Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
113. Naina mengetahui semuanya


__ADS_3

"Sasa...tunggu!"


Naina berlari mengejar Sasa yang juga baru saja sampai di gerbang sekolah. Rama melajukan mobilnya menuju ke parkiran. Rama melewati mereka begitu saja, senyum miris tersemat di wajah manis Sasa. Ia jadi teringat waktu malam yang lalu.


"Eh, Sa–gimana-gimana kemarin pas mas Rama nganter elo?" Tanya Naina antusias.


"Ya, ngak gimana-gimana. ck...Pingin tahu aja deh loe." Sasa tersenyum mengejek membuat Naina semakin penasaran.


Naina mengapit lengan Sasa dan masih terus membujuk sahabatnya untuk berbagi cerita tentang malam kemarin.


"Ayolah,Sa!"


"Sudah ah, yuk cepat ke kelas sebentar lagi bell masuk berbunyi!"


Para siswa berhamburan keluar kelas karena jam pelajaran telah usai. Rava, Rama,Zander dan Dean sudah berada di tempat parkir menuju ke mobil mereka masing-masing.


"Sa, jadi kan kita belajar bersama lagi? tapi Kiki katanya ngak bisa ikut ibunya sedang tidak enak badan.Ayo Sa, itu mas Rama sudah menunggu kita!" Naina menarik tangan Sasa.


Sasa sekilas melihat Rama yang menatapnya tajam, terlihat sekali bahwa pemuda itu tidak suka dan tak mengingingkannya untuk ikut.


"Eh–sorry Nai, gue sampe lupa ada janji sama saudara sepupu gue yang baru datang dari Bandung.Jadi, kayaknya ngak jadi deh belajar di rumah loe.Sorry ya,Nai."


"Oh gitu ya, udah deh ngak apa-apa lain kali juga bisa." Naina sedikit kecewa,padahal ia selalu bersemangat jika belajar bersama dengan Sasa yang memang berotak encer.


Setelah saling berpamitan mereka pun segera melajukan kendaraan mereka keluar gerbang sekolah. Naina melihat Sasa yang masih berdiri mematung menatap kepergian mereka.


"Maaf ya Nai, gue ngak bisa terlalu deket lagi sama elo. gue juga ngak mau ngerasain sakit di sini." Sasa menyentuh dadanya yang terasa sesak.


Di dalam mobil, Naina masih memikirkan tentang Sasa yang tiba-tiba saja berubah sikap terhadapnya. Walaupun Sasa selalu menyunggingkan senyumnya namun, Naina dapat merasakan bahwa ada yang tidak.beres dengan sang sahabat. Apakah itu ada kaitannya dengan Rama?


"Mas, apa aku boleh tanya sesuatu?"


"Apa?"


Pandangannya tetap fokus kearah depan.


"Kemarin malam saat mas Rama mengantar Sasa pulang, apa telah terjadi sesuatu? maksudku apa Sasa telah mengatakan sesuatu gitu, seperti mengungkapkan perasaannya pada mas Rama?"

__ADS_1


"Iya..."


"Jadi benar, Sasa benar-benar mengungkapkan perasaannya langsung pada mas Rama.Tapi, kenapa mereka malah terlihat biasa saja malah Sasa seperti ingin menghindar dan menjauhi mas Rama dan juga aku?apa yang sebenarnya telah di katakan oleh mas Rama sampai Sasa tiba-tiba berubah sikapnya bahkan terhadapku juga?"


Berbagai macam pertanyaan menghinggapi di pikirannya.


"Ehemm...kok malah melamun? apa lagi yang ingin kamu ketahui?"


Tiba-tiba Rama menghentikan kendaraannya di tepi jalan. Kemudian ia menatap lekat Naina.


"Kamu ingin tahu kan apa jawaban yang kuberikan padanya?baiklah, akan kuberitahu.Aku telah menolaknya karena aku tidak pernah menyukainya"


"Hah...jadi, mas Rama menolak cinta Sasa? padahal dia sangat menyukai mas Rama, loh. Kenapa? Sasa itu gadis yang baik, pintar dan cantik lagi."


Rama masih tetap menatap intens wajah Naina yang kini terlihat salah tingkah karena sikap aneh dan tidak biasa yang di perlihatkan oleh laki-laki itu terhadapnya.


"Ma–mas, sebaiknya kita segera pulang nanti mama akan khawatir kalau kita sampai pulang telat."


Naina mencoba mengalihkan perhatian Rama yang selalu menatapnya aneh dan membuatnya risih.


"Oke." Rama pun melajukan mobilnya kembali dan tak ada lagi percakapan diantara mereka.


Dan sejak itu Naina sama sekali tidak bertemu kembali dengan Sasa. Gadis itu seperti menghilang di telan bumi. Ketika melihat Kiki yang baru saja tiba di sekolah, Naina segera menghampirinya.


"Kiki...hosh...hosh...hosh!"


Naina sampai ngos-ngosan karena berlari mengejar Kiki yang sudah jauh masuk ke dalam lingkungan sekolah.


"Ya ampun, Nai. Loe dah kayak habis lomba lari marathon aja. Ada apa sih terburu-buru amat? what's wrong bestie?"


"Sasa kemana sih?sejak ujian selesai dia ngak pernah nongol lagi di sekolah? gue.jadi khawatir babget sama dia Ki."


Kiki jadi tidak tega melihat wajah sedih Naina. Sebenarnya Kiki tahu semua yang terjadi pada Sasa. Namun, atas permintaan Sasa agar ia tidak memberitahukan apapun kepada Naina.


"Ki...kok loe malah bengong sih? ayo cepet bilang, loe pasti tahu kan apa yang terjadi pada Sasa? gue mohon Ki kasih tahu semuanya jangan ada yang loe tutup-tutupi!"


"Apa ini ada hubungannya dengan mas Rama yang telah menolaknya?" Naina bergumam dan tanpa sadar mengatakan kebenarannya.

__ADS_1


"Jadi loe dah tahu juga Nai soal itu? apa Sasa yang cerita ke elo langsung?" Naina menggeleng.


Kiki menarik tangan Naina dan mengajaknya menuju ke suatu tempat.


"Sebaiknya kita bicara di tempat yang aman dan nyaman. Ayo, ikut gue!"


Mereka berada di taman belakang sekolah dan mencari spot yang terlihat sepi. Naina dan Kiki duduk di sebuah bangku panjang.Dan Kiki mulai menceritakan semuanya kepada Naina.


"Nai, sebenarnya Sasa merasa malu dan tak enak hati padamu terutama pada Rama. Karena Sasa tidak mau bersaing dengan sahabatnya sendiri hanya demi memperebutkan cinta seorang laki-laki. emm...karena cewek yang di sukai Rama itu adalah elo,Nai."


"Apa–?"


Naina terbelalak tak menyangka akan hal tersebut. Rama yang selama ini sudah di anggapnya seperti kakak kandungnya sendiri ternyata menaruh hati pada dirinya. Naina sungguh tidak bisa mempercayainya.


"Loe jangan bercanda deh,Ki?siapa yang bilang?"


"Sasa yang bilang dan itu sesuai dengan pernyataan dari Rama sendiri. Dia bilang Rama jatuh cinta sama elo Jadi, ya Sasa memilih mundur dan mencoba untuk menjauh dari kalian agar hatinya tidak bertambah sakit."


Kiki juga menceritakan satu lagi rahasia yang belum di beritahukannya pada Naina. Yaitu soal musibah yang belum lama menimpa keluarga Sasa. Kedua orang tua Sasa tewas dalam sebuah kecelakaan dan seluruh aset perusahaannya di sita oleh bank untuk menutupi hutang-hutang dengan para investor bisnis papa nya.


Naina sontak kaget mendengar semua yang telah dikatakan oleh Kiki dan tak menyangka kalau Sasa selama ini tengah mengalami kesusahan.


"Lalu dimana Sasa sekarang?please kasih tahu gue,Ki."


"Dia tinggal di sebuah kos-kosan.Sasa ngak mau gue ajak tinggal di rumah gue karena dia bilang ngak mau merepotkan siapa pun."


"Mas Rava, aku boleh minta tolong ngak?"


Saat jam pulang sekolah Naina mencari keberadaan Rava di tempat parkiran. Dan untungny pemuda itu belum melajukan mobilnya. Rava menoleh pada Naina yang memanggilnya.


"Minta tolong? emm...tentu saja, ada apa Nai? trus Rama gimana?" Rava celingak celinguk mencari keberadaan Rama.


"Nanti aku akan telpon mas Rama. Tolong temani aku ke tempat Sasa ya, mas!" Menatap Rava penuh harap.


"Ya sudah, oke.Ayolah–!"


Mereka segera bergegas meninggalkan sekolah. Tanpa mereka sadari ada sosok pemuda tampan menatap kesal kepergian Rava dan Naina. kedua tangannya mengepal kuat.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2