Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
36. Berkunjung ke Perusahaan


__ADS_3

Setelah semalam ia mendatangi kos-kosan Maima dan ternyata tak membuahkan hasil. Kos-kosannya itu tampak sepi, sepertinya semua penghuni telah tidur.


Akhirnya Zack kembali lagi esok paginya. Dan lagi-lagi ia tak bertemu dengan kekasihnya. Dengan berat hati akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk pergi.


"Dimana sih kamu Mai?" Menghela nafas lalu melajukan mobilnya menuju kekantor.


Tak berselang lama, berhentilah sebuah mobil mewah berwarna merah. Rangga turun lalu mengitari mobil untuk membukakan pintu untuk Maima. Namun gadis itu telah beranjak turun dan menutup pintu mobil.


Brakk


"Mai tunggu!" Rangga merangkul lengan Maima ketika gadis itu terburu-buru melangkah pergi. Maima menghempaskan tangan Rangga dan tak menggubris ucapannya.


""Maafkan aku....tolong Mai, dengarkan dulu penjelasanku!"


Mengikuti langkah gadis yang telah dirusaknya tadi malam. Maima tetap berjalan tertatih-tatih dan tak memperdulikan Rangga yang terus mengikuti dibelakangnya. Dan saat telah hampir sampai didekat kos-kosannya, Maima menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang menatap Rangga.


"Kak, tolong jangan sekarang! aku mau beristirahat lalu berangkat kerja." Maima menangkupkan kedua telapak tangannya memohon pada Rangga. Dan laki-laki itupun mengerti keadaan Maima saat ini. Dan mengabulkan keinginan gadis itu untuk tak mengganggunya.


Dengan bersusah payah, Maima sampai didepan gerbang. Saat ia berjalan menuju kekamarnya, tiba-tiba ada yang menyapanya.


"Kamu baru pulang Mai?" Maima hanya mengangguk menjawab pertanyaan tetangga kos-kosannya itu.


"Oh ya Mai, tadi ada yang mencari kamu. Laki-laki, tampan banget loh mai....bule. Itu pacar kamu ya Mai?"


"Bu....bukan mbak Nin, maaf ya mbak aku masuk dulu." Maima kembali melanjutkan langkahnya perlahan sambil menahan rasa sakitnya. Mbak Nina yang baru sadar ada yang aneh pada tetangganya itu langsung menghampirinya.


"Mai kamu kenapa, sepertinya kamu sangat kesakitan sekali. Kakimu sakit Mai?" menunduk melihat kearah kaki Maima.


"Eh, itu mbak, tadi aku terpeleset dan sepertinya kakiku agak terkilir. Mbak ngak usah khawatir, nanti diolesi salep atau parem juga akan sembuh." Maima tersenyum kikuk.


Maima duduk diatas ranjang kecilnya, menekuk kedua kakinya dan menelungkupkan wajahnya. Air matanya kembali meleleh mengingat akan keadaannya saat ini. Ia sungguh menyesal datang kepestanya


Zack, namun itu sudah terjadi dan yang membuat hatinya hancur adalah mengetahui kenyataan bahwa sekarang dirinya sudah tidak suci lagi. Laki-laki yang selalu menggetarkan hatinya adalah orang yang telah merenggut keperawanannya.


Membuka tas jinjingnya mencari keberadaan ponselnya. Ia menscroll layarnya dan melihat banyaknya notifikasi pesan dan berpuluh-puluh panggilan dari kekasihnya Zack. ia langsung membukanya.


"Mai, kamu dimana sayang?"


"Angkatlah telponnya Mai, aku sangat khawatir sekali padamu sayang."


"Sayang, apa kamu marah padaku?" dan banyak lagi isi pesan lainnya".


Tulilut tulilut tulilut


Terdengar suara dering telpon. Setelah melihat id si penelpon, Maima langsung mengangkatnya.


"Assalamuallaikum Mai, Kamu ngak kenapa-napa kan? Tadi malam Zack mencarimu, kamu langsung pulang kan Mai? Mai....Mai, kenapa kamu diam saja?"


Rani sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu. Dan Rani pun bingung kenapa Maima hanya terdiam tak menjawabnya.


"Hiks....hiks....Rani, hiks....aku....?" Mendengar suara Rani, entah mengapa hatinya kembali sedih.

__ADS_1


"Kamu kenapa Mai, apa yang telah terjadi Mai? kenapa kamu menangis?" Disebrang sana Rani jadi ikut menitikkan air matanya mendengar tangis pilu sahabatnya.


"Akh....aku ngak apa-apa Ran, maaf ya Ran aku mau bersiap berangkat kerja. aku tutup dulu ya Ran."


"Baiklah, Mai....jangan sungkan ya Mai, Jika ada yang ingin kamu ceritakan. Datanglah ke rumah Rani ya Mai!"


"Iya Ran terima kasih ya sudah perduli sama aku."


 


Menjelang siang Rani masih disibukkan oleh peralatan dapur. Ia ingin memasak sendiri makan siang untuk suaminya. Semua hidangan telah selesai, dan Rani menyiapkan rantang untuk dibawanya ke kantor Varell.


"Sip, akhirnya selesai juga. Semoga mas Varell suka sama masakanku."


Rani tersenyum, lalu ia melangkah naik lantai atas untuk berganti pakaian dan bersiap untuk kekantor suaminya. Selama Rani mempersiapkan surprise untuk Varell, baby Rava dititipkan bersama mama Sandra. Karena sejak pulang dari pesta mama Sandra dan papa Tyo menyuruh Varell dan anak istrinya untuk menginap beberapa hari karena mereka sangat merindukan cucu tampannya.


 


Tepat pukul sebelas sambil menggendong baby Rava, Rani telah sampai di lobby kantor. Para karyawan/i yang mengenalinya langsung menyapa dan menundukkan kepala menghormati istri dari big boss mereka.


" Siang bu Rani, ada yang bisa saya bantu bu?" Tanya petugas Resepsionis sopan.


"Siang. Apa suami saya ada?"


"Iya bu, Pak Varell ada di tempat bu. Maaf, sebentar ya bu!" Karyawati itu memanggil salah satu petugas kemanan untuk mengantar Rani untuk menuju ke ruangan direktur mereka. Sesampainya didepan ruangan direktur, sang sekretaris menyambutnya dengan hormat dan sopan.


"Bapak ada didalam kan Mirna?" Ya, sang sekretaris yang bernama Mirna itu pun mengangguk dan mengatakan bahwa Varell ada ditempat.


Mirna agak sungkan pada istri dari atasannya tersebut karena ragu-ragu untuk langsung mempersilahkannya masuk.


"Hai Ran, kamu datang toh? loh kok ngak langsunh masuk? Kamu gimana sih Mir, masa' istri big boss tak di persilahkan masuk?"


Doni yang melihat keberadaan Rani dan baby Rava langsung menghampiri, ia merasa kesal dengan Mirna sekretaris Varell yang malah menahan Rani untuk langsung masuk ke ruangan Varell.


"Maaf pak Doni, Pak Varell sedang ada tamu. Wakil dari perusahaan Ferdinand corp."


"Oh, ya tidak apa-apa. Ayo Ran kita masuk!" Rani pun mengekori Doni dari belakang.


Tok tok tok


"Masuk!" Suara Varell dari dalam.


Doni berjalan terlebih dahulu, karena agak terhalangi tubuh Doni yàng tegap tinggi. Rani jadi terhalangi dari penglihatan Varell. Jadi Varell mengira kalau hanya Doni sendian yang masuk ke ruangannya. Tampak sosok wanita cantik nan sexy sedang duduk diseberang meja meja kerja Varell.


"Ada apa Don, oh ya. Perkenalkan ini perwakilan dari tuan Ferdinad. Nona Fransiska Wijaya." Wanita itu menoleh dan tersenyum pada Doni. Dan Doni pun tersenyum kembali pada Fransiska.


"Mas....!"


Varell terkejut melihat Istri dan anaknya yang muncul dari balik tubuh Doni. Varell pun langsung berdiri lalu melangkah menghampiri Rani. Varell mencium kening sang istri, lalu mengambil alih baby Rava dari gendongan sang ibu. Karena ketika melihat Ayahnya, baby Rava langsung menyurungkan tubuhnya pada sang ayah. Varell mencium gemas pipi gembul anaknya.


"Hei jagoan Ayah, datang kok ngak bilang-bilang sih sayang? ayo sini!" Seakan tak mengindahkan keberadaan orang lain diruangan itu. Varell merangkul pinggang Rani menggiringnya menuju sofa tamu. Mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia.

__ADS_1


"Ehem.... maaf pak Varell, bagaimana dengan kami ya? ck, kalau sudah ada bidadarinya langsung lupa daratan deh." Mendengar gerutuan Doni, Varell pun baru tersadar dengan tamunya itu.


"Oh, Maaf nona Fransiska! Perkenalkan ini istri saya Maharani Putri Darmanto. Fransiska pun beranjak dari kursi dan melangkah menuju sofa tamu lalu mengulurkan tangannya pada Rani dan tersenyum ramah.


"Rani." menyambut uluran tangan dari Fransiska


"Fransiska Wijaya." Fransiska menatap Rani takjub akan pesona kecantikkan yang dimiliki ibu dari satu anak itu. "Apakah ini putra anda?"


"Iya, ini putra pertama kami. Rava Abinawa Darmanto." Varell memperkenalkan putranya.


"Wah, ganteng ya seperti Papanya. menggemaskan!" Fransiska mengelus lembut pipi gembul Baby Rava dan tersenyum penuh arti ketika menatap Varell. Rani menatap tak suka dengan cara wanita itu menatap suaminya yang terkesan centil dan ingin menarik perhatian.


Apalagi melihat penampilan wanita itu dengan baju berbelahan rendah yang dengan jelas mempertontonkan gunung kembarnya. Belum lagi rok sepannya yang ketat dan memamerkan hampir seluruh paha putihnya. membuat Rani yang sesama perempuanpun agak risih melihatnya.


"Ish....ini cewek kayak caper banget ya sama mas Varell?" Batin Rani.


"Ya gantenglah seperti Ayahnya, kalau seperti Doni baru aneh?" Menatap Fransiska dengan tersenyum dingin. Doni dan Varell yang mendengar celetukkan dari Rani pun kaget, tak mènyangka Rani yang mereka kenal pendiam bisa berceloteh pedas juga.Doni pun langsung terkekeh


"Hehehe....bisa aja kamu Ran, kalau baby Rava mirip aku nanti bukan aneh lagi, tapi bakal terjadi kegemparan di dunia berbucinan." Melirik Varell


"Maaf, kalau begitu saya pamit tuan Varell. saya masih ada kepentingan yang lain." Fransiska jadi merasa tak enak pada Rani yang kelihatannya tidak begitu suka padanya.


"Baiklah nona Fransiska, lain waktu kita akan atur lagi pertemuannya. Kalau bisa saya ingin bertemu langsung dengan tuan Ferdinand. Don, tolong kamu antarkan nona Fransiska!"


"Oke, siap Pak!"


Kini hanya tinggal sepasang suami istri bucin dan sang baby diruangan itu. Varell menatap intens istrinya yang sedang sibuk membuka kotak bekal makan siang untuk sang suami.


"Makan dulu mas, sudah waktunya makan siang kan! sini baby Rava biar Rani yang gendong!"


Rani mengambil baby Rava yang sudah terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya karena mengantuk. Rani menelungkupkan baby Rava di bahunya sambil menepuk-nepuk pelan bokongnya.


"Loh kok belum dimakan mas? kenapa ngak suka ya sama menunya? apa masakan Rani ngak enak?" Rani cemberut melihat Varell belum juga mulai makan.


"Bukan begitu sayang, mas mau kita makan bersama. Tidurkanlah Baby Rava di sofa sebelah sana. setelah itu baru aku mau makan asal bersamamu sayang, kamu juga paati belum makan siang kan?"


Menepuk sofa disampingnya dan tersenyum penuh cinta. Setelah menidurkan baby Rava, lalu Rani menemani Varell makan siang dan sesekali saling menyuapi dengan romantisnya. Varell manggoda Rani yang cemburu pada Fransiska.


"Ish....siapa juga yang cemburu? Rani tuh cuma mau menjaga apa yang telah menjadi milik Rani kan?" Mengerucutkan bibir cherrynya.


"Iya iya, Cintanya mas Varell ini memang ngak cemburu kok, tapi sedang mode bucin sama suami tampannya ini. Betul kan? Aduh, bibirnya jangan menggoda untuk dicium gitu dong sayang, ini masih dikantor loh! nanti kalau suamimu ini ngak tahan gimana? masa' mau itu disini sih?"


Mendekat dan berbisik tepat ditelinga istrinya, membuat rani merinding geli karena telinganya tersentuh oleh bibir sang suami.


"Mas, jangan macam-macam deh! nanti kalau ada yang lihat gimana, malu kan?" Wajah Rani sudah bersemu merah, apalagi Varell sudah mulai merapatkan tubuhnya mengikis jarak diantara mereka.


Dan kedua tangannya mulai menjelajah kesana kemari? Rani takut dan malu jika sampai ada yang tiba-tiba masuk dan melihat keintiman mereka. Namun si bucin Varell tak mengindahkan ucapan Rani.


"Woww....Sorry bro, kita ganggu ya?"


Tbc

__ADS_1


__ADS_2