Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
37. Kerisauan Hati


__ADS_3

Doni mengantar Fransiska sampai depan lobby. ketika ia akan kembali, tiba-tiba ada yang memanggilnya. Refleks iapun menoleh ke arah suara tersebut, dan ternyata orang itu adalah Zack.


"Woi, Don tunggu!" Dengan tergesa-gesa ia menyusul doni yang baru akan memasuki pintu lift.


"Eh, elo Zack. Ada apa gerangan si bosa muda datang kesini? ada something kah?" Menepuk pundak sang sahabat.


"Gue ada perlu sama elo berdua, Varell nya ada kan Don?" Zack berbicara tampak serius. membuat Doni mengernyitkan keningnya.


"Ada apa sih bro, kayaknya muka loe tegang amat? iya, Varell ada kok. ayo kita keruangannya!"


Doni dan Zack masuk kedalam pintu lift yang baru saja terbuka dan langsung menuju kelantai sepuluh tempat dimana ruangan Varell berada.


Sesampainya didepan pintu ruangan, karena lupa mereka langsung selonong boy masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Alhasil mereka melihat adegan keuwuwan yang hampir saja kebablasan. Doni dan Zack melongo dan mematung seketika. namun ketika menyadari akan hal itu, mereka refleks berbalik badan menghadap kebelakang memberi waktu sepasang suami istri itu untuk berbenah diri.( bersih2 kali ah?)


"Ekhem...." Varell berdehem memberi tanda pada kedua laki-laki yang dengan lancangnya mengganggu kesenangannya.


Setelah mendapatkan kode dari si tuan rumah, mereka berdua langsung berbalik badan kembali menghadap kearah pasangan teruwu saat ini.


"Ck, dasar kurang ajar ya loe berdua, maen selonong boy aja ngak ngetuk pintu? ganggu aja!" Varell kesal dengan ulah kedua sahabatnya itu yang telah menganggu kegiatan asik-aaiknya bersama Rani sang istri tercinta.


"Lah, lagian elo ngak kasih tanda kalau lagi...."


Doni menggerakkan kedua jari tangannya membentuk tanda kutif titik dua diatas.


" Ingat, ini masih dikantor loh dan ya ampun Rell, itu lihat ada baby Rava juga. nah kalau anak loe lihat gimana? ck...ck....ck!" Doni berdecak sambil menggelengkan kepalanya.


"Halah....dia lagi asoy-asoy sama bininya, dah ngak tahan ya bro. nanti dirumah juga kan bisa dilanjut. ups, sorry ya bu Rani."


Zack ikut menimpali menyindir Varell.


Sementara itu, Rani tampak kikuk dan wajahnya sudah bersemu merah karena malu kepergok oleh kedua sahabat suaminya itu.


Rani berpura-pura tak mendengar celotehan dari mulut ceriwis Doni dan juga sindiran dari Zack. ibu muda itu berpindah posisi yang tadinya berhimpitan dengan sang suami, kini duduk disebelah baby Rava yang masih terlelap.


Rani menepuk-nepuk paha baby Rava ketika menggeliat merasa terusik dengan suara-suara para pria tampan itu.


"Udah diem loe berdua! dan ini lagi si bule depok, ngapain loe tiba-tiba datang tanpa bikin janji dulu?"

__ADS_1


Varell menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa dan menghela nafas menetralisir hasrat yang gagal tetsalurkan tadi.


Kini mereka telah duduk bersama dan suasana hening sejenak.tiba-tiba Zack mengutarakan maksud kedatangannya dengan mimik wajah yang begitu serius.


" Ada yang perlu gue omongin Rell?".


"Ada apaan sih, muka loe kok gundah gulana gitu Zack. Ya udah, loe mau ngomong apa?" Varell baru menyadari kalau sahabatnya itu terlihat sayu tak bersemangat.


"Mas, kalau begitu Rani sama baby Rava pulang saja ya?" Tak ingin menganggu pembicaraan suami dan kedua sahabatnya itu. Rani pun pamit undur diri untuk pulang kerumah. Namun Zack mencagahnya.


"Tunggu Ran, kamu jangan pergi! aku lebih ada perlu denganmu Ran. Ini mengenai Maima."


Mendengar nama sang sahabat disebut, akhirnya Rani pun mengurungkan niatnya dan duduk lembali sambil memangku baby Rava yang masih terlelap.


"Iya kak, apa yang bisa Rani bantu?"


"Begini Ran, sejak kemarin malam aku tidak bertemu dengan Maima. bahkan telepon dan semua pesanku tak ada yang dibalas. Apa kamu tahu apa yang telah terjadi padanya? aku sangat mengkhawatirkannya Ran."


"Emm....Tapi, tadi pagi Rani menelpon Maima diangkatnya kak, tapi....?" Ia tak melanjutkan ucapannya, Rani ragu apakah ia harus menceritakan semuanya.


Dan juga Rani jadi bertanya-tanya kenapa sahabatnya itu tiba-tiba berubah seperti menutup diri, bahkan gadis itu tak ingin berbagi suka dan dukanya.


Yang lebih mengherankan lagi yaitu kenapa Maima terkesan menghindari Zack yang baru saja menjadi kekasihnya.


"Tapi apa Ran? tolong katakan semuanya Ran, aku mohon!" Zack sangat berharap bisa mengetahui keadaan dankeberadaan sang kekasih.


"Sepertinya Maima sedang ada masalah kak, dia menangis dan ketika Rani tanya dia tak mau menjawab malah mengalihkan pembicaraan?" Maaf ya kak." Rani tetunduk lesu.


" Kenapa kamu tidak cerita sama suamimu ini sayang? kita akan mencari tahu dan membantu untuk menyelesaikan permasalahan temanmu itu."


Varell berpindah duduk kesebelah Rani dan menguatkan istrinya yang terlihat merasa bersalah.


"Jadi bagaimana ini Rell? apa sebaiknya aku mendatangi tempatnya bekerja?"


"Jangan dulu Zack, bersabarlah! kita belum tahu apa yang telah terjadi padanya. biar Rani dulu saja yang mencari tahu. Rani akan lebih mudah mendekatinya karena sesama perempuan pasti mereka akan mudah saling membuka diri." Zack pun mengangguk tanda setuju akan usul Varell.


"Ya sudah, bersabarlah dulu lah Zack. semoga semuanya baik-baik saja." Doni menepuk pundak sang sahabat guna menguatkan hatinya yang sedang gundah gulana.


-------‐---------

__ADS_1


Keesokkan harinya, akhirnya Rani memutuskan untuk menemui Maima ditempat kerjanya. ia mengajak juga mama Sandra.


Tepat pukul sebelas siang, Rani yang membawa baby Rava juga mama Sandra telah duduk disalah satu meja yang sebelumnya telah dipesan.


Maima yang melihat kedatangan Rani bersama mama Sandra sangat terkejut. ia tidak ingin bertemu dengan sahabatnya, akan tetapi ketika melihat baby Rava ia jadi mengurungkan niatnya. Maima sangat kangen dengan keponakan yang sangat menggemaskan itu.


"Hallo keponakan onty yang ganteng!" Dengan memasang wajah sewajar mungkin agar Rani tidak curiga.


Maima langsung meraih baby Rava dari pangkuan ibunya. Rani tersenyum senang karena Maima terlihat riang seperti biasanya.


"Oh iya, maaf Ran, tante. akh jadi lupa kalau sedang bekerja. Kalian mau pesan apa?"


Setelah menunggu beberapa menit, pesanan mereka pun datang. Rani dan mama Sandra menikmati makan siangnya. sedangkan baby Rava diletakkan pada stroller bayi. Setelah selesai, Maima kembali menghampiri mereka dan Rani ingin mengajak Maima kerumahnya.


Maima pun mengiyakan karena jam kerjanya sekitar dua jam an lagi akan berakhir. Sambil menunggu, mama Sandra mengajak Rani dan baby Rava berjalan-jalan disebuah mall tak jauh dari restauran tempat Maima berkerja.


"Ya, sudah ya Mai. nanti kami akan jemput kamu didepan restauran, oke?"


"Baiklah Ran. da....da baby Rava, nanti kita ketemu lagi ya! muach....muach!" Maima mencium gemas pipi gembul baby Rava yang sangat menggemaskan.


Maima kembali melanjutkan pekerjaannya. seperti biasa, sebelum jam kerjanya berakhir ia akan membereskan pantry dan berganti shif dengan karyawan berikutnya.


Setelah itu ia akan berganti seragamnya karena Rani akan mengajaknya kerumah mama Sandra.


Namun ketika ia sedang menunggu didepan tiba-tiba muncul mobil yang sangat dikenalnya dan benar saja, mobil itupun berhenti tepat didepannya lalu sang pengemudi turun dan langsung menghampirinya.


Keringat dingin sudah mulai menetes di keningnya, bahkan sekujur tubuhnya terasa lemas dadanya bergemuruh tak tenang melihat kedatangan laki-laki yang sangat ingin dihindarinya saat ini.


"Mai....." Rangga telah berdiri tepat dihadapan Maima, ia hanya terdiam menatap nanar gadis yang telah disakitinya itu. sesaat mereka saling bersitatap, tapi kemudian Maima mengalihkan pandangannya kearah lain.


"A....ada apa kak?" Jawabnya gugup menunduk tak mau menatap laki-laki dihadapannya.


"Maaf kan aku ya Mai, sungguh kejadian itu aku tidak berniat untuk sengaja melakukannya terhadapmu. apakah kamu mau memaafkan apa yang telah kulakukan padamu?"


Rangga mencoba melangkah lebih dekat dan ingin meraih tangan Maima, namun diurungkannya karena gadis itu melangkah mundur tak ingin disentuh olehnya.


"Aku belum bisa membahasnya sekarang kak, maaf....?"


"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, tapi kita tetap harus bicara Mai. bagaimana kalau nanti sesuatu terjadi sesuatu akibat apa yang telah kita lakukan? kamu mengerti kan apa yang kumaksud?" Rangga masih tetap menatap intens Maima, sedangkan gadis itu semakin risau mendengar perkataan Rangga.

__ADS_1


"Maima....!"


Tbc


__ADS_2