Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
33.Rava Abinawa Darmanto


__ADS_3

Semua bersuka cita dengan hadirnya kembali Rani bersama mereka. Terutama Varell dan juga baby Rava yang imut dan menggemaskan.


Baby boy milik Rani dan Varell diberi nama Rava Abinawa Darmanto.


Untuk pertama kalinya Rani bisa mendekap sang buah hati. Air mata terus menetes membasahi pipi halus bak porslen itu. Ia terus mengecupi pipi seluruh permukaan wajah nan imut baby Rava.


Seminggu setelah kepulangan Rani dari rumah sakit, keluarga Darmanto akan mengadakan acara syukuran atas kesembuhan ibu muda itu.


Semua sanak keluarga terdekat diundang dan juga para sahabat. Tak terkecuali Maima yang sudah pasti hadir. Dan Trio sohib Varell Rangga, Doni dan Zack. Tak lupa mereka mendatangkan para anak Yatim piyatu dari panti asuhan.


Rani tampak cantik dengan balutan gaun muslimah broklat berwarna hijau botol. Varell dan baby Rava pun mengenakan baju koko dengan warna senada. Mereka tampak kompak dan serasi sebagai keluarga kecil nan harmonis.


Acarapun terlaksana dengan lancar dan sukses, Pihak keluarga memberikan santunan bagi para anak panti asuhan. Rani dan baby Rava sudah masuk kekamar ditemani oleh Maima dan mama Sandra.


Baby Rava sangat anteng jika di gendong oleh ontynya itu. Mereka mengobrol sebentar melepas rasa rindu setelah sekian lama.


"Ran, Baby Rava sangat menggemaskan deh. muach....muach.... menciumi pipi gemil baby Rava. Rani hanya terkekeh melihat sahabatnya itu yang begitu gemas pada bayinya.


"Wah, Mai....sepertinya kamu sudah pantas deh punya baby sendiri. yo wes, gek uwes Mai!" mama Sandra menggoda Maima


"Ah, Tante bisa saja. Pasangan aja belum punya kok, apalagi mau buat seperti baby Rava ini." Maima tersipu malu.


"Loh, kan tinggal bilang saja sama Zack. Minta cepat-cepat dilamar begitu Mai."


Selama ini mama Sandra mengira bahwa Maima dan Zack sedang menjalin suatu hubungan. Karena sering melihat keduanya selalu tampak bersama.


"Tidak tante, kak Zack dan Maima tidak ada hubungan apa pun. Kami cuma berteman saja kok tan."


Maima jadi merasa malu karena selama ini semua orang telah salah faham terhadapnya.


"Iya benar Mai, ada apa-apapun tidak apa-apa kok. Itu malah lebih bagus kan?" Rani ikut mengompori.


"Benar Ran, lagipula aku belum berpikir sampai kearaj sana. Mau menabung dulu."

__ADS_1


"Kalau kamu menikah sama Zack, kamu ngak usah repot-repot bekerja Mai. Zack itu kaya raya loh." Maima enggan menanggapi ucapan Rani, ia lebih memilih bermain dengan baby Rava.


Setelah hampir satu jam sesi mengobrolnya, mama Sandra meninggalkan mereka. Bi Munah memanggilnya karena para sanak keluarga ingin berpamitan.


"Ran, Mai mama kebawah ya." Rani dan Maima menjawab dengan mengangguk.


Tak ada pembicaraan lagi diantara dua sahabat itu, namun tiba-tiba baby Rava mulai merengek sambil menghisap jempolnya. Sepertinya bayi itu kehausan.


"Ran, ini kayaknya Rava haus deh. Ini disusui dulu, kasihan!" Maima meyerahkan baby Rava ke pangkuan Rani. Dan benar saja setelah beberapa menit bayi mungil itupun tertidur pulas.


Kemudian Rani meletakkan baby Rava kedalam box bayinya. Setelah itu ia mendekati Maima yang masih terdiam duduk diatas sofa.


"Hei, Mai....kenapa melamun, mikirin apa sih?" Maima yang ditegurpun tergelak kaget.


"Eh, Aduh Ran, kamu ini bikin kaget saja. aku ngak lagi mikirin apa-apa kok."


"Mai, emm....bukan maksud Rani ingin turut campur masalah pribadimu. Sebenarnya bagaimana sih perasaanmu pada kak Zack?" Rani memberanikan diri bertanya pada sang sahabat karena ia melihat ada yang aneh dengannya.


"Maaf Ran, aku belum bisa cerita apa-apa. Memang tidak ada yang perlu diceritakan. Aku sudah bisa mengambil pelajaran dari kejadian yang lalu dan tak mau banyak berharap, apalagi bermimpi terlalu tinggi. Aku tahu siapa diriku ini Ran." Menunduk sambil jemarinya memelintir ujung dressnya.


"Tentu saja boleh onty Maima." Gadis itupun tersenyum senang lalu keluar dari kamar Rani.


Maima berjalan menuruni anak tangga, ia berpas-pasan dengan Varell yang akan keatas. Ia lalu sekalian berpamitan dan melanjutkan langkahnya.


Sesampainya ia diruang tamu, Maima bernafas lega karena suasana diruangan itu sudah sepi. Hanya ada mama Sandra dan Papa Tyo yang masih asik bercengkerama bersama.... Dan mata Maima pun terbelalak karena ada Zack ikut mengobrol bersama mereka.


Maima mencoba bersikap biasa saja. Gadis itu mendekat, lalu berpamitan pada mama Sandra dan Papa Tyo.


"Om, tante. Maima pamit pulang ya." menyalimi kedua orang tua tersebut.


Berpura-pura tidak melihat adanya Zack, Maima langsung terburu-buru melangkah keluar.


Mama Sandra menatap tajam pada Zack. Seakan memberi kode kalau ia harus menyusul gadis itu.

__ADS_1


Tanpa menunggu waktu lama, Zackpun langsung berlari mengejar Maima yang sudah berada dihalaman rumah tengah melangkah menuju gerbang depan.


"Mai....Maima tunggu!" Zack berlari dan berteriak memanggil Maima yang lumayan sudah melangkah cukup jauh. Gadis itupun kembali menghentikan langkahnya lalu berbalik badan dan menatap pria tampan yang melangkah semakin mendekatinya.


"Iya, ada apa ya kak? Maaf, aku harus segera pulang kak. Besok aku masuk shift pagi." Hendak lembali melangkah, namun tangannya ditarik oleh Zack.


"Biar aku antar ya, ini sudah larut mala. Berbahaya gadis semanis kamu berjalan sendirian. Ayo masuk, sekalian ada yang ingin aku omongin kekamu Mai." Akhirnya Maima hanya pasrah mengikuti kemauan pria tampan yang cukup pemaksa itu.


Didalam mobil, Maima hanya terdiam. Mungkin karena sudah agak mengantuk, jadi gadis itu malas untuk berbicara. Seperti biasa Zack lah memulai obrolan diantara mereka.


"Mai, minggu depan datang ya keacara ulang tahunku dan juga peresmian perusahaan yang baru saja kubangun. Mau ya Mai, pokoknya kamu wajib datang."


Zack terlihat berbicara sangat serius membuat Maima jadi merasa.tidak enak. Ia sudah berencana tidak akan datang walaupun diundang.


Seperti yang ia katakan tadi pada Rani, bahwa ia tak ingin terlalu berharap pada laki-laki manapun. Apalagi jika menyangkut strata sosial yang jauh berbeda.


"Lihat saja nanti ya kak, aku ngak janji." Maima mengalihkan pandangannya dengan menatap pemandangan lampu-lampu disepanjang jalan.


"Iya, pokoknya aku sangat menunggu kehadiranmu. Kamu adalah tamu teristimewaku."


Maima tidak menjawab, namun berbagai pertanyaan bermunculan dipikirannya. Suasanapun kembali hening sampai mobil berhenti didepan sebuah gang kecil. Maima membuka seat belt nya dan membuka pintu.


Namun ketika hendak turun, Zack mengatakan sesuatu yang membuat Maima menoleh kembali pada pria itu.


"Aku suka dan sayang sama kamu Mai, mau kah kamu menjadi kekasihku?."


DEG


Maima begitu tersentak dengan ucapan dari Zack yang begitu terang-terangan. Ia semakin bingung harus menjawab apa. Ia juga tidak pernah berpikir sampai kearah sana mengenai hubungannya dengan laki-laki itu dan sampai saat ini pun ia menganggap hubungan mereka hanya pertemanan biasa. Bibir Maima kelu tak bisa berkata apapun, gadis itu hanya menatap Zack diam.


""Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang Mai. Tapi aku akan menunggu, aku harap sesegera mungkin. Kalau bisa sih sekarang?" Zack menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, menetralisir kegugupannya.


"Kak....?"

__ADS_1


"Iya, Mai....?"


Tbc


__ADS_2