
"Kak..."
"Iya, Mai....?"
Dag dig dug.... debaran jantung keduanya sama-sama berpacu dengan nada tak beraturan.
Terutama Zack yang menunggu perkataan apa yang akan keluar dari bibir manis sang gadis pujaan hatinya. Ia menatap hampir tak berkedip pada Maima.
Membuat gadis itupun jadi grogi ditatap oleh sorot mata yang seakan menusuk telak langsung ke lubuk hatinya.
Maima memejamkan matanya sejenak, setelah itu ia menghembuskan nafasnya dalam.
"Apa kakak serius? Aku ini hanya gadis biasa dan tak punya apa-apa kak, bahkan sanak keluargapun tak punya. Sebaiknya kak Zack berpikir lagi akan keinginan kakak. Aku tidak ingin kakak atau keluarga kakak kecewa akan pilihan yang telah kak Zack pilih. Dan aku merasa bukanlah gadis yang tepat untuk kakak. Masih banyak diluaran sana wanita-wanita cantik dan lebih sepadan dengan kakak. Maaf ya kak, bukannya aku bermaksud untuk langsung menolak kak Zack."
Maima tertunduk tak berani menatap langsung manik mata dari Zack.
"Kamu ini ngomong apa sih Mai? aku ini benar-benar serius sama kamu, aku ini sebenarnya bukan mau mencari pacar lagi, tapi menginginkan seorang istri. Dan soal layak atau tidaknya kamu menjadi pendampingku, tentu saja sangat layak Mai. Kamu itu gadis pertama yang telah menggetarkan hatiku, aku tahu kamu takut kalau keluargaku akan mempermasalahkan status sosial diantara kita kan? Jangan khawatir Mai, aku akan berusaha meyakinkan keluargaku agar bisa menerima dan merestui kita. Jadi bagaimana, kamu mau kan Mai memulainya denganku?"
Zack meraih jemari Maima dan menggenggamnya erat. Gadis itu menatap langsung pada manik mata Zack mencari ketulusan dari laki-laki itu.
"I....iya kak, aku akan mencobanya."
"Benarkah Mai, kamu serius kan? ngak lagi ngeprank aku?" Zack sangat bahagia, akhirnya gadis pujaan hatinya luluh juga dan menerimanya. Ah, bukan. Tapi mencoba bersama-sama memupuk rasa cinta dihati masing-masing.
Zack menarik tangan Maima agar berbalik menghadapnya, lalu lengan kelar itu merengkuh tubuh mungil Maima kedalam dekapan hangatnya."
"Terima Kasih ya Mai." Mengecup kening sang kekasih, Ya gadis itu kini telah resmi menjadi pujaan hatinya.
Ceklekk
Varell baru saja selesai membersihkan dirinya sebelum tidur. Ia melihat istrinya yang ternyata masih terjaga. Rani sedang menatap kearahnya. Varell pun tersenyum menyeringai, lalu melangkah mendekat pada sang istri. Rani pun tersentak kaget sadar jika sang suami telah berada tepat dihadapannya. Bahkan kini Varell telah naik keatas ranjang dan duduk bersila saling berhadapan dengan Rani.
"ehem....Iya, suamimu ini memang sangat tampan. Sampai tak berkedip begitu? Terpesona ya?" meniup mata sang istri hingga Rani terlonjak kaget.
"Ahh...mas bikin kaget saja." Rani hampir terjengkang kebelakang, namun Varell menahan punggung sang istri dan mendudukkannya kembali.
"Kok, sudah ber-ahh ria sayang, belum juga mulai?" Varell semakin menggoda Rani yang terlihat begitu gugup dan semakin salah tingkah ketika mendengar ucapan nakal suaminya.
"Ih, mas apa-apaan sih. Rani kan jadi malu." menundukkan pandangannya menyembunyikan rona merah diwajahnya. Hal itu membuat Varell semakin gemas dengan tingkah polos istrinya.
"Malu? kenapa mesti malu, malu-malu tapi mau kan? Kita sudah terbiasa melakukannya sayang, jadi hilangkan rasa malumu pada suami sendiri! Mari kita nikmati bersama."
Varell pun memulainya dengan mencium lembut bibir cherry sang istri yang selalu dirindukkannya, lalu beraksi pada bagian yang lain ditubuh yang selalu membuatnya bergairah itu. Tanpa disadarinya ternyata tubuhnya sudah polos setelah dilucuti oleh suaminya.Varell terus merangsang titik-titik sensitif milik sang istri.
"Ma....ss, emm."
"Iya sayang." Mendengar Rani yang sudah mengeluarkan nada-nada indahnya, Varell semakin tak tahan lagi dan akhirnya ia pun langsung memulai pertempuran setelah sekian lama merehatkan senjata perangnya. Dan sepanjanb malam itu mereka merengkuh nikmat dan indahnya percintaan yang telah kembali menggelora.
"Terima kasih sayang, aku merindukanmu. l love you. cup....cup....cup."
"l love you too, mas." memejamkan mata.
__ADS_1
Mentari pagi bersinar begitu cerah, secerah wajah Varell yang pagi itu selalu tersenyum sumringah. Ia menuruni anak tangga sambil bersiul ria mengekspresikan kebahagiaannya.
Mama Sandra, Papa Tyo dan Angela mengernyit penuh tanya melihat tingkah Varell yang bagaikan abg yang sedang kasmaran. Hanya Rani yang tampak bersemu malu melihat tingkah suaminya itu.
"Ehem...Sepertinya semalam ada baru buka puasa nih." Sindir papa Tyo pada putranya.
"Papa kok tahu aja deh, jadi enak nih. Ya kan sayang?" Varell nyengir kuda sambil mengedip-ngedipkan matanya pada Rani, dan otomatis langsung mendapatkan pelototan dari sang istri.
"ck, dasar anakmu ini pa." Mama Sandra berdecak dan menggelengkan kepalanya melihat kegesrekkan putranya.
"Ya anakmu juga lah ma, kan dulu bikinnya berdua toh!?" Dan papa Tyo malah ikutan menggoda mama Sandra.
"Ish, bapak sama anak sama saja." Sedangkan Angela tak memperdulikan obrolan absurd para orang dewasa yang tak malu itu, dan tidak menyadari bahwa ada anak yang belum cukup umur untuk mengenal hal-hal demikian. Gadis itu pun menulikan pendengarannya sambil terus melahap sarapannya.
Bi Munah tergopoh menghampiri mama Sandra yang sedang duduk memangku baby Rava, di temani oleh Rani yang sedang belajar merajut pakaian hangat untuk anaknya.
"Maaf nyonya, ini tadi ada kurir yang mengantar undangan." Menyerahkannya pada mama Sandra.
"Undangan dari siapa ma?" Tanya Rani.
"Oh, ini undangan dari Zack. Acara perayaan ulang tahun dan pereamian perusahaannya. Kita sekeluarga diundang nih." Di undangan itu tertera untuk kel. besar Darmanto. Rani pun hanya mengangguk ria.
"Oh ya Ran, temanmu yang bernama Maima itu pasti datang juga kan? mama yakin deh pasti ada seauatu diantara mereka."
Sore hari selepas pulang dari bekerja, Maima sedang duduk santai didepan kamar kos-kosannya sambil mengutak atik ponselnya. Terdengar penanda pesan masuk dari ponselnya, la lalu membukanya.
"Manisku....apa paketannya sudah sampai? jangan menolak, pokoknya malam nanti kamu harus memakainya. miss u manis!"
"Ish, dasar genit....selalu menggombal." Menggerutu namun tersenyum bahagia.
Suasana di sebuah ballroom sebuah hotel mewah tampak ramai para tamu undangan dari para kalangan atas. Itu semua terlihat dari mobil-mobil mewah yang berdatangan di depan hotel dan juga para undangan yang berpenampilan begitu elegan. Keluarga Darmanto telah berada didalam dan duduk bersama disalah satu meja.
"Hallo, semuanya!" Doni dan Rangga yang baru tiba pun langsung menghampiri keluarga tersebut. Merekapun mengambil posisi duduk bersama.
Rangga tampak celingak celinguk seperti sedang mencari seseorang.Hal itu tak luput dari perhatian Varell.
"Loe cari siapa Ngga?" tanyanya penasaran.
"Ah, enggak cari siapa-siapa kok." Meneguk minuman yang berada dimeja. entah minuman itu milik siapa, tapi karena rasa gugupnya ia pun langsung meminumnya hingga ludes tanpa bertanya lagi.
"Kakak mencari Maima ya, mungkin sebentar lagi dia akan datang. jangan khawatir ya kak!" Rani mengerti apa yang membuat Rangga gusar seperti itu. Dan Rangga menanggapinya hanya dengan tersenyum canggung dan malu tentunya. Karena ternyata Rani bisa membaca apa yang ada di pikirannya.
Sementara itu, didepan lobby hotel. Maima tampak ragu untuk masuk. Entah mengapa perasaannya tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu pada dirinya jika ia berada didalam sana.
"Bagaimana ini, perasaanku kok ngak tenang ya? apa yang akan terjadi nanti jika aku masuk kesana?" Walaupun tampilannya sudah berpenampilan seperti tamu undangan lainnya. Dengan balutan gaun sederhana nan elegan dan sepatu high hels di kaki jenjangnya tampak serasi dengan gaun yang dikenakannya. Maima pun akhirnya memberanikan diri untuk masuk kedalam.
__ADS_1
Ketika telah berada didalam ballroom tempat pesta berlangsung. Maima jadi tambah berdebar dan gugup melihat suasana mewah pesta tersebut.
Gadis itu hanya berdiri terpaku disudut ruangan, ia tak percaya diri untuk bergabung didalam pesta itu. Ia meremas jemarinya sambil tertunduk malu. Hingga sebuah sentuhan mengagetkannya.
"Mai, sedang apa kamu sendirian disini? Ayo bergabung dengan yang lainnya!" Maima menengadahkan wajahnya menatap laki-laki yang menyapanya. Ia begitu mengenali suara itu.
"Kak Rangga...!"
"Malam ini kamu sangat cantik Mai." Rangga terperangah akan tampilan Maima yang begitu mempesona.
"Te....terima kasih kak."
"Ayo, kita bergabung dengan yang lainnya." Tanpa sadar Rangga menggandeng dan menggenggam erat tangan gadis itu.
"Hai Maima, ayo duduk sini!" Rani menepuk kursi disamping kirinya yang memang masih kosong.
Acarapun akan dimulai, Tampak Zack di apit oleh kedua orang tuanya telah berdiri diatas panggung. dimulai dengan sambutan dari sang papa dan juga memperkenalkan nama perusahaan baru milik sang putra. Dan acara intipun akan segera berlangsung. Sebuah kue tart telah ada dihadapan Zack yang sedang berulang tahun. Dan tiba-tiba saja Zack memanggil seseorang untuk naik keatas panggung.
"Sebelumnya aku mau memanggil seorang gadis yang sangat teristimewa dimalam ini. Ia adalah gadis yang begitu berarti dihidupku. Mari manis, kesinilah bersamaku!"
Sebuah lampu menyorot langsung pada Maima yang tentu saja merasa terkejut. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas dan degup jantungnya pun semakin berdetak kencang.
Maima pun berdiri dan melangkah dengan rasa canggung. Dan Zack menyambut kedatangan sang pujaan hati dengan senyum hangatnya. Ia menggandeng tangan Maima menuju ke atas panggung. Kedua orang tua Zack pun bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan gadis itu.
Jauh disudut sana, Rangga menatap nanar pada Maima dan Zack yang tampak mesra. Apalagi melihat Zack yang tak pernah lepas menggenggam tangan Maima. Ada rasa tak suka dalam dirinya melihatnya. Maima duduk satu meja bersama Zack dan kedua orang tuanya. Mama Sinta selalu menatap intens pada Maima.
"Hallo tante, maaf ya aku terlambat."
"Iya, tidak apa-apa Tamara. mari duduk sini sayang!" Mama Sinta menyuruh wanita yang bernama Tamara itu untuk duduk tepat disebelahnya.
"Itu siapa tante?" berbisik
"Tante juga belum mengenalnya, sepertinya dia pacar barunya Zack. Biasalah, kamu juga tahu kan seperti apa Zack."
"Hai Zack, happy birthday ya." menghampiri dan langsung mencium pipi Zack.
"Siapa perempuan itu? Jadi ini kekasih baru Zack. ish....kenapa selalu saja ada yang menghalangi jalanku untuk mendapatkanmu Zack? Lihat saja nanti, kau akan menyesal berani merebut Zackku."
"Tante, aku permisi sebentar ya." Menatap Maima lalu tersenyum licik.
"Zack, ayo kesini nak. kenalkan ini rekan bisnis papamu yang datang jauh-jauh dari Jepang!"
"Mai, tunggu sebentar ya. aku akan segera kembali!" Melangkah meninggalkan Maima yang kini duduk sendirian. Ia kemudian meneguk minuman yang baru saja disajikan oleh seorang pelayan.
"Aduh....kok kepalaku pusing sekali ya? Kok panas banget , rasanya gerah sekali ini." Tiba-tiba Maima merasa tubuhnya tidak enak. Ia pun beranjak dari duduknya, dan baru saja akan melangkah tiba-tiba tubuhnya terhuyung dan ada lengan kokoh yang meraih pinggangnya.
"Maima, apa kamu tidak apa-apa?"
"Aku.....Ke kepalaku pusing sekali?" Laki-laki itupun langsung memapah gadis itu melangkah keluar. Ada sorot mata tajam yang memandang kepergian mereka dengan senyum yang menyeringai diwajah cantiknya.
Tbc
__ADS_1