
Rava melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, mereka menelusuri jalanan ibukota menuju ke tempat dimana Sasa tinggal saat ini sesuai dengan petunjuk yang di beritahukan oleh Kiki.
Setelah hampir 30 menit-an akhirnya mobil yang di kendarai Rava berhenti di depan sebuah gang kecil. Naina turun dan melihat ke arah dalam gang tersebut. Rava pun ikut turun dan mengamati ke-sekeliling lingkungan itu.
"Mas Rava, aku ke dalam dulu ya."
"Tunggu Nai, gue ikut!"
Rava menyusul langkah Naina yang akan memasuki gang kecil tempat di mana kos-kosan Sasa berada. Rava tidak ingin terjadi sesuatu pada diri Naina melihat lingkungan yang tampak sepi.
Terdapat beberapa bangunan kos-kosan di dalam gang tersebut. Ketika Naina dan Rava tengah bingung mencari bangunan yang mana tempat Sasa dan tanpa sengaja Naina melihat Sasa yang sedang menyapu teras depan kamarnya. Naina segera menyapa sang sahabat yang begitu di rindukannya itu.
"Sasa–"
"Na...naina!"
Sasa tersentak melihat kemunculan Naina.Gadis itu bingung dan malu dengan keadaannya saat ini. Karena kini dirinya tidak pantas bergaul dengan Naina dan yang lainnya yang memang semua dari kalangan atas.Sasa tersenyum kaku dan ketika melihat keberadaan Rava yang datang bersama Naina membuat hatinya sedikit lega. Karena bukan Rama yang menemani Naina.
"Naina, Rava...ayo silahkan masuk.Tapi, maaf ya mungkin tempatnya kurang nyaman bagi kalian."
"Kamu ngomong apa sih,Sa?"
Naina tidak suka Sasa berbicara seperti itu.Mereka pun masuk ke dalam kamar Sasa.
Mereka duduk beralaskan karpet karena Sasa tidak memiliki kursi. " Ayo, silahkan duduk.Sebentar–aku buatkan minuman dulu ya?"
Sasa melangkah menuju ke belakang dan Naina mengikutinya. "Sa, tunggu–gue bantu ya."
"Emm...Sa, gue tahu semuanya. Gue turut berduka cita dan maaf gue baru tahu dari Kiki.Kenapa sih Sa,elo ngak kasih kabar ke gue.Loe marah ya?"
"Marah?enggak, gue ngak marah sama siapa-siapa kok, apa lagi sama elo, Nai ngak akan mungkin lah." Tersenyum
Mereka bertiga pun mengobrol ringan karena ada Rava, jadi Naina tidak bisa membicarakan tentang Rama. Naina tahu sahabatnya itu sengaja menjauhinya pasti juga karena Rama lah yang menjadi salah satu penyebabnya. Itu bisa terlihat dari Sasa yang selalu menghindari tatapannya.
"Lalu,Rencana loe selanjutnya apa Sa?"–Rava
"Belum tahu,Rav?" Sasa tertunduk lesu.
__ADS_1
Sebenarnya Rava merasa kasihan dan prihatin dengan keadaan Sasa sekarang jika ia dengan tiba-tiba membantunya maka, ia takut gadis itu akan salah faham dan menganggapnya telah merendahkannya. Jadi, Rava diam dan hanya mengangguk saja.
"Sa, kalau loe butuh apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi gue ya! jangan pernah berubah hanya karena keadaan, kita masih tetap bestie kan,Sa?"
"Iya Nai, maaf ya kalau gue telah membuat loe khawatir.Sungguh gue ngak ada niat apa-apa dan kita tetap berteman sampai kapan pun.Thanks ya,Nai sudah perduli. Loe juga,Rav."
Hari pun cepat berlalu dan saat ini para siswa dan siswi tengah mengikuti acara wisuda dan pelepasan siswa kelas 12. Acara di selenggarakan di sebuah hotel berbintang 5 dengan segala fasilitas yang mewah. Rava, Rama dan Naina tengah berfoto ria dengan para orang tua mereka masing-masing. Semua bersuka cita dan terlihat sangat antusias dan berbahagia.
Di sebuah sudut gedung ada seorang gadis cantik tengah menatap miris teman-temannya yang terlihat begitu bahagia di dampingi oleh orang tua mereka. Sedangkan dirinya hanya sendirian tanpa ada yang menemani. Ia ingin ikut bergabung dengan Naina dan yang lain. Akan tetapi ia malu dan insecure dengan keadaan dirinya yang sekarang.Apa lagi melihat Rama, Sasa langsung merasa minder. Kini mereka tidaklah sepadan, dia hanyalah seorang gadis yatim piatu yang tak memiliki apa-apa. Gadis itu pun segera melangkahkan kakinya pergi sambil mengusap sudut matanya yang sudah mulai menetes.
"Loh, Sasa mana ya Ma?" Naina celingak celinguk mencari keberadaan Sahabatnya tersebut. Namun, ia sama sekali tak mendapati dimana Sasa berada.
"Coba kamu telpon,sayang!" Mama Maima mengusulkan agar sang putri menghubungi gadis malang itu.
Naina langsung mendial nomer Sasa, tapi ternyata sudah tidak aktif.Rasa khawatir kembali menderanya.
"Tidak aktif,Ma. Bagaimana ini? Sasa, kenapa sih loe berbuat kayak gini.Loe sudah ngak mau menganggap gue sebagai sahabat lagi, apa?" Naina sangat sedih karena ternyata Sasa tetap menghindarinya malah semakin menjauh.
"Ayo sayang, kita pulang. Nanti malam kita akan dinner dengan keluarga om Varell, om Zack dan om Doni.Nanti, kita pasti akan mencari Sasa,sayang.Jangan sedih ya!" Maima menangkup wajah sedih sang putri.
Sebelumnya Naina meminta izin untuk pergi ke toilet sekalian ia ingin mencari Sasa mungkin saja dia masih berada di sekitaran hotel.
Tubuh Naina tersentak ketika merasakan lengannya disentuh oleh seseorang. Ia menoleh dan tersenyum melihat siapa gerangan orang itu.
"Mas Rava–."
"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, Nai.bisa kan, sebentar saja kita ketempat lain!"
Mereka pun melangkah beriringan menuju ke suatu tempat yang tampak sepi dan nyaman.
"Duduk, Nai!"
"Hmm...ada apa ya Mas?jangan lama-lama ya, mama dan papa sedang menungguku." Pandangan Naina masih belum fokus, ia masih melihat di sekitar hotel dan sesekali memperhatikan orang-orang yang berlalulalang tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Tolong fokus lihat kesini sebentar,Nai. Aku ingin berbicara serius ini!"
"Oke, maaf ya Mas. Jadi, apa yang ingin Mas Rava bicarakan?"
__ADS_1
Merasa tidak enak, akhirnya Naina memfokuskan pandangannya dengan menatap lekat wajah Rava yang memang tampak begitu serius dan agak tegang.
"Naina...sudah sejak lama aku memendam rasa padamu dan sekaranglah saatnya aku ingin me gungkapkan segalanya.
"Nai, aku menyukaimu dan sayang sama kamu. Maukah kamu menjadi kekasihku, Nai?" Meraih jemari Naina dan menggenggamnya.
"Mas–mas Rava serius? ngak lagi ngeprank aku kan?"
Naina mengernyit dan menatap curiga pada Rava.
"Iya, aku benar-benar serius sama kamu, Nai. Mau ya?"
"Aku ngak nyangka ternyata Mas Rava juga memiliki rasa yang sama denganku. Apakah ini adalah jalan keluarnya agar aku tidak akan menyakiti hati Sasa? "
Wajah Naina telah merona malu karena ini adalah kali pertamanya ada seorang laki-laki yang memintanya untuk menjafi seorang kekasih.
"Bagaimana, Nai?"
"I–iya Mas, aku mau menjadi pacar Mas Rava."
"Benarkah...?"
Naina mengangguk dan tersenyum manis dan penuh ketulusan. Seketika wajah Rava langsung sumringah dan mencium punggung tangan sang gadis pujaan hati.
"Terima kasih ya, Nai sudah mau menerima cintaku."
"Iya, Mas.Sama-sama."
Dari kejauhan Maima dan Rani melihat kedua putra putri mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Senyum bahagia tersemat di wajah kedua mama cantik tersebut.
"Mai, sepertinya kita akan segera berbesanan nih?" Rani mengulum senyumannya.
"Iya, Ran. Akhirnya cita-cita kita bakal kesampaian juga ya." Begitupun Maima, wanita itu juga tak kalah sumringahnya.
Sedangkan Rama yang mendengar celotehan kedua mama cantik itu seketika berubah menjadi tak bersemangat ada rasa kecewa di dalam hatinya.
"Kenapa harus elo sih, Rav?"
__ADS_1
T A M A T