di nanti oleh dua keluarga yaitu dimana kedua putra putri mereka Rava dan Naina. Ya, Setelah hampir 5 tahun menjalin hubungan dan akhirnya keduanya pun memutuskan untuk meresmikan kejenjang pernikahan.
Kesibukan mulai terlihat di kediaman keluarga Rangga dimana mereka adalah dari pihak calon mempelai wanita. Naina tengah menjalani berbagai macam perawatan khusus pengantin di kamar pribadinya.
Ditemani oleh sang sahabat, Kiki. Namun, tidak tampak keberadaan Sasa di antara mereka. Ya, sejak terkahir di acara wisuda kelulusan SMA waktu lalu. Gadis itu menghilang bak di telan bumi. Naina sangat sedih karena di hari bahagianya salah satu sahabat terbaiknya tidak ada bersamanya dan menyaksikan moment sakral dalam hidupnya.
"Ki, kira-kira dimana ya Sasa sekarang?aku kangen banget sama dia." seburat wajah sedihnya terlihat jelas di wajah cantiknya.
Kiki pun merasakan apa yang Naina rasakan, mereka memang sangat merindukan Sasa. Tiga dara tak pernah terpisahkan sejak mereka beranjak remaja dan tiba-tiba saja pertemanan mereka terputus begitu saja tanpa penjelasan apapun dari Sang bestie.
"Sudahlah Nai, kamu jangan berpikiran macam-macam dulu. Sekarang fokuslah pada acara besok. Semoga akan ada keajaiban dan Sasa besok akan muncul."
Naina mengangguk mengamini do'a Kiki."Aamiin. Iya Ki, semoga saja."
*************
Akhirnya hari yang di nanti pun telah tiba. Seluruh anggota keluarga calon mempelai pria tengah bersiap-siap untuk menuju ke tempat diadakannya prosesi ijab qobul di salah satu hotel berbintang 5 di kota Jakarta.Rava tampak gagah dengan pakaian adat jawa berwarna putih selaras dengan kebaya yang juga berwarna senada yang di kenakan oleh Naina sang calon mempelai wanita.
Perjalanan menuju ke lokasi tak memakan waktu lama. Kini mereka telah tiba dan bergabung dengan para tamu yang hadir di acara sakral tersebut. Rava duduk di hadapan Penghulu wali nikah sang calkn istri dan juga para saksi.
Tak jauh dari posisinya tampak 3 pria muda tampan yang tak lain adalah Rama, Zander dan Dean. Mereka bertiga duduk berjejer rapi di barisan paling depan. Namun ada yang berbeda, ya–tatapan seorang laki-laki yang tengah patah hati. Rama, pemuda tampan itu saat ini serasa bagai tertusuk-tusuk hatinya.
Gadis idamannya dalam hitungan menit akan segera menjadi milik orang lain yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Ia hanya memendam rasa cintanya karena ia tahu bahwa cinta Naina hanya untuk Rava dan gadis itu hanya menganggapnya sebagai seorang kakak semata.
"Semoga kalian selalu berbahagia dan langgeng selamanya. Aku akan berusaha ikhlas melepaskanmu, Naina."–Rama
Ketika acara baru akan di mulai, muncul sesosok gadis manis yang berpenampilan sederhana dengan mengenakan dress selutut berwarna Navy. Gadis itu duduk di barisan belakang. Rama yang memang sedang ingin ke belakang tak sengaja menangkap sosok tersebut yang ternyata juga tengah melihat ke arahnya. Sejenak mereka saling terpaku dan mengunci tatapan satu sama lain. Namun, karena dorongan dari panggilan alam akhirnya Rama mengalihkan pandangannya dan berlalu menuju ke toilet.
"Rama...kamu semakin tampan saja.Ah, sudah lupakan laki-laki itu Sasa. Kamu tidak akan pernah pantas untuknya. Rama terlalu jauh untuk kau gapai. Sadarlah!"
__ADS_1
Ya, gadis itu adalah Sasa. Marsha Hanindya Nastiti sahabat dari Naina yang telah lama menghilang dan kini tiba-tiba muncul fan hadir di acara pernikahan sang sahabat.
Sasa mencoba untuk bersikap cuek dan biasa saja. Gadis itu bahkan tak menyapa siapa pun yang di kenalnya karena kini mereka hanya menganggapnya gadis yang tak sederajat di kalangan atas. Kini ia hanyalah gadis biasa yang hidup sederhana dan berjuang seorang diri. Keadaan yang telah merubahnya menjadi gadis yang kuat dan mandiri.
Prosesi ijab qobul pun telah usai dan berjalan dengan lancar. Semua hadirin serempak mengucapkan kata sah dan ikut terharu dan bahagia.
Para tamu bergiliran mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Hingga kini tiba giliyannya Sasa yang melangkah perlahan mendekati pasangan halal tersebut.
"Selamat ya Nai atas pernikahanmu."
Naina menoleh kearah suara yang begitu di kenalnya dan sontak ia pun terkejut bukan main, di hadapannya kini hadir sosok yang begitu di rindukannya. Refleks Naina langsung memeluk erat Sasa dengan terisak merasakan gejolak di hatinya. Tangisan bahagia atas kembalinya sang sahabat.
"Sasa...hiks...hiks, kemana saja kamu? jahat kamu Sa, kenapa pergi begitu saja." Masih terus memeluk melepaskan rasa rindu yang tak tertahankan.
"Iya, maaf ya Nai. Sudah jangan menangis nanti make up nya luntur nanti jelek loh. Rava bisa-bisa tidak mengenali istri cantiknya lagi."
Tersenyum dan mengusap kedua belah pipi Naina yang terkena lelehan air mata. Naina mengerucutkan bibirnya mendengar godaan dan mereka pun kembali tertawa lepas. Sepertinya Sasa telah kembali seperti dahulu gadis ceria dan blak-blakan.
"Aduh, bagaimana ya Nai.Sore nanti aku harus pergi bekerja dan maaf,sepertinya aku tidak bisa menghadiri resepsi pernikahanmu malam nanti.Aku benar-benar mohon maaf ya, Nai." Sasa mengatupkan kedua telapak tangannya.
Dan Naina pun merasa kecewa kembali. Ia menatap Sasa sedih dan tak terima.
" Apa kamu tidak bisa untuk meminta izin satu hari saja. Kamu tega ya Sa tidak mau datang.Pokoknya aku ngak mau tahu, nanti malam kamu harus datang ya." Naina sedikit memaksa.
"Aduh, gimana ya Nai. Aku kan tidak bisa untuk minta izin secara mendadak.Tapi..."
"Gue yang akan menjemputnya dan akan meminta izin kepada boss di tempatnya bekerja."
"Eh...?"
__ADS_1
Entah datang dari mana, tanpa di duga Rama yang muncul dengan tiba-tiba mengatakan akan menjemput Sasa ke acara reaepsi nanti malam. Sasa ternganga tak percaya jika Rama akan mengatakan hal yang tidak mungkin akan di lakukannya. Gadis itu tidak menanggapinya dan bersikap cuek saja.
"Kita lihat nanti saja ya,Nai. Aku ngak bisa janji." Sasa tetap kekeh tak bisa memberikan harapan pada Naina.
"Emm...ya sudah, kalau begitu kamu makan dulu ya. Nanti kalau kamu bisa datang atau pun tidak harus mengabariku. Tapi, aku tetap berharap kamu akan datang."
Sasa mengangguk dan ketika menoleh ke arah Rama yang masih setia berdiri di sebelahnya membuatnya jadi salah tingkah. Ternyata ia masih menyimpan rasa pada laki-laki tampan itu yang jelas secara terang-terangan telah menolak cintanya.
"Ka–kalau begitu aku ke sana dulu ya, Nai. Permisi..." Sasa menunduk melewati Rama begitu saja tanpa menatap sang pencuri hatinya.
"Oke...beneran ya kamu jangan kabur-kaburan lagi.:
"Iya nyonya Rava Abinawa Darmanto."
"Ish–Sasa, malu ah." Naina tersipu malu membuat Rava semakin gemas dan tak sabar menanti hingga seluruh prosesi acara selesai.
"Kenapa malu sih, sayang. Yang di katakan.Sasa benar kan? kamu sekarang telah menjadi nyonya Rava. Istri tercantik dan menggemaskan.Aku sudah tak sabar menunggu sampai malam nanti. Kita akan menghabiskan malam yang indah dan mendebarkan dan..."
"Stopp...!" Menutup mulut Rava dengan telapak tangannya. Naina sangat malu apalagi hal itu di dengar oleh Sasa dan juga Rama.
Sasa sesekali melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah saatnya ia harus pulang dan bersiap untuk berangkat kerja. Sebenarnya ia ingin berpamitan pada Naina dan yang lainnya. Tapi, melihat kedua mempelai masih sibuk dengan para tamu akhirnya ia memutuskan pulang saja. Nanti ia akan menelpon sahabatnya itu.
Merasa ada yang mengikutinya dari arah belakang refleks gadis itu pun menoleh dan terkejut mengetahui ternyata orang itu adalah Rama.
"Mau apa kamu mengikutiku? maaf, permisi."
Sasa bergegas mempercepat langkahnya namun, sebuah tangan mencekal lengannya.
"Tunggu...sudah ku bilang kan, aku akan menemanimu untuk meminta izin pada bossmu dan kamu akan menjadi pasanganku di pesta nanti malam. Tak ada kata penolakan, mengerti!?"
__ADS_1
"Hah...?"
Tbc