Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
29.Malapetaka


__ADS_3

Maima merasa risih menerima telepon dari Zack yang notabennya adalah sahabat dari Rangga. Dan entah mengapa jadi merasa tidak enak hati ketika berbincang dengan laki-laki lain didekat Rangga. Padahal ia sudah bertekad akan melupakan segala rasa yang pernah ada untuk laki-laki itu.


"Iya maaf kak, hari ini aku off. tukeran shif sama temenku. Besok baru masuk kerja lagi."


"-------------"


"Tidak usah kak, nanti merepotkan!"


"-------------"


"Baiklah, terserah kakak saja."


Rangga terus memperhatikan perbincangan Maima dan ai penelpon. ia sangat penasaran siapa orang itu. apalagi ketika ia tahu bahwa yang menelpon gadis itu adalah seorang pria. samar-samar terdengar ditelinganya. "Kakak, apa itu kakaknya? tapi setahuku Maima anak tunggal atau saudara sepupunya. bisa jadi sih? ah...ngga, kenapa sih loe jadi kepo? tapi rasanya ada yang aneh pada diriku."


"Ehem, siapa Mai? apa kakakmu?." Karena rasa penasarannya ia pun memberanikan diri untuk menanyakannya.


"Oh, itu kak....bukan, cuma teman saja."


"O..."


Akhirnya mereka sampai juga didepan sebuah gang kecil yang menuju ke kos-kosan gadis itu. Maima melepaa seat belt nya lalu membuka pintu mobil. Saat hendak turun, Rangga menghentikannya.


"Mai, boleh aku mampir sebentar ke kos-kosanmu?" Maima membelalakkan matanya tak percaya apa yang diucapkan oleh Rangga.


"Maksud kakak?"


"Ini, aku kebelet pipis Mai. boleh ya sebentar saja. tidak jauh kan masuknya?" Maima malah hanya mengangguk tanda mengiyakan dan Rangga langsung tersenyum senang lalu segera turun dari mobil.Maima pun mengikuti laki-laki itu dibelakangnya.


"Mai....Maima, ayo cepat. kok malah bengong. ngak tahan sudah diujung nih?"


"Di ujung? Maima malah jadi berpikir yang tidak-tidak mendengar perkataan Rangga. ia menggelengkan kepalanya tak percaya kalau Rangga laki-laki pendiam itu bisa berbicara seabsurd itu.Maima pun langsung berlari menyusul Rangga dan mendahului laki-laki itu.


Setelah sampai depan gerbang kos-kosannya, Maima membukanya dan menuju kamarnya. ia lalu membuka tasnya untuk mencari kunci kamarnya. baru saja ia memutar handle pintu, Rangga langsung menerobos masuk tanpa izin dan melesat masuk mencari kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya.


Sebelum masuk, Maima menengok kekanan dan kekiri. memastikan keadaan disekitarnya. ia takut ada yang melihat ketika Rangga masuk tadi. Maima takut kalau ada yang curiga saat ia membawa seorang laki-laki masuk kekamarnya. Ya walaupun mereka tidak melakukan apa-apa. Maima menunggu Rangga dipintu kamarnya, dan setelah beberapa menit menunggu akhirnya Rangga keluar juga.


"Ah....leganya, terima kasih ya Mai." sejenak Rangga mengamati suasana kamar gadis itu. terlihat rapi dan bersih tak banyak perabotan didalamnya. lalu tersenyum menatap Maima.


"Sudah kak?"


"Iya, sudah...."


"..........."


"..........." sejenak mereka malah saling menatap dalam diam. hingga sura dering ponsel Rangga membuyarkan lamunan mereka. Rangga merogoh saku celananya dan menerima panggilannya.


"Hallo, iya ma ada apa? aku baru dirumah teman ini." beberapa saat kemudian sesudah berbicara pada si penelpon yang sepertinya ibu dari laki-laki itu. Rangga kembali menatap Maima dan berpamitan.


"Mai, aku mau balik ke cafe lagi ya. mamaku datang kesana. lain waktu aku boleh kan kesini lagi?" Maima tidak menjawabnya, gadis itu malah berpura-pura membuka layar ponselnya.


‐--‐------------


Sudah dua hari Varell berada di luar kota. Entah mengapa Rani begitu merindukan suaminya. Mungkin karena hormon kehamilannya atau memang rasa cintanya yang semakin dalam. Rani sering melamun dan kadang suka tiba-tiba menangis tanpa sebab didalam kamarnya. ia ingin sekali menelpon Varell tapi takut menganggu pekerjaan sang suami.


"Tok tok tok...


"Rani, mama masuk ya ." Mama Sandra sangat khawatir dengan keadaan menantunya, karena sudah sejak pagi Rani tidak juga keluar dari kamarnya.


Ceklekk


Mama Sandra menghampiri Rani yang sedang terduduk dekat jendela. sekilas mama Sandra melihat Rani mengusap pipinya yang basah oleh air mata.


"Sayang, kamu kenapa? ayo kita kebawah, bi Munah sudah masak makanan kesukaanmu loh. dedek pasti juga sudah sangat lapar!"


"Ma, Rani kangen mas Varell. mas Varell kapan pulang ya ma?" menatap mama Sandra dengan wajah sendunya.


"Kalau Rani kangen, Video Call saja. sini mana ponselnya biar mama telponkan!" Ranipun menyerahkan ponselnya kepada mama Sandra untuk disambungkan pada sang putra.

__ADS_1


"Hallo iya sayang ada apa?"


" Ini mama Rell, sebentar mama kasih ke Rani ya."


"Mas, sedang apa?" Menatap wajah suami yang sangat dirindukannya masih dengan wajah sendunya.


"Sedang apa ya, emm.... baru kangen-kangenan nih sama bidadari cantikku." mendengarnya wajah Rani langsung mersemu merah. ia pun tersenyum dan tertunduk malu. sungguh menggemaskan dimata Varell.


"Mas ih, gombal deh. mas kapan pulang?" sudah kembali ceria.


"Kenapa? sudah tidak tahan ya, kangen banget sama suami tampanmu ini?"


"Ih mas gitu...." mengerucutkan bibirnya.


"Tuh tuh lihat, bibirmu saja sudah menggoda dan mengundang untuk di....ehem....ehem?"


"Ish mas mesum, sudah ah...Rani sama dedek mau makan dulu."


"Iya iya, suamimu ini memang mesum, meaum cuma sama kamu aja kok sayang istri cantikku , sayangku, cintaku, matahariku...."


"Stop....udah ah, mas ngegombal terus. Mas....cepet pulang ya, kami kangen!"


"Coba sorot perutmu sayang, mau ngelus dede!" Ranipun mengganti nya dengan kamera depan kemudian Varell mendekatkan telapak tangannya pada layar seakan-akan mengelus baby nya.


-----‐--------


Seusai makan malam Rani langsung kembali kekamarnya. seperti malam sebelumnya, ia mengambil satu kemeja milik sang suami lalu ia mengganti daster nya dengan kemeja itu. Kemeja itu tampak kebesaran ditubuh mungilnya hanya bagian perut saja yang tampak menonjol. Rani memanut-matutkan dirinya didepan cermin meja rias, ia tersenyum melihat tingkah lakunya yang tampak centil. Rani naik keatas tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya.


Rani merasakan seperti ada sesuatu yang lembut dan basah tengah bergerak menjalar di permukaan kulitnya. matanya yang terpejampun perlahan terbuka dan betapa terkejutnya ternyata suaminya tengah asik dengan mainan kesukaannya. Rasa geli dan gelayar ditubuhnya membuatnya semakin terlena. Dan menyadari kalau pelakunya tak lain adalah suaminya sendiri.


"Mas...


------‐------


Beberapa jam sebelumnya, setelah Varell dan Rani melakukan sambungan video call. Melihat wajah yang begitu dirindukannya membuat Varell jadi resah, tiba-tiba ia tak bisa lagi menahan rasa rindu yang membuncah. apalagi melihat kemanjaan dengan wajahnya yang merona malu, sungguh menggemaskan. Sebenarnya urusan pekerjaannya telah selesai dan rencananya esok pagi atau sorenya ia baru akan pulang. Akhirnya ia memutuskan akan pulang malam itu juga untuk memberi surprise juga untuk istrinya. Varell langsung menghubungi sekretarisnya memesan tiket pesawat.


"Sin, pesan tiket ke Jakarta untuk malam ini!"Tunggu mas Varellmu pulang ya sayang!" tersenyum penuh arti.


 


"Iya sayang, aku merindukanmu....sangat! boleh ya?" mencium bibir cherry istrinya dan akhirnya malam ini mereka mencurahkan segala rasa rindu yang telah membuncah. dimalam yang begitu indah.


 


Pagi harinya saat sarapan, papa Tyo, mama Sandra dan Angela terkejut dengan kemunculan Varell yang turun dari lantai atas dengan wajah yang berseri-seri dan langsung menuju meja makan. ia menarik kursi dan dengan santainya menyantap makanan diatas meja tak menghiraukan tatapan penuh tanya dari keluarganya.


"Varell, kapan kamu pulang?" tanya mama Sandra


"Tadi malam ma, em.... sekitar dini hari." masih terusmengunyah makanannya.


"Loh Rani mana, kok ngak diajak turun dan sarapan?" mama Sandra kembali menatap putranya penuh curiga.


"Oh, itu ma. nanti sarapannya biar Varell yang bawa keatas. Rani masih tidur ma. Kasihan dia kelihatannya begitu kelelahan."


Mama Sandra paham arti dari yang diucapkan putranya itu, dan artinya tadi malam Varell telah berbuat sesuatu hingga membuat Rani begitu lelah. "Varell..... jangan macam-macam kamu ya sama menantu mama!" kesal mama Sandra.


"huss, mama ini. Varell ngak macam-macam ma, tapi cuma semacam aja. dan itu sukses membuat menantu kesayangan mama sangat bahagia." terkekeh meledek mama Sandra. sedangkan papa Tyo hanya menggeleng dan Angela mencibir kakaknya.


 


Siang itu Varell kembali kekantor. ia sedang memeriksa berkas-berkas yang harus segera ditandatanganinya.


tok tok tok


"Masuk....!"


"Selamat siang pak Varell, katanya ada yang ngak tahan ya sampai dibela-belain pulang tengah malam?" Doni tertawa menyindir Varell.

__ADS_1


"Eh, elo Don.memangnya kenapa kalau gue ngak tahan, wajarlah namanya juga kangen sama istri sendiri. rindu segala-galanya. makannya cepet nikah biar tahu rasa nikmat berumah tangga. mau ngapa-ngapain bebas ngak bakal ada yang ngelarang." membalas telak Doni yang suka usil itu.


"Iya iya , tahu deh yang udah punya pasangan halal. sombong banget." tiba-tiba terdengar bunyi telpon kantor yang ada diatas meja kerja Varell.


"Ya ada apa?"


"Maaf pak ada tamu yang ingin bertemu dengan bapak."


"Siapa? apa dia sudah membuat janji?"


"Belum pak, dia nona Amanda pak."


"Amanda, mau apa lagi dia?" batin Varell


Doni juga tak kalah terkejutnya, iapun bertanya-tanya untuk apa lagi wanita ular itu muncul kembali. hal ini tidak boleh dibiarkan. oa harus berbuat sesuatu.


"Rell, biar dia gue yang ngatasin. loe ngak usah perduliin dia." Doni langsung melangkah keluar dari ruangan Varell menuju ke lobby.


"Heh perempuan ngak tahu malu, mau apa lagi loe muncul disini. jangan berbuat macam-macam loe ya!" Doni berkacak pinggang tepat dihadapan Amanda.


"Gue mau bertemu Varell atasan loe. ngak ada urusannya sama loe, jangan ikut campur loe Don!"


"Ngak persuli urusan loe yang ngak penting itu. sekarang cepat loe pergi dari sini, atau gue panggilin security buat ngusir loe secara paksa!"


" Oke, baiklah gue akan pergi, tapi urusan gue belum kelar sama Varell." Amanda melangkah pergi. "gue ngak akan benar-benar pergi?" tersenyum iblis.


 


Varell melangkah keluar dari kantor dan sedang menunggu kedatangan istrinya. Rani ingin mengajak Varell untuk makan siang setelah itu mereka akan kontrol ke dokter kandungan.


Ketika sedang mengutak atik ponselnya ingin menghubungi sang istri. tiba-tiba saja datang Amanda dan langsung memeluk dan mencium pipi Varell.


Varell sangat terkejut, sesaat ia terpaku dan diam saja atas prilaku seenaknya perempuan itu.


Tanpa Varell sadari ternyata Rani yang baru saja berhenti didepan lobby kantor melihat adegan yang tak pantas tersebut.


"Mas Varell....mbak Amanda?" matanya telah berkaca-kaca melihat pemandangan yang begitu menyakitkan itu. ia pun berbalik badan dan melangkah menjauh. Seketika Varell menyadari akan hal itu lalu mendorong tubuh Amanda agar menjauhinya.


Rani terus melangkah cepat menuju ke jalan utama, akan tetapi ada seorang pria yang menghadangnya. Rani begitu takut karena ia tidak mengenalnya.


"Hallo Rani sayang, apa kabar. lama kita tak bertemu. aku rindu sekali padamu sayang." memegang tangan Rani dan mencengkeramnya kuat.


"Anda siapa....lepaskan!" memberontak mencoba lepas dari cengkeraman pria tersebut.


"Hei....lepaskan istriku, siapa kamu?" Varell telah berhasil menyusul Rani dan melihat seorang pria yang sedang memaksanya.


"Oh, jadi ini laki-laki yang membuatmu meninggalkanku Rani?"


"Siapa dia Ran, apa kamu mengenalnya?" Varell mendekat dan menyentak tangan pria itu dari tubuh istrinya. Rani semakin takut melihat Varell mulai tersulut emosi.


"Rani tidak mengenalnya mas, sungguh. seharusnya Rani yang marah. apa yang mas lakukan dengan mbak Amanda?" Rani mulai menangis. laki-laki itu malah menarik tangan Rani kembali dan berniat membawanya pergi.


"Ayo sayang kita pergi dari sini, suamimu ini memang pria brengsek dan seorang penghianat. kamu sudah melihatnya sendiri bukan."


"Tidak....lepaskan, Rani tidak kenal kamu." Rani berhasil melepaskan tangannya, menatap sendu mata Varell dan berlari kerah jalan raya, hingga ia tak menyadari ada sebuah mobil yang sedang melaju kencang dan akhirnya malapetaka itupun terjadi.


citttt....BRAKKK....


"Arghh.....!"


"RANIIIII......




__ADS_1



Tbc


__ADS_2