
"Apa yang anda lakukan tuan Zack, ini sangat memalukan. Saya tidak mau ikut makan bersama dengan anda dan nyonya yang terhormat itu! tolong lepaskan saya!" Ayu memberontak dengan mendorong dada Zack dan mencoba untuk melepaskan diri.
"Ssttt.... Cup...cup?!"
"Zackkk... apa yang kau lakukan?"
Mommy Sinta terbelalak melihat apa yang tengah di lakukan oleh putranya terhadap gadis yang di kenalkan sebagai pacarnya itu.
Sontak, Ayu pun refleks mendorong tubuh Zack hingga terlepas dari pelukkan laki-laki yang selalu memaksakan kehendaknya itu. Sampai dirinya tak kuasa untuk menolaknya. Wajahnya sudah sangat memerah karena malu.
Sedangkan Zack, laki-laki itu hanya cengengesan sama sekali tak malu tepergok oleh sang mommy tengah mencium sang gadis.
"Tuan, saya permisi mau pulang saja!"
"Tolong ja..."
"Zack, Ayo cepat! sebentar lagi daddy akan akan sampai!" Panggil Mommy Sinta kembali.
"Iya mom, sebentar!"
"Ayo manis, kita akan makan siang bersama!" Menggandeng tangan Ayu, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Di ruang makan, semua telah duduk di posisi masing-masing. Ayu duduk di samping Zack, sedangkan Mommy Sinta dan Tamara juga duduk bersebelahan tepat di seberang mereka. suasana tampang tegang, terutama Ayu yang terlihat begitu canggung dan tak nyaman akan situasi yang tengah di hadapinya.
"Kita tunggu daddy sebentar!" Mommy Sinta menatap tajam pada Ayu, hal itu membuat gadis itu semakin gugup.
"Berapa umurmu?"
"Sa–saya nyonya?" Semakin gugup dan ketakutan.
"Iya, kamu! memangnya siapa lagi orang asing yang ada di sini?" Bersuara keras dan sedikit membentak.
"20 tahun, nyonya!" menatap sekilas lalu, menundukkan pandangannya karena takut dengan sorot mata yang begitu tajam itu.
"Mom, tolonglah jangan bersikap kasar pada Ayu! dia akan menjadi istriku dan juga menantu di rumah ini mom!" Menggenggam jemari Ayu yang berada di atas meja.
Tamara yang melihatnya jadi semakin kesal dan tidak suka dengan gadis yang akan menjadi saingannya.
"Kurang ajar, kenapa sih si Zack malah membawa cewek itu? siapa sebenarnya dia? sepertinya aku belum pernah melihatnya? Aku akan mencari tahu!"ini tidak bisa di biarkan, Akulah yang lebih pantas menjadi pendamping Zack!" Tamara mulai berpikir untuk merencanakan sesuatu.
"Bukankah dia terlalu muda untukmu Zack?Lagi pula apa kau sudah mengetahui dengan baik keluarganya? mommy tidak mau ya sembarangan menerima calon menantu yang... kau juga pasti sudah mengerti kan apa yang mommy maksud?"
Zack merasakan tangan Ayu yang dingin dan gemetar. Ia pun semakin mengeratkan genggaman tangannya, menguatkan sang gadis.
"Mommy...!"
"Ada apa ini? mengapa kalian saling meninggikan suara?"
Tuan besar Brown tiba-tiba saja muncul dan langsung duduk.Ia pun menatap istri dan putranya yang tampak tegang.
"Oh, tidak ada apa-apa Ed! ayo kita mulai makan saja!"
Tuan Brown melihat kehadiran sosok asing di hadapannya. Menatap Ayu penuh tanya.
"Sebaiknya kita makan dulu saja!"
__ADS_1
Dan akhirnya mereka makan bersama dengan suasana hening dan hanya terdengar dentingan suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring.
Seusai makan siang bersama, Zack meminta waktu untuk berbicara kepada kedua orang tuanya. Dan saat ini mereka sudah berada di ruang keluarga.
Ayu duduk berdampingan dengan Zack. Tuan Brown menatap intens gadis yang duduk tertunduk di samping putranya. Sedang mommy Sinta dan Tamara masih memandang rendah pada Ayu.
"Kamu kenapa masih di sini...Tamara?ini adalah pembicaraan keluarga, sebaiknya kau pulang saja!" Tamara yang di tegur pun menoleh pada Zack dan mimik wajahnya berubah cemberut. Zack terang-trangan mengusir gadis itu.
Dengan berat hati, gadis itu pun berpamitan untuk pulang.
"Om—tante, aku pulang dulu ya!"
"Iya, sayang. Jangan khwatir, semua akan berjalan sesuai rencana!"
"Baiklah, tante. Terima kasih!" Setelah bercipika cipiki gadis itu pun melangkah pergi.
Setelah kepergian Tamara, suasana tampak hening kembali. Mereka hanya saling memandang. Terutama mommy Sinta terus menatap tak suka pada gadis yang duduk di sebelah putranya.
"Ekhem—Jadi, Son. Apa yang ingin kamu bicarakan kepada kami?" Tuan Brown memecah keheningan dan memulainya dengan bertanya pada sang putra.
"Begini dad, mom. Aku ingin memperkenalkan pacarku, namanya Ayu. Dan kami ingin meminta restu kepada kalian untuk menikah."
"APAA...?"
Mommy Sinta begitu terkejut akan perkataan yang di lontarkan oleh putra kesayangannya.
"Kamu tidak serius kan son?dan gadis ini, siapa tadi namanya?"
"Ayu, mom—namanya Ayunia Danastri." Zack menjelaskan lagi siapa nama lengkap dari Ayu.
"Maksudnya ini apa? sebenarnya apa yang di inginkan tuan Zack pada diriku?pacar?calon istri?dasar, seenaknya saja dia?ini tidak boleh di-diam saja! aku harus melakukan sesuatu! "
Ayu bermonolog dalam hati, hatinya sudah semakin kesal pada Zack dan kesabarannya sudah di ambang batas. Tangannya telah mengepal erat.
"Hey...aku bertanya padamu nona?kenapa diam saja? ayo, jawab!" mommy Sinta kesal karena Ayu sama sekali tidak menanggapi pertanyaannya.
"Itu mom, Ayu tinggal di daerah Menteng.Dia sudah bekerja. Iya kan, sayang?" Zack tersenyum lembut dan meremas tangan Ayu.
"Maaf!tapi, itu—sebenarnya saya..."
"Sayang, apa kamu sudah lelah ya?" Memberi kode dengan mengedipkan matanya. Membuat Tuan Brown dan mommy Sinta mengernyitkan keningnya
"Zack...mommy bertanya padanya, kenapa jadi kamu yang selalu menjawabnya?apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari kami?"
Zack terdiam, ia bingung harus mencari alasan apa lagi? sedangkan Ayu sepertinya sudah mau meledak, tatapannya berubah tajam.
"Baiklah, kalau begitu mommy mau bicara berdua saja dengan pacarmu ini!mari ikut aku!"
Mommy Sinta beranjak darinduduknya, kemudian di susul Ayu mengikuti di belakangnya berjalan menuju ke ruang kerja tuan Brown.
Zack tampak resah, ia takut Ayu akan mengatakan yang sebenarnya dan segala kebohongannya akan terbongkar.
"Ada apa denganmu son? sepertinya kau begitu tak tenang?" Daddy Ed melihat ada yang tidak beres dengan putra semata wayangnya itu.
"Oh—tidak ada apa-apa dad, biasa saja kok!" Terkekeh menutupi kegundahannya.
__ADS_1
Sementara itu di ruang kerja suaminya. Mommy Sinta tengah menginterogasi gadis yang di akui sebagai calon istri dari putranya.
Ayu nampak gugup, jari jemarinya meremas dress yang dikenakannya. Pandangannya pun masih menunduk tak berani menatap langsung wanita paruh baya yang terlihat begitu tegas dan angkuh.
"Ehem—sekarang, aku ingin tahu yang sebenarnya.Katakan dengan jujur jangan ada yang di tutup-tutupi!"
"Maksud anda apa nyonya?"
"Sudah, tidak perlu berpura-pura kamu! kamu mendekati anak saya karena materi kan? mengaku sajalah! berapa yang kamu inginkan?"
Perkataan wanita paruh baya itu begitu menusuk hatinya, gadis itu merasa di rendahkan.
"Maaf nyonya yang terhormat.Saya akui, saya memang hanya berasal dari kalangan biasa. Tapi, saya tidak pernah dan tidak menginginkan sepeser-pun uang dan harta dari keluarga anda."
"Dan asal anda tahu, bukan saya yang mendekati putra anda. Tapi, putra anda yang terus mengejar saya. Saya pun tak mengerti apa yang di inginkannya. Bahkan kami baru mengenal 3 hari yang lalu? harusnya anda yang meminta penjelasan dari putra anda si pemaksa itu!"
Ayu sudah tidak bisa lagi menahan gemuruh di hatinya. Ia sama sekali tidak tahu apa yang tengah di rencanakan oleh Zack.
Mommy Sinta terpaku mendengar semua perkataan gadis yang sedari tadi hanya diam dan menunduk saja. Namun, saat ini gadis itu berubah drastis. Ia begitu menggebu-gebu meluapkan emosinya.
"Apakah yang dikatakan gadis ini benar adanya? apa Zack yang telah memanfaatkannya? Gadis ini terlihat sangat jujur. Dasar bocah nakal! bisa-bisanya dia mau membodohi orang tuanya."
"Kalian baru mengenal 3 hari? Tapi, kenapa Zack bilang kamu adalah pacarnya?apakah kamu juga menyukai putraku?" Mommy Sinta mencoba mengorek isi hati Ayu.
"Pacar? maaf nyonya, terbersit pun saya tak pernah berpikir ingin menjadi kekasih atau pacar dari tuan Zack. Dia laki-laki egois yang selalu memaksakan kehendaknya sendiri."
"Maksudmu, Zack yang memaksa kamu untuk menjadi kekasihnya? Jadi, kalian tidak benar-benar memiliki hubungan?"
Dan Ayu mengangguk membenarkan semua yang di katakan oleh mommy Sinta.
"Baiklah kalau begitu, ngomong-ngomong kamu bekerja di mana?" Setelah mendengar semuanya, mommy Sinta mulai melunak tak lagi bersikap judes pada Ayu.
"Saya seorang baby sitter dan tinggal di rumah majikkan saya yang bernama tuan Varell dan nona Rani Darmanto."
"Oh, jadi kamu bekerja dengan Varell dan Rani, sebagai baby sitter cucu di keluarga Darmanto."
Hening sejenak, Ayu nampak sudah tak betah berada di rumah megah itu. Ia ingin segera pergi dari sana.Ia teringan akan tanggung jawabnya terhadap baby Rava.
"Maaf nyonya, apa saya sudah boleh pergi? karena saya masih memiliki tanggung jawab untuk merawat dan mengasuh baby Rava!"
Mommy Sinta dan Ayu pun akhirnya keluar dan menuju kembali ke ruang keluarga dimana Zack dan daddy Edward tengah menunggu mereka.
"Sayang...kamu tidak di apa-apa-in kan sama mommy? apa mommy melakukan sesuatu padamu?katakanlah, tidak usah takut!"
Zack berakting kembali dengan bersikap lembut dan mesra kepada Ayu. Mommy Sinta hanya mengulum senyum melihat kelakuan putranya yang sangat pintar bersandiwara itu.
"Oke, setelah mommy berbicara panjang lebar dengan kekasihmu ini. maka, mommy sudah bisa memberi kesimpulan bahwa kalian memang tidak cocok sama sekali. Mommy sudah tahu semuanya, son. Dan kamu sudah tidak usah bersandiwara lagi!"
"Ma—maksud mommy apa? sebenarnya apa yang kamu katakan kepada mommy, sayang? apa kamu tidak mengatakan fakta yang sangat penting itu?" Zack sepertinya sedang mulai bersiasat lagi.
"Fakta?"
Kompak daddy Edward, mommy Sinta dan Ayu mengatakannya.
"Iya, Fakta bahwa Ayu saat ini sedang mengandung anak Zack, mom!"
__ADS_1
Tbc