
Luis begitu kaget melihat wanita hamil yang ternyata adalah istri dari colega bisnisnya. Banyak pertanyaan yang ada dalam benaknya.
Kalau benar Rani istri dari seorang Varell Darmanto sang pengusaha sukses, lalu untuk apa dia bekerja sebagai art lagi? Rasa penasarannya harus segera dituntaskan. ia akan bertanya langsung besok pada saat wanita itu masuk kerja kembali.
"Sayang, kenalkan ini rekan bisnisku. tuan Luis Ferdinand." mengapit pinggang sang istri mesra. Varell memperkenalkan Rani pada Luis yang merupakan salah satu rekan bisnisnya.
Luis berpura-pura tidak mengenal Rani, ia menjulurkan tangannya hendak menjabat tangan Rani.
Sedangkan Rani sudah tidak bisa dikatakan lagi rasanya dadanya berdegup kencang, ia takut sampai sang majikannya memberitahu keluarganya kalau ia bekerja, terutama sang suami. sudah dipastikan Varell pasti akan sangat murka.
"Maharani Putri." membalas jabatan tangan Luis tak berani bersitatap dengan sang majikan.
"Istri anda cantik sekali tuan Varell. Selamat ya, semoga dilancarkan sampai kelahiran nanti." tatapannya tak lepas pada Rani. Varell yang sadar akan hal itu mengerutkan keningnya.
"Kenapa dia terus menatap Rani seperti itu? apa dia menyukainya? "
Acara syukuran 4 bulanan kehamilan Rani telah berjalan dengan lancar. Para penghuni rumah pun sudah masuk kekamarnya maaing-masing.
Tak terkecuali Varell dan Rani. ya, karena malam ini harus menginap di rumah orang tua mereka, maka Rani akan tidur dikamar sang suami. Rani begitu gugup berada satu kamar dengan Varell.
Tepatnya rasa takut yang lebih mendominasi dihatinya.Rani hanya diam terpaku tak berani melakukan apapun. ingin bertanya sesuatu ia takut suaminya akan marah dan salah paham lagi dengannya.
"Sedang apa kau disitu? kau mau tidur sambil berdiri?" berbicara sambil memainkan ponselnya. Varell telah naik keatas ranjangnya bersender pada kepala ranjang.
"Mas, apa boleh Rani tidur diranjang juga?" menunduk tak berani menatap mata Varell yang menyorot begitu tajam padanya.
__ADS_1
"hmm, tidurlah!." meletakkan ponselnya dimeja nakas samping tempat tidur, lalu menarik selimutnya.
Rani perlahan menaiki tempat tidur dan merebahkan diri disamping suaminya dan bergeser agak menjauh hampir kepinggir ranjang.
"Kenapa dia terus bergeser sampai kepinggir seperti itu? apa dia takut padaku ya? ah bodo amat."
Berbalik memunggungi sang istri hingga terlelap tanpa berucap apapun lagi. Rani menghela nafasnya dalam merasa lega karena suaminya sepanjang hari ini tidak kesal padanya.
----‐-------
"Ma , pa....setelah ini kami akan langsung pulang ke Apartemen." Setelah sarapan usai, Varell langsung mengutarakan keinginannya itu. Rani hanya melirik sang suami.
"Apakah tidak sebaiknya kalian menginap untuk beberapa hari lagi Rell, mama kangen banget sama Rani dan calon cucu mama ."menatap kecewa pada sang putra.
"Iya kan Ran, kamu masih mau disini nemenin mama kan?" mama Sandra mulai membujuk sang menantu kesangannya.
"Kalau Rani sih.... diam sejenak melihat sang suami yang menatapnya tajam.
"Tuh Rell, kalau kamu mengijinkan Rani juga oke saja kan." masih terus mencoba membujuk putranya.
"Enggak ma, pokoknya kami akan tetap pulang." tetap pada pendiriannya tak mau mengalah pada sang mama.
Sudahlah ma, terserah mereka saja. jangan memaksa. mama kan bisa mengunjungi Rani kapanpun mama mau." Papa Tyo memberikan solusi diantara perdebatan antara istri dan putranya.
"Iya iya, nanti mama yang akan berkunjung ketempat kalian." memasang muka masam, namun akhirnya mengalah juga.
__ADS_1
Hari berikutnya, Rani sudah kembali bekerja. Seperti biasa tepat pukul sembilan pagi ia sudah berada di apartemen Luis.
Membersihkan seluruh ruangan dan ketika akan masuk kekamar majikannya itu, Rani terkejut karena bersamaan saat ia akan membuka pintu tiba-tiba muncul Luis yang juga membuka pintu kamarnya.
"Astaqfirullah, Tuan Luis mengagetkan saja. eh maaf tuan!." Luis tidak menjawab, ia malah tersenyum dengan wajah tampannya.
Rani kemudian masuk kekamar itu dan membersihkannya.
"Ran, setelah ini aku mau bicara padamu." ternyata Luis belum benar-benar turun kebawah. ia berbalik kembali kedalam kamar.
"Astaqfirullah, ah i...iya tuan." mengelus dadanya karena kaget untuk kedua kalinya. setelah selesai, Ranipun beranjak turun dan menghampiri sang majikan yang telah duduk santai di atas sofa. Sebelum itu Rani kedapur terlebih dahulu untuk membuatkan kopi untuk Luis.
"Ini tuan kopinya, silahkan !" meletakkan secangkir kopi itu ataa meja.
"Duduklah!" Ranipun duduk di sofa itu.
"Sebenarnya apa tujuanmu bekerja, maaf bukan maksudku untuk ikut campur masalah pribadimu. akan tetapi aneh saja, istri seorang pengusaha sukses bekerja menjadi art. apa ada sesuatu diantara kalian yang tidak boleh diketahui oleh siapapun?"
Rani tertunduk diam, ia bingung apakah ia harus berkata jujur pada majikannya itu.
"Maaf tuan saya tidak bisa mengatakannya pada anda. jika memang tuan keberatan dan tidak merasa nyaman. saya akan siap behenti bekerja pada anda." berdiri dan hendak melenggang pergi.
"Bukan begitu Rani, saya senang kamu ada disini. apa tuan Varell tidak memperlakukanmu dengan baik?"
"Anda tidak berhak tahu tuan."
"Saya ingin tahu dan akan mencari tahu sendiri.karena saya...."
__ADS_1
"Menyukaimu Rani! bahkan sebelum kita bertemu."
Tbc