Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
43.Tempat bernaung yang aman dan nyaman


__ADS_3

"Saat ini....aku sedang hamil kak. aku mengandung bayi dari laki-laki lain."


DEG


Dada Zack bergemuruh, amarahnya mulai bergejolak kembali. Ia sungguh tak mempercayai kenyataan yang satu ini.


"Bayi?" Zack tersenyum menyeringai.


"Drama apa lagi ini Mai? aku tahu, kamu ingin aku melepaskanmu kan Mai dengan mengatakan sesuatu yang akan membuatku kecewa, Begitu kan Mai tujuanmu? Kenapa, kenapa kamu melakukan semua ini?"


"Karena sejak pertama aku memang hanya menganggapmu sebagai teman dan seorang kakak. hanya itu. Jadi tolong pahami dan mengertilah kak!"


"Tidak....aku tidak mau! Diam disini dan jangan kemana-mana! aku akan ke kantor, aku harap kamu akan merubah jalan pikiranmu itu!"


Brakkk


Dari balik dinding kamar tersebut, mama sinta mengepalkan tangannya dan tersenyum menyeringai.


" Jadi seperti itu, dasar wanita j****g! beraninya dia mempermainkan dan memanfaatkan putraku?"


 


Didalam kamar Maima masih tampak gelisah. Sejak ia datang pagi tadi, ia sama sekali belum keluar dari kamar.


Hanya seorang pelayan yang telah ditugaskan oleh Zack untuk melayani segala kebutuhan Maima.


Karena bosan, ia pun mengaktifkan kembali ponselnya yang ia matikan sejak pagi. Terdapat beberapa pesan dan panggilan dari beberapa orang. Ada satu nama yang membuatnya gusar, yaitu Rangga.


"Kak Rangga? untuk apa dia menghubungiku? aku sudah tidak berharap apa pun pada nya. karena sepertinya kak Rangga juga cuek dan tak perduli akan kejadian diwaktu lalu. mungkin memang dia takkan pernah menganggapku? "


"Hhh....sudahlah untuk apa aku memikirkannya?" menghela nafas dalam.


tok tok tok


"Iya, sebentar bi."


ceklekk


"A....da apa ya, tante?" Maima begitu terkejut karena ternyata mama Sinta yang mengetuk kamarnya.


"Masuklah, aku ingin bicara denganmu!" Maima mengangguk dan mengikuti langkah mama Sandra yang telah duduk di pinggir ranjang.


"Oh ya, satu lagi? jangan kamu memanggilku tante! sejak kapan aku mempunyai keponakan seperti mu? Panggil aku nyonya!" Mama Sandra menatap sinis.


"Sebenarnya ada apa dengan mama nya kak Zack, kenapa ia menatapku seperti itu? apa aku telah berbuat salah?" Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya.


"Aku tidak akan berbasa-basi lagi denganmu nona. aku harap sekarang juga kamu pergi dari rumah ini dan tinggalkan Zack!"


"Dan aku sudah mendengar semua percakapan kalian tadi, kamu pikir aku akan berpikiran sama seperti Zack. Menerimamu wanita murahan yang bercinta sampai hamil dengan laki-laki lain, lalu kamu lempar tanggung jawabnya kepada putraku. begitu kan rencanamu?"


Maima terbelalak kaget mendengar perkataan mama Sinta yang mana ia sudah mengetahui semuanya.


"Iya nyonya, saya juga cukup tahu diri. Sebenarnya saya sudah pergi meninggalkannya, namun putra anda selalu mengejar saya. Padahal saya sudah menceritakan semuanya, tapi...."


" Sudah-sudah, aku kesini bukan ingin mendengar kisah hidupmu. yang aku inginkan sekarang kamu pergi sejauh mungkin dan menghilanglah dari kehidupan putraku. Cepat sana, sebelum Zack kembali dari kantor!"


Waktu kini telah menunjukkan pukul sembilan malam, Maima berjalan menenteng tas besarnya menelusuri jalan kembali.


"Sepi sekali? aduh, hujan lagi." Maima mempercepat langkahnya untuk mencari tempat berteduh, karena rintik hujan akan bertambah deras. Ketika ia tengah berlari-lari kecil, tanpa ia sadari ada lubang didepannya dan....


BRUKKK


"aaaahhh....aduh!"


Maima Jatuh tersungkur dengan posisi tertelungkup, ia memegang perutnya yang terasa sakit.

__ADS_1


Ditengah hujan deras dan ditambah rasa sakit pada perutnya yang semakin mendera, Maima sudah tak sanggup lagi untuk berdiri. ia terduduk dipinggir jalan dengan tubuh yang basah kuyup. Sambil mendekap tasnya.


Namun tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat dihadapannya. Maima beringsut mundur, ia takut kalau itu adalah orang yang berniat jahat.


"Mbak, sedang apa di tengah hujan begini? ayo mbak saya bantu! Mari masuk kedalam mobil!"


"Tidak pak, terima kasih."


"Ayolah Mbak, nanti mbak bisa sakit. jangan takut. Kami bukan orang jahat. Mari saya bantu!" laki-laki itupun membantu Maima untuk berdiri lalu memapahnya masuk kedalam mobil.


"Ayo, sini nak!" Ternyata ada seorang wanita paruh didalam mobil, ia langsung meraih tubuh kedinginan itu untuk duduk disebelahnya. Maima jadi merasa tidak enak karena tubuhnya yang basah akan mengotori kursi jok mobil mewah itu.


"Ma...maaf nyonya, saya dibawah saja. baju saya basah."


"Jangan nak, ayo sini tidak apa-apa!" Maima pun akhirnya menurut dan bengkit untuk duduk disebelah wanita paruh baya itu.


Maima hanya terdiam sungkan untuk berbicara lebih dulu.


"Siapa namamu nak? dan sedang apa kamu ditengah hujan duduk sendirian di tepi jalan?" Wanita itu mengusap lembut tangan Maima.


"Nama saya Maima, nyonya. saya...." Ia tak melanjutkan perkataannya, malah air matanya yang jatuh membasahi pipinya.


"Sudah-sudah, tidak apa-apa. tenangkan dirimu dulu. Nama saya Herlina. Kamu mau kan ikut kerumah saya?" Maima pun mengangguk.


Sampailah mereka didepan sebuah rumah yang tampak sangat mewah. Memasuki sebuah gerbang yang menjulang tinggi. dua orang security membukakan pintu gerbang tersebut, mereka membungkukkan kepalanya pada sang majikan.


"Mari sini masuk nak, jangan sungkan!" Ibu Herlina menggandeng tangan Maima yang tampak sungkan untuk masuk kedalam rumah mewah tersebut.


Ibu Herlina lalu memanggil salah satu pelayannya. seorang perempuan yang sudah cukup tua.


"Mbok Sarmi, tolong antarkan nak Maima kekamar tamu ya. biar dia bisa beristirahat!"


"Baik bu." Maima lalu menikuti langkah mbok Sarmi menuju ke lantai atas dimana kamar tamu berada.


Setelah sampai didepan pintu, Maima menolak untuk masuk. " Maaf mbok Sarmi, apa tidak ada kamar pembantu yang kosong mbok?"


"Kenapa nak....?"


"Maima mbok, panggil saja saya Maima. iya, saya merasa tidak enak kalau ditempatkan dikamar yang mewah seperti ini mbok."


"Tidak apa-apa, nanti nyonya akan marah kalau kamu menolak keinginannya nak, sudah ayo masuk. lihat tubuhmu sudah menggigil begitu!" Maima pun akhirnya pasrah dan menuruti perintah mbok Sarmi.


Maima tampak segar dan kini ia tengah duduk ditepi ranjang besar dengan kasur yang sangat empuk serta sprei dan selimut yangbtak kalah lembutnya. terasa begitu nyaman jika merebahkan diri disana.


tok tok tok


"Nak Maima, dipanggil bu Herlina untuk makan malam!"


cklekk


"Iya mbok, sebentar lagi saya akan turun kebawah. terima kasih ya mbok."


Diatas meja makan telah tersaji beraneka ragam menu makanan yang begitu menggugah selera. Maima sampai menelan salivanya menatap semua hidangan tersebut. Perutnya memang sudah sangat keroncongan sedari tadi.


"Duduklah Mai, ayo makan! jangan malu, temani ibu makan ya!"


"Ba...baik bu!" Merekapun makan malam berdua dan Ibu Herlina memperlakukan Maima bak seperti putrinya sendiri.


 


Pagi-pagi sekali setelah melaksanakan sholat subuh, Maima langsung turun menuju kedapur. Mbok Sarmi dan salah seorang pelayan sedang berkutat didapur menyiapkan sarapan pagi untuk sang majikan.


"Pagi mbok Sarmi!"


"Oh, nak Maima. kok sudah bangun?"

__ADS_1


"Iya mbok, saya sudah terbiasa bangun pagi. oh ya, ini siapa mbok?" Maima menanyakan seorang gadis muda yang sedang membantu mbok Sarmi.


"Kenalkan neng, ini namanya Siti. Dia yang bantu-bantu simbok disini."


Seminggu sudah Maima tinggal dirumah itu. Ketika bu Herlina dan pak Jatmiko sedang bersantai di taman belakang, Maima berniat ingin mengemukkakan keinginannya untuk pamit.


"Permisi Pak,Bu. apa boleh saya bicara sebentar?"


" Oh iya, tentu saja boleh. ayo sini duduk Mai!" Bu Herlina menyuruh Maima untuk duduk di kursi tepat dihadapan dengan keduanya.


"Sebelumnya saya sangat berterima kasih atas semua kebaikkan Bapak dan Ibu.oleh karena itu, karena sudah terlalu lama saya berada disini. saya mau pamit pak, bu."


"Pamit? kamu mau kemana Mai? apa kamu tidak betah tinggal dirumah ini?" Bu Herlina tidak mengira kalau Maima berencana akan pergi.


"Bukan begitu bu, saya cuma tidak enak saja. saya disini cuma menumpang makan dan minum gratis. saya berencana akan mencari pekerjaan dan kos-kosan bu."


"Kalau kamu bekerja dirumah ini apa mau Mai? kebetulan si Siti mau pulang kampung dan sepertinya tidak akan kembali lagi kesini. gimana Mai? kamu mau kan?"


"Mau...mau sekali bu, saya bersedia bekerja dirumah ini bu.terima kasih."


Akhirnya Maima dapat bernafas lega, karena ia punya mendapatkan pekerjaan sekaligus tempat bernaung hidup senyaman ini. Bu Herlina pun tersenyum senang.


 


Hari-haripun dilalui dengan penuh semangat dan kegembiraan. Maima merasa sangat bersyukur karena selama sebulan lamanya ia begitu menikmati pekerjaannya dan juga dikelilingi oleh orang-orang yang begitu baik padanya.


Mbok Sarmi dan Maima sedang sibuk mempersiapkan jamuan makan malam yang akan diadakan oleh keluarga sang majikan.


Acara tersebut memang rutin dilakukan oleh keluarga itu. karena kesibukan anak-anaknya dan juga telah tinggal terpisah.


"Mai, ini nanti di sajikan beserta teh dan kopi. setelah selesai acara makan utama ya Mai, kamu antar ke ruang keluarga !"


"Iya Mbok."


"Oh ya, Bu Herlina itu punya anak berapa ya mbok?"


"Mereka memeliki dua orang anak, yang pertama perempuan namanya Erla dan yang kedua nama....."


"Mbok, apa sudah siap semuanya. itu Erla sudah datang bersama suami dan anaknya?" Tiba-tiba bu Herlina memanggil mbok Sarmi.


"Semua sudah siap bu."


Mbok Sarmi dan Maima kemudian kembali ke dapur untuk bersih-bersih. sementara keluarga sang majikan sedang bersantap malam.


"Ayo Mai, kamu bantu bawa minumannya ya!"


"Siap mbok!" Maima memberi hormat sambil terkekeh menggoda mbok Sarmi.


"Ah, kamu ini Mai. ada-ada saja."


Maima muncul bersama mbok Sarmi mengantar makanan ringan dan minuman. Ketika hendak undur diri, tiba-tiba tubuhnya membeku mendengar suara seseorang yang begitu dikenalnya.


"Bagaimana perusahaan dan usaha cafe mu?"


"Baik Pa, semua berjalan lancar."


Maima memberanikan diri untuk melihat orang tersebut dan seketika ia terbelalak kaget.


"Rangga, sering-seringlah pulang kerumah. kasihan mama dan papa. Atau kamu secepatnya carilah pendamping hidup, biar mama tidak kesepian!"


"Terima kasih ya Mai!"


"Iya bu, sama-sama."


Rangga yang mendengar suara itupun refleks menoleh dan...."

__ADS_1


"Maima!?"


Tbc


__ADS_2