
Aktifitas pagi hari yang penuh drama kembali terjadi di kediaman pasangan Varell dan Rani. Bagaimana tidak, si bungsu Fara selalu menjahili sang kakak ketika membangunkannya.
Gadis yang tengah beranjak remaja itu mengendap-endap masuk ke dalam kamar Rava sambil membawa sebuah mainan terompet plastik, ia melihat sang kakak yang masih bergelung di balik selimut tebalnya. Perlahan ia mendekat lalu meniupkan terompet tersebut tepat di wajah Rava.
Teeeettttt
"aaaarghh...!" Rava pun tersentak dari tidurnya dan matanya memelotot tajam pada adiknya.
"Farra...apa yang kamu lakukan,hah?"
"Maaf, habis mas Rava susah sekali sih di bangunin.Tuh, lihat sudah jam berpa hayo!" Farra menunjuk jam dinding yang mana telah menunjukkan pukul 06.30.
Mata Rava terbelalak kaget dan langsung melompat dari atas tempat tidur bergegas masuk ke kamar mandi.Sedangkan Farra melenggang keluar dari kamar Rava sambil menggerutu dan ada rasa puas juga karena berhasil mengerjai kakanya yang galak itu.
"Pagi ma, pa...maaf, Rava ngak bisa sarapan bareng sudah telat in. Rava berangkat dulu ya ma!" Mencium punggung tangan kedua orang tuanya, setelah itu lekas beranjak pergi sambil mengacak-acak rambut Farra hingga membuat sang adik amat kesal
"Ih...mas Rava!" Mengusap-usap rambutnya dengan telapak tangannya.
Varell dan Rani hanya menggelengkan kepala dan tersenyum melihat keakraban kedua anak mereka
"Oh ya, mas...Rani lupa mau menanyakan sama Rava tentang rencana pesta ulang tahunnya."–Rani
"hemm, memangnya jadi mau merayakannya di di sebuah hotel? apakah itu tidak terlalu beresiko?"
"Maksud Mas apa? memangnya kenapa kalau diadakan di hotel, mas tidak me gizinkannya?kalau begitu mas bicara langsung saja sama Rava!"
"Iya, nanti mas akan bicara langsung pada putra kesayanganmu itu."
"Dia anakmu juga kan, mas!kita bikinnya juga berdua,kan?"
uhukk uhukk
"Mama–ngomong apaan sih?ngak lihat apa ada anak di bawah umur?" Farra tersedak makanannya mendengar percakapan kedua orang tuanya.
Rani pun mengusap punggung anak gadisnya yang terlihat cantik menjelang masa remaja.
"Iya...iya, sayan.Maafkan mama ya!
"Iya ma, ngak apa-apa kok!Pa, ayo cepetan! Rani sudah telat ke sekolah ini."
Varell pun segera menyelesaikan makannya lalu segera berangkat ke kantor sekalian.mengantar putri bungsunya yang sangat manja ke sekolah.
"Iya, sayangnya papa.Ayo!"
"Eh, Rav...jadi ulang tahun loe bakal di adain di Hotel Mulia?" Rava dan the genk sedang berkumpul di taman sekolah, minus Naina.Ya, karena gadis itu juga punya teman-teman genk nya sendiri sesama kaum hawa.
"Jadi dong, besok kalian bantuin nyebarin undangannya ya!"
Zander dan Dean pun mengangguk patuh kecuali, Rama. Pemuda itu seperti biasa hanya bersikap cuek saja. Namun Rava sudah teerbiasa akan sikap sahabatnya yang satu itu jadi ya dia tak pernah memprotesnya.
"Eh, by the way Rav, si anak baru itu di undang juga?"
"Terserah...menurut kalian gimana?apa nantinya tidak apa-apa kalau Naina sampai tahu dan bertemu dengannya di pesta nanti?"–Rava
Flash back on
__ADS_1
"Selamat pagi anak-anak, ini ada murid pindahan dari Singapura.Ayo, sini perkenalkan dirimu pada teman-teman sekelasmu!"
"Hai...perkenalkan namaku Chintya Alona Prawira. Salam kenal!"
"Hai Chintya salam kenal juga!"
Salam kompak seluruh murid di kelas itu.
"Oke, nah...Chintya silahkan kamu duduk di salah satu kursi yang masih kosong!"
"Baik, Bu Guru."
Semua murid menatap takjub sampai melongo terpesona akan kecantikan dan body sempurna milik Chintya, namun hanya para murid laki-laki yang bereaksi demikian.
"Heh, Ram...bukannya itu si Chintya yang dulu itu?"
Rava menyadari siapa gadis tersebut, karena wajahnya tidak berubah dan ia masih dapat mengenalinya.
"Sepertinya sih, iya." Rama pun sependapat dengan Rava.
"Semoga cewek itu ngak bikin masalah di sekolah ini, terutama menganggu Naina.Awas saja dia kalau sampai melakukannya!" Rava memasang wajah tak suka-nya.
"Loe kenapa Rav, kok jadi elo yang sewot?"
"Ya, gue kesel aja liat tingkah tu cewek waktu dulu sama si Naina anak sama mama nya sama-sama ngak beratitude banget."
"Oh, gitu!" Jawab Rama singkat.
Flash back off
"Gimana Ram menurut loe? kita undang ngak tu cewek sombong, secara kan Naina adek loe kita ngak mau kalau terjadi hal-hal yang tidak di inginkan kalau tu cewek sampe berbuat kekacauan di pesta nanti?"
"Woy...Ram, malah bengong loe?itu si Rava tanya gimana soal si Chintya boleh di undang apa enggak?"
"Ya, itu sih terserah elo aja Rav! itu kan pesta loe,ya terserah loe lah mau mengundang siapa pun."
"Menurut kalian berdua gimana?" Rava beralih bertanya pada Zander dan Dean.
"Ya, kita juga terserah elo aja sih,Rav. Tapi kalau tu cewek ngak.di undang nanti bakal jadi omongan secara dia kan satu kelas sama loe?" –Zander
"Jadi, menurut loe di undang aja?"
Keduanya pun mengangguk setuju.
"Oke, cewek itu di undang juga deh! tapi, kalian nanti harus selalu mengawasi tu cewek jangan sampai berbuat macam-macam di pesta gue, terutama mengganggu Naina!"
"Cie...cie perhatian banget Rav, elo sama Naina , jangan-jangan elo naksir ya sama Naina? eh, Ram...tuh, bakal jadi calon adek ipar loe di masa depan nih?" Zander menggoda Rava yang sejak tadi terlihat sangat mengkhawatirkan Naina.
"Tau ah...dah di bilang dia bukan adek gue! terserah loe pada!"
"Wow, seorang Rama tumben bicara ketus? kenapa loe Ram? cemburu sama Rava karena aďek cantik loe di taksir Rava?" Dean mulai mengeluarkan jurus keusilannya.
Plakkk
"Aduh...apa sih, mas Rava? loe kok ngeplak kepala gue?"
__ADS_1
Plakk
"Ngoming tuh yang sopan sama yang lebih tua? loe...gue, ingat loe tuh si bontot jadi harus memanggil gue dan Rama, mas!"
"Iya...iya, mas Rama!"
Zander hanya cekikikan melihat ketidak berdayaan dari Dean yang memang nota bennya adalah adik sepupu dari Rava dan yang termuda di antara mereka.
Kediaman keluarga Rangga
"Rama, nanti di sana kamu jagain Naina ya! awasi selalu adikmu!"
Maima berpesan pada putranya untuk menjaga sang adik.
"Iya, ma!" Jawab Rama singkat dan padat.
Tak berpa lama Naina telah menuruni tangga dan gadis itu tampil begitu anggun dan sangat cantik.Membuat papa Rangga,mama Maima dan Rama pun sampai melingo menatap Naina.
"Wah, sayang.Kamu cantik sekali!ya kan, mas, Ram?"
"Iya, malam ini putri papa sangat cantik!"
"Terima kasih, ma,pa!" Naina tersipu malu sekilas melirik Rama yang tampak cuek saja.Naina mengerucutkan bibirnya.
"Hei,Rama...di tanya malah cuek saja? gimana? Naina cantik kan?"
"hmm...cantik!"–Rama
Jawaban Rama membuat Naina tersenyum simpul, entah mengapa?ia sangat senang karena Rama juga menyukai penampilannya malam ini.
"Woyy...Rav, apa Rama dan Naina belum sampai juga? loe kelihatan risau gitu?takut sang pujaan hati ngak hadir ya?"
Zander yang melihat Rava mondar mandir di depan lobby membuatnya jadi bertanya-tanya akan sikap Rava.
"Sialan loe Zan! siapa juga yang naksir si Naina? gue cuma khawatir aja kok mereka belum sampai juga?"
"Iya deh,percaya gue!bisa aja ngelesnya loe bro.Padahal sih kelihatan jelas kalau elo tuh ada rasa sama Naina?bener kan apa yang gue bilang?"
"Huh...sok tahu loe? udah mingkem, jangan ngomong yang enggak-enggak!" Menoyor kepala Zander
"Okeh deh, boss Rava!"
Beberapa menit kemudian akhirnya yang di tunggu-tunggu pun telah tiba. Rama dan Naina turun dari mobil dan merek memasuki tempat acara dengan melangkah berdampingan. Hingga menarik perhatian semua orang yang hadir di pesta itu.
"Wow...mereka terlihat serasi banget ya,Rav? bukan kayak kakak adek, yang cowok ganteng dan yang cewek cantik. Semoga berhasil ya bro!"semangat!" Zander berbisik pada Rava.
"Apaan sih loe,Zan? siapa juga yang naksir si Naina? jangan ngomong ngasal deh?"
"Oh, ya? kita lihat saja nanti,okeh!" Menepuk pundak Rava dan mereka pun terdiam ketika Rama dan Naina sudah mendekati mereka.
"Hai...selamat ulang tahun ya, mas Rava!"
Cup
Naina mengucapkan selamat pada Rava dan tanpa di duga gadis itu mencium pipi kanan Rava membuat Zander dan Rama terbelalak kaget.
__ADS_1
"Woww...kissu kissu!" –Zander
Tbc