Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
18. Rasa yang mulai menghangat


__ADS_3

Setelah menurunkan Rani didepan lobby Apartemen, kemudian Rangga melanjutkan perjalanan mengantar Maima pulang. Maima melirikkan matanya untuk menatap laki-laki tampat yang semakin terlihat keren ketika fokus menyetir. sesekali gadis itu menyunggingkan senyumnya, entah apa yang ada dipikirannya.


"Iya, aku tahu aku ini memang tampan. ngak usah sampai segitunya natapnya, nanti jatuh cinta loh!?" Walaupun tanpa menoleh, tapi Rangga tahu kalau Maima sedari tadi selalu mencuri pandang dirinya.


"Eh, anu....bu bukan begitu kak, aku tadi cuma mau tanya sesuatu." hehehe." nyengir kuda.


"Boleh aja kalau mau bertanya, apa?" Rangga masih tetap fokus menyetir sambil menunggu Maima berbicara.


"Kak Rangga kenal Rani dimana? maaf ya kak, bukannya aku kepo. cuma kan Rani itu temanku sedari kami ceprot sampai kami dewasa. hanya saja karena keadaan yang membuat kami sempat terpisah."


"Ceprot, apa itu?" mengernyitkan keningnya.


"Ceprot itu dari lahir kak." Rangga pun mengangguk tanda mengerti.


"Ayo lanjutkan ceritanya!"


"Aku dan Rani bertetangga kak. dan kami sama-sama dari keluarga menengah kewabah, ya hidup apa adanya dalam kesederhanaan. Jadi aku dan Rani sudah terbiasa mencari uang dengan bekerja serabutan dari kami maaih duduk dibangku sekolah.ya itu kami lakukan untuk membantu orang tua dalam memenuh kebutuhan hidup sehari-hari. Nah, ketika bapakku meninggal kami jadi terpisah karena bebrapa bulan kemudian ibu menikah lagi dan aku ikut nenek kekampung bapak. aku ngak mau ikut sama keluarga baru ibu. Dan saat kedua orang tua Rani meninggal ternyata ia dijemput oleh orang kota dan tinggal bersama mereka. gitu kak, nah kalau kak Rangga kenal Rani dimana?"


"wah , kisah kalian berdua berliku sekali ya, kalian benar-benar gadis istimewa. sudah sama-sama cantik dan begitu tegar dalam menjalani sulitnya kehidupan yang harus kalian jalani."


"Sebenarnya Rani itu istri dari....." belum melanjutkan kata-katanya tiba-tiba gadis mungil itu menyuruh Rangga untuk berhenti.


"eh, kak stop stop didepan gang itu kak!" menunjuk sebuah gang kecil.


"Rumahmu dimasuk di gang itu?"


"Iya kak, aku cuma tinggal di kos-kosan kecil kok kak, cari yang terjangkau sama isi kantongku kak." Maima terkekeh lalu membuka pintu mobil. dan melambaikan tangannya .


"Terima kasih ya kak."


"Iya, bye."


"Hmm.....gadis yang unik." Rangga tersenyum memandang Maima yang telah menghilang masuk kedalam gang kecil itu.


‐--------------


Tubuhnya terasa segar setelah mandi. Rani sedang berkutat didapur untuk memasak makan malam. setelah selesai ia menatanya dimeja makan. sesekali matanya melihat jam dinding dan melihat kamar Varell yang masih tertutup rapat. belum ada tanda-tanda sang penghuni kamar untuk keluar.


"Mas Varell kenapa belum keluar kamar juga ya, ini kan sudah lewat waktu makan malam. apa mas Varell ketiduran?"

__ADS_1


Ranipun melangkah mendekati pintu kamar sang suami hendak membangunkannya.


"Tok tok tok...


"Mas , makan malam sudah siap mas. nanti keburu dingin." beberapa kali mengetuk dan memanggilnya, namun tetap tak ada jawaban apa pun dari dalam kamar itu. Akhirnya Rani memberanikan diri untuk meraih handle pintu dan membukanya, ternyata tidak dikunci. Perlahan iapun melangkah masuk dan mendekati ranjang tidur sang suami. Varell tampak bergelung rapat dengan bedcover nya. dan tubuhnya agak bergetar.


"Mas....mas kenapa? apa mas sakit?" Rani menyentuh kening Varell dan sangat terkejut karena terasa panas.


"Mas Varell demam. bagaimana ini? kalau aku mengurusnya, nanti dia marah ngak ya? tapi kan bagaimanapun aku ini istrinya."


Kemudian Rani bergegas keluar kamar, bergegas kedapur untuk mengambil air hangat untuk mengompres dan juga Paracetamol untuk penurun panas.


"Mas, bangun. diminum dulu mas obatnya! mas Varell demam." Rani membantu Varell untuk meminum obatnya, setelah itu ia mulai mengompres kening suaminya. ia begitu telaten merawat dan menjaga sang suami. Tak terasa hari sudah menjelang pagi, Rani mengecek suhu tubuh Varell dan demamnya ternyata sudah mereda.


"Alhamdulillah, sudah tidak panas." Rani membawa baskom kecil bekas mengompres itu keluar kamar, lalu iapun kekamarnya untuk membersihkan diri lalu melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai memasak bubur dan menyiapkan segala keperluan suaminya. Rani pun menunggu sampai Varell bangun. ia hendak pamit berangkat kerja. Namun setelah ia berpikir, biasanya ia juga tidak pernah meminta izin ataupun berpamitan kepada suaminya.


"Bisa telat nih aku, mas Varell masih nyenyak sekali tidurnya. Ya sudah deh aku berangkat saja." Rani meninggalkan secarik kertas berisi pesan untuk suaminya.


--‐---------


"Rani....aku kangen!" Maima berlari menghampiri sang sahabat dan langsung memeluknya.


"Aduh Ran, sakit. nanti pipiku tambah lebar tau kalau terus kau cubitin." mengerucutkan bibir mungilnya.


"Hai calon ponakan tante apa kabar?" mengelus perut Rani.


"Alhamdulillah baik tante Maima yang imut." terkekeh senang menjaili sahabatnya itu.


"Ih Rani, aku ini cantik bukan imut. sudah jadi wanita dewasa gini masih aja dibilang imut. sebel ah." cemberut


"Iya iya deh cantik, sudah yuk masuk. kerja....kerja!" menarik tangan Maima


 


Varell menggeliatkan tubuhnya, ia merasa letih baikkan dari pada sore kemarin ketika pulang dari kantor.


Samar-samar ia mulai mengingat Rani yang merawatnya sepanjang malam. Dan melihat semangkuk bubur diatas meja nakas. serta tak lupa obatnya.


Varell tertegun memikirkan Rani yang sangat baik dan peduli pada dirinya. Padahal ia begitu kasar dan kejam pada sang istri. Hatinya menghangat mengingat perhatian dan pengorbanan Rani untuk dirinya.

__ADS_1


"Ran, kenapa kamu baik sekali sih. hatimu terabuat dari apa. Ya Allah, apa memang aku ini suami yang jahat dan tak tahu diri." Varell menyesali akan perbuatan dan perlakuannya yang selama ini ia berikan pada sang istri.


 


"Jam istirahat, Maima dan Rani makan siang berdua di taman belakang Restauran.mereka makan sambil berbincang ringan dan tertawa cekikikan ketika bercerita hal yang lucu-lucu.


"eumm...Ran, sebenarnya kamu kenal kak Rangga dimana sih?" Rani langsung terdiam, tiba-tiba Maima menanyakan hal itu.


"Kak Rangga itu sahabat mas Varell Mai, ya tentu saja Rani kenal." tersenyum kaku, hatinya sedih teringat kembali kejadian yang lalu. yang mengakibatkan kesalah fahaman yang begitu rumit. tak terselesaikan sampai sekarang.


"oh begitu, eh Ran ngomong-ngomong kak Rangga sudah menikah belum ya?"


"Setahu Rani sih belum Mai. kenapa, naksir ya sama kak Rangga?"


"Hush....mana mungkin lah Ran dia mau sama aku yang kayak gini? eh iya, apa kak Rangga sudah punya pacar atau ada gadis yang disukainya ya Ran?"


"Uhuk....uhuk, Rani tersedak mendengar ucapan Maima."


"Aduh Ran, pelan-pelan dong makannya. nih minum dulu!" memberikan segelas air.


"Rani kenapa ya, kok sikapnya langsung aneh gitu pas aku tanya soal kak Rangga.apa ada sesuatu diantara mereka. hiks....berarti aku kalah sebelum berperang dong. padahal kak Rangga itu tipeku banget."


"Sudah ah, ngak usah ngomongin orang terus. ayo lanjut kerja. sudah habis waktu istirahatnya."


Rani menarik tangan Maima dan kembali kedapur Restaurant untuk melanjutkan pekerjaan mereka kembali.


 


"Tit tit tit ceklek


Rani merasa tubuhnya sangat lelah, ia berjalan tertatih sambil memegang pinggangnya.ia pun melangkah menaiki anak tangga menuju kekamarnya.


"Aduh pegalnya, mandi lalu langsung tidur pasti nyaman sekali."


"ceklekk....


"Eh....Mas Varell sedang apa mas disini?"


Tbc

__ADS_1


__ADS_2