Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
117. Extra Part 2


__ADS_3

Rama menarik tangan Sasa dan membawanya menuju ke parkiran. Gadis itu diam saja dan tak ingin mengikuti keinginan Rama. Karena gemas dan kesal, rama lalu membopong tubuh Sasa dan menghempaskannyanya ke dalam mobil secara paksa. Mau tidak mau akhirnya Sasa pun hanya pasrah akan keinginan Rama.


Sepanjang perjalanan Sasa tetap tak bergeming. Gadis itu begitu kesal dengan sikap Rama yang seenaknya. Hubungan mereka bahkan tidaklah sedekat itu, bahkan bisa di bilang tidak baik-baik saja. Sasa sudah bertekad tidak akan berurusan lagi dengan Rama. Ia akan menganggap tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka.Ah– bukan, Akan tetapi dirinyalah yang telah membuat dirinya sendiri kesusahan dan akhirnya merasakan patah hati.


Pernyataan cintanya langsung di tolak secara terang-terangan. Cintanya bak layu sebelum berkembang. Sasa sudah ikhlas akan hal itu.


"Kenapa diam saja, apa kamu marah padaku?"


Rama menoleh sekilas pada gadis di sebelahnya yang terus menatap kaca jendela di samping kirinya. Sasa sama sekali tak ingin menatap wajah laki-laki yang begitu menyebalkan itu.


"Sudah tahu pake tanya...ck." Sasa berdecak sebal hanya melirik sekilas pada lelaki di sampingnya kemudian kembali menatap ke arah kaca jendela lagi.


"O–sorry ya kalau dah buat kamu kesal. Habisnya kamu itu ngegemesin banget sih, coba kalau nurut dan bersikap manis pasti aku ngak akan sampai memaksamu, kan."


Mendengar perkataan Rama yang seakan menyalahkannya dan membenarkan segala perbuatannya yang menyebalkan itu.


"Hmm...terserah tuan Rama saja."


"Nah, begitu kan manis.Sudah...tu muka jangan ditekuk gitu, sudah jelek malah bisa tambah jelek nanti." Rama melihat mimik wajah Sasa lewat pantulan kaca spion. Ia menarik sudut bibirnya dan tersenyum simpul.


"Eh–stop...stop!berhenti, aku akan turun disini saja.Itu tempat kerjaku di depan sana.Kamu tidak perlu membantuku untuk meminta izin, soalnya aku juga ngak janji bisa datang ke acara resepsi nanti malam."


"Siapa yang..."


"Terima kasih ya, Ram. Tolong sampaikan maafku pada Naina dan Rava kalau aku mungkin tak bisa hadir."


"Brakk." (suara pintu mobil)


Baru saja Rama ingin menyanggah ucapan Sasa, namu gadis itu malah lebih dulu memotong perkataannya dan itu membuatnya kesal. Apalagi ketika gadis itu langsung melenggang pergi begitu saja tanpa menoleh.


Sedetik kemudian Rama pun keluar dan langsung mengejar langkah Sasa yang belum begitu jauh. Dengan sigap ia mencekal lengan sang gadis dan menariknya hingga tubuh Sasa mendarat di dada bidangnya. Sejenak manik mata keduanya saling mengunci dan saling mematung. Sampai Sasa mulai tersadar dari keterpanaannya, lalu refleks sebelah tangannya mendorong tubuh kekar Rama.


"Kamu apa-apaan sih, Ram?kan aku sudah bilang nanti aku akan memberi kabar pada Naina dan aku rasa tidak ada kewajiban apa pun untuk menuruti segala keinginanmu. Lagi pula kita tidak memiliki hubungan apa pun, kan." Sasa tampak kesal dan memang sejak tadi telah menahan amarahnya terhadap laki-laki yang pernah menorehkan kekecewaan di hatinya


"Ayo...aku akan berbicara langsung pada boss mu. Jadi kamu bekerja di Restauran ini?" Tak menghiraukan segala ungkapan kekesalan Sasa, Rama malah menarik tangan Sasa masuk ke dalam Restauran tempat di mana Sasa bekerja.


"Dasar laki-laki egois, si kulkas empat pintu. Awas saja nanti kalau dia berbuat yang aneh-aneh lagi. Sebenarnya apa sih maunya?ish...menyebalkan."


Sasa terus ngedumel dan merutuki Rama, namun hanya berani di dalam hatinya saja. Sebenarnya ada rasa takut juga ketika melihat wajah dingin, datar dan kaku bak kanebo kering yang lupa di masukkan ke dalam wadahnya.

__ADS_1


"Kamu tunggu di sini saja, aku akan ke ruangan boss ku dulu."


Namun, bukannya mengikuti perintah Sasa, Rama malah mengekorinya dan hal itu sontak membuat Sasa menghentikan langkahnya lalu menoleh dan menatap horor pada Rama.


"Aku bilang kan tunggu saja, aku yang akan berbicara dan meminta izin sendiri pada tuan Kevin.Stop...berhenti di situ, jangan ikuti aku lagi!"


"Woyy...Vin!"


"Hah, a–apa mereka sudah saling mengenal ya?" Sasa ternganga menyaksikan kedua laki-laki tampan yang kini tengah saling berpelukan dan saling menyapa dengan begitu akrab.


"Ram, kapan loe balik dari London?"


"Sekitar satu bulanan yang lalu. Wah, keren loe ya sekarang Vin. Restauran loe oke juga, nih. Sukses ya."


"Ya beginilah Ram, thanks ya. Oh ya, by the way ada apa nih gerangan elo sampe nyangsrang di mari?loe tahu dari siapa alamat Restauran gue ini.Eh...sampai lupa, ayo mending ke ruangan gue aja." Kevin pun bergegas mengajak Rama menuju ke ruangan pribadinya.


Sedangkan Sasa masih dengan mode keterkejutannya, gadis itu masih setia berdiri tak bereaksi apa pun. Sampai sebuah suara Rama yang memanggil namanya.


"Sasa...woi, Sa ayo ikut! kenapa malah melamun di situ."


"Eh, i–iya.maaf."


"Heh–kenapa gue malah minta maaf,yang salah kan dia. Dasar si Rama cowok kulkas empat pintu super egois." Sasa kesal namun tetap menurut dan mengekori kedua laki-laki tampan tersebut. Sambil mengacungkan kepalan tangannya ke arah Rama yang melangkah di depannya.


Sasa berdiri tak jauh dari kedua laki-laki tampan yang masih asik bersenda gurau.Mereka sesekali tertawa lepas bahkan Sasa sampai tak bisa mengalihkan penglihatannya pada dua sosok yang begitu bersinar dan membuat hatinya berbunga-bunga bak seorang putri diantara dua pangeran tampan dengan kuda putihnya. Itulah kira-kira kehaluan yang tengah di rasakannya.


ctekk ctekk (suara jentikkan jari)


"Sa...kenapa loe?jiah, dia malah melamun.Woyy...!" Rama berteriak cukup kencang tepat di hadapan Sasa yang masih fokus berhalu ria.Dan ketika tersadar tentu saja gadis itu terjingkat kaget lalu segera menggeleng-gelengkan kepalanya mengembalikan kewarasannya.


"Eh iya, ada apa pak? apa ada yang bisa saya bantu?" Dan akhirnya yang keluar malah ucapan ketika ia sedang melayani seorang konsumen.


Rama sampai menahan tawanya melihat tingkah lucu dan menggemaskan Sasa. Sedangkan Kevin mengernyitkan keningnya melihat sikap salah tingkah salah satu karyawannya itu.


"oh iya, Sa.Tolong kamu pesankan makanan dan minuman. emm...menu spesial di cafe kita ini." Kevin tersenyum ramah seketika membuat Sasa meleleh.


"Ahh...senyimmu boss, bikin hati ini adem ayem. Eh, mikir apaan sih gue?" Sasa mengangguk kikuk dan melangkah keluar sambil menepuk-nepuk jidatnya.


Sepeninggal Sasa, Rama baru teringat kembali akan tujuannya datang ke Restauran itu.

__ADS_1


"Vin, sorry nih. Sebenarnya gue kesini nih ada perlu sama loe. Ya, ini juga ada hubungannya sama Sasa salah satu karyawan loe itu."


"Sasa–jadi, kalian sudah saling kenal toh? pantes loe kok kayaknya udah akrab banget sama dia. oke, apa yang bisa gue bantu buat elo?"


Kevin mulai menanggapi serius akan maksud dari Rama yang tiba-tiba saja muncul dan ternyata kedatangannya itu ada hubungannya dengan Sasa gadis yang saat ini tengah menyita perhatiannya.


"Gini Vin, gue mau minta izin buat Sasa. Gue mau mengajak dia ke acara resepsi pernikahan sahabat gue, Rava. Loe masih ingat kan sama Rava?"


"Ah iya, Rava...tentu saja gue ingatlah. Jadi, dia sudah married? wah– kesalip nih kita,Ram." Jawab Kevin sambil cengengngesan.


"Sorry-sorry, gimana? jadi loe mau gue kasih izin buat Sasa gitu. Memangnya loe sama Sasa ada hubungan apa?"


"Sasa itu pacar gue, Vin.Jadi, boleh kan."


Bersamaan dengan itu Sasa telah kembali dengan membawa senampan yang berisi makanan dan minuman yang tadi di pesan oleh sang boss. Tapi, mendengar ucapan Rama yang ngadi ngadi itu membuat gadis itu mendelik tak suka pada Rama yang tengah tersenyum manis pada nya.


"APA? eh, maaf ini pak pesanan anda."


Sasa meletakkan hidangan teraebut dia atas meja tepat di hadapan Kevin dan Rama. Sekilas Sasa menatap tajam kearah Rama.Namun, laki-laki itu cuek bebek saja tak menghiraukan Sasa yang sudah memerah menahan amarahnya.


"Begitu ya Ram, gue ngak nyangka kalau Sasa ternyata pacar loe. Tentu saja gue bakal mengizinkannya.Sa, sekarang kamu bersiap-siap dan selamat bersenang-senang. Sampaikan salam dan ucapan selamat gue buat Rava ya, Ram."


Kevin tersenyum namun hatinya sama sekali tidak ikut bersika cita mendengar akan kenyataan pahit itu.


Dan Rama pun mengangguk mengiyakan semua yang di katakan oleh Kevin.


Kini Sasa kembali berada di dalam mobil yang tengah di kendarai Rama menuju ke suatu tempat.Gadis itu mengernyit bingung ketika berhenti di depan sebuah butik yang cukup ternama di kota Jakarta.


"Ngapain kita berhenti di sini? Ram–anter balik gue pulang. Nanti kita keyemuan di hotel saja."


Rama sama sekali tak mengindahkan perkataan Sasa. Ia keluar kemudian memutar arah dan membukakan pintu mobil untuk Sasa.


"Ayo turun! iya, setelah ini gue akan mengantar loe pulang. janji deh–."


Sesuai dengan janji yang di ucapkannya tadi. Rama mengantar Sasa pulang ke tempat kos-kosannya. Sasa bergegas masuk ke dalam ketika Rama juga telah pergi dan sebelumnya laki-laki itu mengatakan akan kembali untuk menjemputnya ke acara malam nanti.


Sasa meletakkan paper bag yang berisi sebuah gaun untuk di kenakannya nanti malam. Ia mengeluarkannya dan mematutkannya di depan cermin.


"Cantik banget, sebenarnya apa sih maksud Rama berbuat seperti ini?"

__ADS_1


"Hhh..."


Tbc


__ADS_2