
"Iya, Fakta bahwa Ayu saat ini sedang mengandung anak Zack, mom!"
Ayo sontak membulatkan matanya, ia begitu tak percaya jika Zack berbuat ulah kembali dengan menciptakan satu kebohongan yang lainnya.Ia memejamkan bola matanya lalu menarik nafas panjang. Berusaha menguatkan hati dan kesabarannya.
Zack mendekat dan berbisik pelan tepat di telinga Ayu.
"Ikuti saja permainanku,manis!" Tersenyum menyeringai pada sang gadis.
"Saya rasa anda memang sudah gila,tuan!?" Ayu membalas dengan cara berbisik jg. Jadi kini dua insan itu malah tengah asik saling bisik membisik.
"Aku memang sudah gila, manis. Gila karena dirimu dan saat ini aku benar-benar tergila-gila pada dirimu, sayangku!"
"Dasar gombal dan pembohong ulung! jangan harap saya akan menuruti permainan anda tuan!?"
"Benarkah? atau aku realisasikan saja untuk kebohongan yang satu ini? aku rasa kamu takkan bisa menolaknya?"
"Ish—dasar, mesum! laki-laki menyebalkan!"
"Ah, sayangku. kamu jadi bertambah manis kalau sedang marah."
Mereka tidak sadar kalau sedang di perhatikan oleh kedua orang tua Zack. Mommy Sinta tersenyum menyeringai, entah apa yang ada di dalam pikirannya?
Sedangkan Daddy Edward menggelengkan kepalanya melihat kelakuan tengil putranya.
"Ekhem...Apakah itu benar, son?"
Mendengar suara daddy Edward yang berdehem, sontak membuat keduanya menghentikan debat mode berbisik itu
"Oh, iya dad. Tentu saja benar!di sini sudah ada calon cucu kalian!" Zack menyentuh perut Ayu dan spontan gadis itu menepisnya sambil memelototkan mata bulatnya.
"Sudah berapa minggu?" Kali ini mommy Sinta yang berpura-pura bertanya. Ia ingin meladeni permainan yang sedang di gagas sang putra.
Terdiam sejenak menatap wajah gadis disebelahnya lalu tersenyum nakal dan di balas dengan plototan maut dari Ayu.
"Baru 3 minggu, mom dan kami sangat bahagia akan kehadirannya. Iya kan,sayang?"
Ayu menatap jengah laki-laki yang selalu membuatnya kesal dan sangat menjengkelkan itu.
Mommy Sinta berbisik pada sang suami lalu, mengajaknya ke ruang kerja daddy Edward. Ke dua insan yang masih saling berpandangan, yang satu memandang penuh damba?sedangkan yang satunya menatap emosi.Ketika Zack menoleh, ternyata kedua orang tuanya sudah tidak di tempat.
"Loh, mommy dan daddy kemana? ah, biarkan saja. kebetulan sekali. aku akan bernegosiasi pada gadis manis ini!"
"Baiklah manis, aku ingin menawarkan suatu kesepakatan kepadamu. ehem...begini, seperti tadi yang telah kamu dengar.Bahwa kamu sekarang sedang hamil anakku.Maka, secepatnya kita akan menikah! Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau. Dan kamu tidak perlu bekerja lagi sebagai baby sitter! cukup duduk manis dan berperan sebagai istri tercintaku!"
__ADS_1
Ayu kembali si buat menganga, kepalanya jadi semakin pusing mendengar semua ocehan Zack. Dalam beberapa hari saja mereka baru saling mengenal dan sekarang laki-laki itu memintanya untuk menikah? yang lebih parahnya lagi ia di bilang tengah hamil anaknya?Ayu, memijat-mijat pelipisnya merasakan kepalanya berdenyut.
"Haduh, kepalaku nyut-nyut-an ini? kenapa jadi semakin semrawut begini? apa yang harus aku lakukan? dan lagi, kenapa juga nyonya itu tidak berkata yang sebenarnya?"
Ayu merutuki keadaan yang tengah menghimpitnya. Ia telah masuk dalam jebakan dan permainan laki-laki pemaksa itu.
"Bagaimana sayang, manisku? oke, kita sudah sepakat kan?" Zack mengerlingkan matanya genit.
"Tidak tahu? huh...apa kamu tahu Tuan, anda itu sangat menyebalkan!"
"Jadi—artinya kita sudah sepakat ya?" Mencolek pipi mulus Ayu yang sedikit chubby.
"Ish...genit!?" Menarik jari telunjuk Zack dan akan menggigitnya. Hingga membuat Zack terbelalak lalu kemudian tersenyum nakal.
"Oww—ternyata calon istriku ini sudah tidak sabar ya? gigit menggigitnya nanti saja ya sayang, kalau sudah sah?"
"Whatt...?"
Di saat mereka masih asik berdebat mesra? itu jika di lihat orang lain yang tidak tahu hubungan mereka yang sebenarnya. Mereka kembali tidak menyadari kalau Mommy Sinta dan Daddy Edward sudah duduk manis di hadapan mereka. Hingga suara teguran dari sang mommy mengagetkan Zack.
"Zack...Ayu!"
"Eh, iya mom! maaf kami sedang serius membicarakan rencana pernikahan kami nanti."
Mommy Sinta memasang wajah seriusnya. Namun, di dalam hati ia menahan tawa melihat ke ngeyelan putra semata wayangnya itu.
"Bagaimana pun, kami juga sangat bahagia karena sebentar lagi akan menimang cucu. Iya kan, dad?" Mommy Sinta menhedipkan matanya pada Daddy Edward dan di balas dengan senyuman.
Sebenarnya Ayu ingin sekali memprotes dan menolaknya. Tapi, apa daya ia sama sekali tak bisa berkutik. Mereka semua sepertinya memang cocok jika di juluki sebagi keluarga egois, tak mau di bantah apa pun yang di inginkannya.
"Lalu, Ayu bagaimana mom? apa dia boleh tinggal di rumah kita? secara kan sebentar lagi Ayu akan menjadi istri Zack!"
Wajahnya berubah semakin sumringah karena ia akan segera menikahi Ayu dan terbebas dari si licik tamara.
"Ya, tidak bisa dong Zack. Sekarang kamu antarkan Ayu ke rumah Varell! kamu sampaikan pada keluarga Darmanto bahwa kalian akan menikah esok lusa. Setelah itu, bawa Ayu kembali ke sini!"
"Siap Mom!" Dengan semangatnya, Zack langsung menarik tangan Ayu sampai ia bangkit dari duduknya, lalu mereka beranjak pergi menuju ke rumah kediaman keluarga Darmanto.
"Kami berangkat dulu ya mom, dad!"
"Iya, hati-hat! Jangan ngebut-ngebut ya Zack, ingat ada cucu mommy!?" Ayu cengo tak bisa berkata apa-apa lagi. Kelakuan ibu dan anak itu tak ada bedanya 11-12.
__ADS_1
Sementara itu di waktu yang sama, di kediaman keluarga Darmanto. Rani tampak gelisah, ia masih memikirkan keadaan sang baby sitter nya, Ayu. Sudah hampir sore namun, gadis itu belum juga di antar pulang oleh Zack.
Varell yang melihat kegelisahan sang istri pun menghampirinya, lalu duduk tepat di sebelahnya. Saat ini mereka tengah berada di ruang keluarga.
"Ada apa sayang? kamu kok terlihat gelisah sekali? apa kamu memikirkan tentang Ayu?" Varell mengusap lembut kepala sang istri.
"Ya, tentu saja mas. Ayu itu kan sudah Rani anggap seperti adik sendiri. Kasihan dia,di kota ini tidak punya siapa-siapa. Sebenarnya apa sih maunya kak Zack?" Kesal Rani mengingat perlakuan Zack terhadap Ayu yang selalu memaksakan kehendaknya.
"Mas, tolong telepon kak Zack! tanyakan apa yang di lakukannya pada Ayu? semoga saja kak Zack tidak berbuat macam-macam lagi?"
"Iya, mas telponkan sekarang! jangan su'udzon dulu sama orang sayang! walaupun Zack mempunyai sifat yang super aneh. Tapi, dia adalah laki-laki yang baik. Percayalah, Ayu tidak akan kenapa-napa!" Varell menenangkan sang istri.
"Ya sudah, ayo cepat mas telepon sekarang!" Tak sabar.
"Iya—iya, ini mas telepon sekarang!" Meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, kemudian langsung mendial nomor Zack.
"Hallo, Zack! dimana Ayu sekarang?tolong cepat antarkan pulang! ini Rani sangat khawatir padanya?"
"Iya–iya Rell, sabar. ini kami juga sedang dalam perjalanan ke rumah kalian!"
"Oh, ya sudah kalau begitu. Ayu, ngak loe apa-apain kan Zack? awas loe kalau sampai dia kenapa-napa ya!"
"hahaha...beres bosa, Ayu masih utuh tak kurang satu apa pun!tapi, mungkin sebentar lagi ya bakalan gue apa-apain juga sih?"
"Kenapa loe malah ketawa? maksud loe apa?"
"Sudah, nanti gue bakal ceritain semuanya. Oke!?"
"Iya, oke!'
klekk
"Gimana mas? Ayu baik-baik saja kan?kak Zack bilang apa?" Rani ternyata juga sangat penasaran mendengar perbincangan suaminya dengan Zack di telepon tadi.
Varell meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Kemudian duduk di sofa dan bersender di pundak sang istri dengan nyamannya.
"Ayu baik-baik saja kok sayang. jangan khawatir! Tapi, kok aneh ya sama omongannya si Zack? seperti ada sesuatu gitu?"
"Apa mas?"
Varell tak menjawab, ia hanya mengangkat kedua bahunya.
Tbc
__ADS_1