
"Dasar kamu ini Rangga, selalu muncul tiba-tiba." ya laki-laki itu ternyata adalah Rangga sang keponakan tersayang dari bu Zakiya. Rangga baru saja pulang dari luar negeri.
"Maaf tante, aku hanya ingin memberi surprise aja buat tanteku tercinta ini." mencium punggung telapak tangan sang tante.
"Bagaimana Restauran tante, kelihatannya cukup ramai. sukses selalu ya tan."
"Iya terima kasih sayang atas do'anya. oh ya sebentar, kamu mau makan apa ngga?" meraih gagang telpon.
"eum....apa aja tan, semua aku suka menu di Restauran tante yang maknyuss."
Rangga mengacungkan jempolnya sambil terkekeh. Bu Zakiya hanya tersenyum melihat sang keponakan manjanya itu.
Sementara itu karena para pelayan sedang sibuk, Restauran begitu ramai pengunjung karena bertepatan dengan jam makan siang.
Rani yang sedang berkutat dengan piring-piring yang kotor, tiba-tiba dipanggil oleh seorang koki.
"Rani..sini Ran!" Ranipun langsung menghampiri sang koki.
"Iya ada apa pak, apa ada yang bisa Rani bantu?"
"Ini Ran, tolong kamu antarkan makanan ini keruangan bu Zakiya ya, beliau sedang ada tamu." menyerahkan sebuah nampan yang berisi menu hidangan makan siang.
"Tok tok tok
"Ya masuk!" bu Zakiya menyahut dan mempersilahkan untuk masuk.
"Permisi bu, saya mau mengantarkan pesanan ibu." mendekat dan meletakkan satu persatu makanan tersebut ke atas meja.
Rani sama sekali tidak memperhatikan orang yang sedang duduk diatas sofa, padahal orang itu tepat duduk tepat dihadapannya. Rangga terus menatap intens gerak gerik Rani, matanya lebih terfokus pada perut Rani yang menonjol dari balik seragam kerjanya.
"Mari silahkan Bu, pa...k...."
Rani terkejut melihat Rangga yang juga sedang menatapnya . mereka beradu pandang, sepersekian detik Rani menatap Rangga. Lalu menundukkan pandangannya dan berlalu keluar dari ruangan itu.
"Terima kasih ya Rani." bu Zakiyah tersenyum
"Iya bu, Sama sama."
__ADS_1
"Tante, aku ketoilet sebentar ya."
******
Jantung Rani berdetak kencang. ia takut kalau Rangga akan memberitahukan kepada Varell kalau ia bekerja tempat itu.Rani berhenti sejenak untuk menenangkan debaran hatinya.
"Rani....Tunggu!" Ternyata Rangga mengekori Rani dari belakang sejak ia keluar dari ruangan bu Zakiya.
"Eh, iya kak Rangga, apa kabar kak? maaf kak Rani harua lanjut kerja dulu." Rani hendak menghindari Rangga.
"Tunggu dulu Ran, aku mau bicara! ayo kita duduk disana sebentar!" menarik lengan Rani. akhirnya Ranipun menurutinya menuju kesebuah meja yang terdapat dua kursi yang berada didekat taman belakang Restauran.
"Kakak mau bicara apa? Rani tidak bisa berlama-lama, masih banyak kerjaan." Rani tak berani menatap langsung mata Rangga.ia masih merasa kaget dan takut.
"Rani, apa kau takut kalau aku akan mengatakannya pada Varell? tenang saja, aku tidak akan bilang apapun pada Varell."
Rani menghembuskan nafasnya lega, karena yang dikhawatirkannya tidak akan terjadi. ia pun mulai bisa tersenyum. Rangga kembali terpesona oleh senyum manisnya itu.
"Cantik.... "berguman pelan.
"Ah, bukan apa-apa. boleh aku bertanya sesuatu Ran?" Rani hanya mengangguk
"Kenapa kamu bekerja Ran, apa Varell tidak memperlakukanmu tidak baik? apa dia masih marah soal waktu itu?"
"Tidak kak, tidak apa-apa. Rani juga cukup tahu diri kak. memang sedari sebelum kami menikah mas Varell tidak pernah menyukai Rani kok.jadi Rani sudah ikhlas menerimanya. Rani baik-baik saja. kak Rangga tidak usah berselisih lagi dengan mas Varell. Rani dan mas Varell juga sudah biasa-biasa saja kak.Maaf kak, Rani harus kebelakang sekarang. "melangkah cepat meninggalkan Rangga yang masih terpaku menatap kepergian Rani.
‐--------
Maima dan Rani sedang duduk di halte menunggu kendaraan umum yang akan mengantarkan mereka pulang. Maima melihat sikap sahabatnya itu yang murung sejak tadi.
"Ran, kamu kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Ah, tidak ada apa-apa Mai. cuma agak letih saja."
"Ya sudah kalau tidak ada apa-apa. kamu jangan terlalu memporsir diri ya Ran.kalau lelah istirahat saja, ingat kandunganmu!"
"Iya Mai, kamu ini cerewet sekali sih." menyenggol lengan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Tin tin tin"
Tiba-tiba ada mobil mewah berhenti tepat didepan mereka. kaca jendela mobil itupun di turunkan oleh sang pengemudi.
Rani dan Maima menunduk dan menengok siapa orang itu. Dan Ranipun terkejut kembali karena Rangga keluar dan turun lalu menghampirinya.
"Ran, mari aku antar pulang." tersenyum lembut dengan wajah tampannya. Rani menengok kesamping pada Maima, sedangkan Maima malah melongo terikat akan pesona sorang Rangga Dwi Laksmana.
"ehem....Mai, Maima! " menyenggol-nyenggol sang sahabat. sontak lamunan gadis itupun langsung ambyar.
"Eh, iya Ran. ada apa?"Gelagapan
"Maaf kak, Rani akan pulang bareng Maima. silahkan kakak duluan saja."
"Temanmu bisa ikut sekalian kok, iya kan Maima? namamu tadi Maima kan?" tatapan yang langsung membuat gadis mania itu langsung melting.
"Eh, Iya iya boleh kok kak. ayo Ran!" menarik tangan Rani memasuki mobil Rangga.
"Ehemm....aku bukan supir kalian loh ya?" Rangga menatap kedua gadis itu yang malah duduk manis di jok belakang.
"Ran, kamu duduk didepan sana menani kak...." bingung mau memanggil apa pada orang yang baru ditemuinya itu.
"Rangga, panggil aku kak Rangga saja ya Mai!"
"Eh, iya kak Rangga. sudah sana Ran!" mendorong Rani agar segera berpindah tempat ke depan.
Sepanjang perjalanan suasana hening, tak satupun yang bersuara. hingga Rangga memulai percakapan untuk mencairkan suasana.
"Ini siapa dulu yang mau diantar ya?" menengok sejenak kearah samping dimana Rani duduk manis.
"Rani saja dulu kak, kan yang paling dekat. baru Maima yang agak lumayan jauh."
"Oke, baiklah tuan-tuan putri yang cantik."
tersenyum penuh pesona namun hanya gadis yang duduk dibelakang tersipu-sipu, karena dibilang cantik oleh cowok ganteng.
Tbc
__ADS_1