
Maima menangkup pipi gembil Naina dan memeluk dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.
"Mau ya,sayang?Naina akan jadi putri tante."
Gadis kecil itu pun tak lagi mampu menahan air matanya.Ia pun menangis tersedu-sedu, tak menyangka kalau akan ada orang yang memperlakukannya dengan sangat baik seperti Maima.
"Hiks...hiks, terima kasih tante sudah baik sama Naina.Tapi,Naina tidak ingin merepotkan siapapun. Naina akan pergi dan mencari pekerjaan di tempat lainnya.Tante...Naina sayang sama tante cantik!" Mencium pipi Maima.
Naina melepaskan diri dari pelukan Maima.Lalu, gadis cilik itu melanjutkan langkahnya kembali.
"Sayang, apa maksudnya kamu ingin mengajak anak itu untuk tinggal bersama kita?" Rangga meminta penjelasan pada sang istri yang tiba-tiba saja memutuskan sesuatu tanpa berbicara dulu dengannya.
"Mas,aku mohon! izinkan untuk yang satu ini, apa mas tega membiarkan anak sekecil itu berkeliaran di jalanan tanpa tujuan? kasihan, dia baru saja di buang oleh majikan kejamnya itu."
"Please!aku akan menjelaskan semuanya nanti, aku janji,mas!"
Rangga pun mengangguk dan tanpa basa basi lagi, Maima bergegas menyusul si kecil Naina.
"Terima kasih, mas!"
"Cup." Mencium sekilas bibir sang suami.
Maima bahkan sampai berlari megejar Naina cilik.Dan benar saja dugaan Mama bahwa gadis kecil itu tengah kebingungan hendak kemana?Maima segera menghampirinya.
"Naina! tante bilang tadi apa? Naina kok malah pergi?ayo, ikut pulang ke rumah tante!" Menjulurkan tangannya untuk menggandeng tangan mungil Naina.
"Tante tidak bohong, kan?" Menatap lekat dengan wajah sendunya.
Maima kembali berjongkok mensejajarkan tingginya dengan si gadis mungil itu. Lalu menangkup kedua pipi gembilnya dan tersenyum hangat penuh kasih sayang.
"Tante serius,sayang! Ayo...!"
Naina mengangguk dan akhirnya mau ikut bersama dengan Maima masuk kembali ke kediaman keluarga Darmanto.
"Mas, ini yang namanya Naina. Cantik,kan? dan Naina, ini om Rangga.Suami tante."
"Hallo,om.Nama saya Naina." Mencium punggung tangan Rangga.
"Hallo juga,Naina cantik.Salam kenal ya!" Rangga tersenyum lalu mengusap kepala si kecil Naina.
"Nah, Naina.Sekarang kamu kesana ya, bwrgabung dengan teman-teman lainnya!" Maima menunjuk spot tempat bermain para bocil.
"Baik, tante." Dan kaki kecilnya mulai melangkah ke tempat dimana anak-anak lainnya tengah berkumpul dan bermain bersama.
Acara perayaan ulang tahun dek Dean pun berjalan dengan lancar dan semua larut dalam kegembiraan terutama para anak-anak mereka.
"Mai, kamu beneran serius akan membawa Naina untuk tinggal bersama kalian? apa kak Rangga mengizinkan?"
Rani sedari tadi penasaran akan keseriusan sang sahabat dalam mengambil kepitusan yang sangat besar itu.
__ADS_1
"He'em...aku serius beneran,Ran.Dan alhamdulillah mas Rangga telah memberi lampu hijau."
Rani mengangguk mengerti dan menggenggam tangan Maima memberikan semangat pada sang sahabat.
"Naina anak yang sangat manis, semoga dia selalu mendapatkan kebahagiaan.Kamu memiliki hati seperti malaikat,Mai. Semoga keluarga kecil kalian juga selalu di limpahkan kebahagiaan."
Maima tersenyum dan mengelus perut Rani yang sudah terlihat membuncit. "Terima kasih atas do'a nya. Semoga debay sehat di dalam sini dan sehat selamat sampai kelahiran nanti."
"Aamiin. Terima kasih onty Maima atas do'a nya." Rani menirukan suara anak balita dan Maima terkekeh geli.
"Kamu ini, Ran bisa saja deh! Ya sudah, kalau begitu kami pamit. Lain waktu kita sambung lagi ngobrolnya!" Kedua mama muda itu pun saling bercipika cipiki.
Rangga menghampiri Maima dengan menggandeng putra mereka,Rama yang terlihat sudah mulai mengantuk.
"Sudah kan, Mai?"–Rangga
"hmm...sudah,Mas. Ayo, kasihan sepertinya anak-anak sudah mengantuk!loh, Naina mana ya?" Maima celingak celinguk mencari keberadaan Naina si gadis cilik.
"Ah, itu dia! Naina sayang, ayo nak kita pulang!" Maima melihat Naina yang berjalan ke arahnya,sepertinya gadis cilik itu baru saja dari belakang. Naina memang anak yang mandiri.
"Maaf, tante.Tadi Naina sedang ke kamar mandi mau pipis." Betapa polosnya gadis mungil itu.
Maima tersenyum, menggandeng tangan mungil Naina.
Rama dan Naina duduk di kursi belakang. Sepertinya keduanya belum begitu akrab.Ya, mungkin karena sifat Rama yang pendiam tak banyak bicara, sangat mirip seperti sang papa.
"Iya, walaupun Rama pendiam tapi, putra kita adalah anak yang baik dan tak pernah neko-neko.Mas juga yakin Rama pasti akan bersikap baik pada Naina."
Maima menoleh ke belakang dan ternyata ledua bocah itu telah tertidur.
Rangga menggendong Rama dan membawanya ke dalam kamar putranya. Sedangkan Maima menggendong Naina.
"Loh Mai, kok Naina kamu bawa ke kamar Rama?" Rangga mengernyit ketika melihat istrinya membawa masuk Naina masuk ke dalam kamar putra mereka.
"Memangnya kenapa, mas?biarlah untuk malam ini Naina tidur di sini dulu!" Meletakkan tubuh mungil itu dengan hati-hati.
"Mereka kan laki-laki dan perempuan, sayang. Masa' kamu suruh tidur bersama?" Rangga masih menatap bingung kedua bocah yang telah tertidur lelap.
Maima tersenyum melihat wajah was-was suaminya.Sepertinya Rangga terlalu berpikir hal yang aneh-aneh?
"Kamu ini mikir apa sih, mas? mereka itu masih kecil, tidak akan berpikiran seperti apa yang ada di benak mas Rangga?mas terlalu berpikir jauh?sudah, biarkan mereka beristirahat.Ayo, kita ke kamar!"
Mendengar kata kamar dan juga ajakan dari sang istri. Seketika pikiran nakal muncul dan tentu saja arahnya ke sana?
"Ke kamar? ayolah, siapa takut?" Mengapit pinggang ramping Maima dengan senyum yang terua terkembang di wajah tampannya.
"Siapa takut? memang kita mau adu nyali, apa? mas, ini ada-ada saja deh?" Maima menggelengkan kepalanya. Dan tetap menuruti sang suami yang menggiringnya masuk ke dalam kamar pribadi mereka.
Setelah sampai di dalam, Rangga lansung menyerang dengan semangat yang berkobar-kobar. Maima sampai tak bisa berkutik dan pasrah menuruti kemauan dari suami mesumnya itu.
__ADS_1
"Ayo kita buat dedek bayi!"
"Akh...Ma‐ssh!"
----------------------
Di lain tempat, Rani telah selesai memberaihkan wajahnya memakai skincare malam nya. Varell sudak standby di atas tempat tidur masih asik dengan ponselnya.
Hingga Rani sudah merebahkan tubuhnya di sampingnya, Varell baru menyadarinya.
"Sayang, kamu kok wangi sekali, sih? pakai parfume baru,ya?" Varell mengendus aroma harum yang menguar dari tubuh sang istri.
"Parfume apa? kan mas tahu sendiri sejak hamil Rani ngak suka bau parfume apa pun kecuali, wangi parfume mas Varell."
Ya, di hamil yang ke dua ini Rani memang tidak bisa mencium wangi parfume yang beraroma apa pun.Namun anehnya, hanya aroma parfume milik Varell yang tidak membuatnya mual, malah ia sangat menyukainya? hormon wanita hamil memang aneh?
"Hmm...iya, mas lupa. Berarti kamu ngak pakai parfume? trus, kok kamu harum sekali sayang, membuat mas jadi...ehemm?" mengedipkan matanya genit pada sang istri.
"Bisa ae, mas...mas.Bilang saja sedang ada maunya?"
"Nah itu kamu sudah mengerti?makin pintar ya istri mas ini!Ayo, let's start!"
"Ih...apa sih,mas? mulai–mulai apa? udah deh ah, jangan macam-macam!ingat...nih perut Rani ada baby nya!" Rani memperlihatkan perut buncitnya pada suaminya.
Varell malah tersenyum jahil ingin mengerjai sang istri. " Mana-mana? coba lihat! oh...iya, ada adiknya mas Rava!Hai, baby sedang apa di dalam perut mama? boleh tidak papa menengok baby?" Mengelus-elus dan mengecupi sang baby yang masih berada di rahim sang bunda.
"Modus banget sih kamu,mas!" Mencubit gemas perut Varell
"Aww...sakit,sayang.Kok modus sih? tapi, mas memang tiba-tiba saja sedang kangen sama baby trus pingin itu...eh, maksud mas itu ya pingin menengok adiknya mas Rava!" menyengir kuda.
"Tetep modus.com! sudah ah, besok saja. Rani sudah ngantuk,mas.hoamm...!"
"Yah–jadi, ngak di izinin nih mau nengok baby nya?" Memasang wajah cemberut dan lesu.
Rani hampir saja tak bisa menahan dan ingin tertawa melihat tingkah suaminya yang semakin absurd itu.
"Iya...iya, boleh saja kok! tapi, besok?"
Akhirnya Rani pun tak bisa lagi menahan tawanya, ia pun terpingkal-pingkal sampai menheluarkan air matanya.
"Heyy...nakal ya, mau mengerjai mas? ayo sini, mas mau nengokin baby sekarang juga!" Tanpa ba bi bu Varell langsung beraksi dengan lincahnya sampai Rani di buatnya kuwalahan.
"Ahh...mas, geli?!"
"Sttt...sudah diam! geli tapi , enak kan?"
Akhirnya papa Varell berhasil bertemu dengan adiknya mas Rava.
Tbc
__ADS_1