
"Aku menyukaimu."
Rani menggelengkan kepalanya, masih tidak percaya apa yang di dengarnya.
"Tuan Luis menyukaiku? itu tidak boleh terjadi, sebaiknya aku berhenti bekerja saja."
"Ting tong ting tong...
Dengan mata yang masih mengantuk, Rani segera bangun dan turun kebawah untuk melihat siapa yang bertamu dipagi buta begini.
"Cklekk
"Minggir! Varell, dimana kamu sayang?" berteriak-teriak mencari keberadaan Varell. Ya, orang itu adalah Amanda.
"Heh gadis kampung mana Varell? " berkacak pinggang dan menatap sinis Rani.
"Maaf nona Amanda, saya rasa sangat tidak sopan bertamu dirumah orang sepagi ini. Apalagi tujuannya untuk menemui suami orang" jawab Rani lantang.
"Itu bukan urusanmu, aku tidak peduli. Dimana kamarnya?" Menghalau Rani dengan mendorong tubuh wanita hamil itu hingga jatuh terduduk.
"Akh, sakit!" Rani meringis merasakan sakit pada perutnya.
Amanda tidak perduli dan hanya cuek saja.Dan baru saja Amanda melangkah ingin menuju kamar bawah, tiba-tiba pintu kamar itupun telah dibuka.
"Berisik sekali sih, ada apa ini? Amanda, untuk apalagi kau datang mencariku. urusan kita sudah selesai bukan? pergilah, aku tidak ingin berhubungan lagi denganmu!"
Varell terlihat begitu emosi pada Amanda. Rani hanya diam menyimak perdebatan sang suami dan kekasihnya itu.
"Apa maksud mas Varell berkata seperti itu pada Amanda? apakah mereka telah berpisah?"Rani
"Dengarkan aku dulu sayang, semua itu hanya salah faham. Kau tahu sendiri kan kalau Edward yang selalu mengejar-ngejar aku. Dan dia sudah menjebakku agar hubungan kita putus sayang." mulai menangis menitikkan air mata palsunya.
"Aku tidak perduli apapun alasanmu, aku paling benci penghianatan.Dan kau sudah melakukannya untuk kesekian kali...." jadi, pergilah dan jangan ganggu kehidupanku lagi!"
Berpaling tak sudi menatap Amanda yang ternyata sudah ke gap bersama laki-laki lain disebuah kamar hotel.sepertinya wanita itu terkena karmanya sendiri karena pernah menje bak Rani.
"Tapi kan kau masih mencintaiku kan sayang, jadi kau harus lebih percaya denganku." tetap berusaha meyakinkan Varell
" Cinta, maaf Manda. sebenarnya cintaku sudah mulai terkikis sejak kau meninggalkanku dengan laki-laki itu dulu.Jadi aku mohon pergilah dari sini. silahkan!"
"Baiklah Rell, tapi ingatlah satu hal. aku akan tetap mencintaimu dan menunggumu untuk kembali bersama lagi. sampai jumpa." melangkah pergi.
"Terserah!" Varellpun hendak kembali kelamarnya, namun langkahnya terhenti mendengar Rani memanggilnya.
"Mas.... aduh!" meringis sambil memegang perutnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu?" Mendekati Rani yang sedang duduk diatas sofa.
"Ah, tidak apa-apa mas. cuma nyeri sedikit." me gelus perutnya yang sudah terlihat mulai membesar itu.
"Oh, ya sudah." kembali melangkah dan masuk kekamar.
"Syukurlah, akhirnya mas Varell sudah mengetahui segalanya. dan semoga suatu saat nanti kau percaya padaku mas."
Berjalan tertatih menuju dapur untuk memasak sarapan pagi untuk sang suami.
"Tok tok tok... Sarapannya sudah siap mas."
"Ceklekk
"hmm.... Varell sudah rapi dan terlihat tampan dengan setelan jas navy nya. Rani sejenak terpaku menatap sang suami yang semakin mempesona.
"Heh, apa yang kau lihat? Menyingkirlah, kau menghalau jalanku!"
"Eh iya, maaf mas. silahkan menikmati sarapannya mas.Rani mau kembali ke atas dulu." menunduk menahan air mata yang akan segera menetes.
Varell menatap hidangan yang telah tertata rapi diatas meja. Dan memakannya dengan sangat lahap.
Sementara itu dikamarnya, Rani sedang memikirkan bagaimana ia harus mencari pekerjaan lagi.
Rani menelusuri jalan, bertanya dari satu tempat ke tempat yang lain. bertanya apakah ada lowongan pekerjaan. Ketika ia sedang duduk di halte bis, tiba-tiba ada seseorang yang mengamatinya. kemudian orang itu mendekati Rani yang masih melamun.
"Rani, kamu Maharani Putri kan?"
"eh, iya betul saya Rani." menoleh dan menatap gadis yang menyapanya. Ranipun mengingat sejenak siapa gerangan wanita yang sepertinya begitu familiar.
"Maima.... !" memeluk gadis yang bernama Mawar itu yang ternyata teman sekampung halamannya.
Mereka saling melepas rindu, sudah hampir 2 tahun mereka tidak bertemu. sejak Maima merantau ke kota Ibukota. Maima mengajak Rani ke suatu taman untuk mengobrol.
"Rani, gimana kabarmu? saat aku pulang ternyata kamu sudah tidak ada, kata mbok Jum kamu dibawa oleh orang kota.jadi ternyata kami di kota ini juga. aku kangen banget sama kamu Ran." Rani juga merasa bahagia bisa bertemu kembali dengan sang sahabat. hatinya lega karena akhirnya ia tidak merasa sendirian.
"Iya, Mai....sejak dua tahun yang lalu aku pindah ke Sini, dan...." tidak melanjutkan perkataannya, ia menunduk sambil mengelus perutnya.
"Kamu hamil Ran, suamimu mana. kok kamu sendirian? Trus kamu sedang apa duduk melamun di halte itu?" mengusap perut sahabatnya itu.
"Rani mau cari kerja Mai."
"Loh, memang suamimu kemana. kamu sedang hamil Ran masa' mau kerja.suamimu memang tidak menafkahimu?"
"Suamiku, nanti saja ya Mai. panjang ceritanya!"
__ADS_1
"Oke, aku tidak akan memaksa kalau kamu belum mau menceritakannya. Jadi kamu sekarang tinggal dimana Ran? mari aku akan mengantarmu pulang kerumahmu."
Maima terkejut dan tidak percaya ketika sampai didepan Apartemen mewah. Rani lalu mengajak Maima untuk masuk.ia berani mengajak sahabatnya itu karena suaminya masih sikantor.
"Ran, kamu beneran tinggal sini. wah ternyata kamu menikah sama orang kaya ya Ran. eh, tapi kok kamu malah mau kerja sih?kenapa?" Maima merasa aneh dan bertanya-tanya dalam hatinya.
Akhirnya Ranipun menceritakan kisah kehidupan dari pertama ia di jemput dan diangkat sebagai anak oleh keluarga Darmanto sampai ia dinikahkan oleh putra pertama keluarga itu yang ternyata suaminya itu tidak pernah menerimanya.
"Ya, ampun Ran. kenapa nasibmu miris sekali. jahat sekali suamimu itu. kalau dia memang tidak menyukaimu apalagi menganggapmu ada, lalu kenapa dia menyentuhmu bahkan sekarang kamu sedang mengandung anaknya."
Air mata sudah tak bisa dibendung lagi, Rani menumpahkan rasa sedihnya pada sang sahabat. dadanya terasa begitu sesak mengingat perlakuan sang suami.Maima pun tak kuat dan ikut menitikkan air matanya.merekapun saling berpelukan erat.
"Sudah-sudah Ran, kau jangan bersedih lagi. kasihan anak yang ada didalam sini!" mengusapnya
"Iya Mai, aku juga sudah ikhlas menerima semua takdir ini. lagi pula mana mungkin ia menyukaiku si gadis kampung yang tak berpendidikan tinggi ini."
"Baiklah Ran, apa kamu mau aku carikan pekerjaan di tempatku? nanti akan aku tanyakan sama majikannku ya." aku minta no.mu, nanti akan aku hubungimu secepatnya."
Ranipun mengangguk setuju dan ia sangat senang.
--‐-‐----------
Seperti yang telah dijanjilan, kini Maima mengajak Rani ketempat dimana ia bekerja. sebuah Restauran yang cukup besar.
"Tok tok tok, permisi bu Zakiya saya Maima."
"Ya, masuklah Mai!"
"Permisi bu, ini saya membawa teman yang sedang mencari pekerjaan. apa teman saya ini bisa menggantikan posisi Anwar bu?".
"Boleh saja sih, tapi kamu sedang hamil ya nak?" akan tetapi ketika melihat kondisi Rani wanita paruh baya itu tampak berpikir.
"Iya. bu saya memang sedanh hamil, tapi saya janji saya pasti bisa bekerja dengan baik dan rajin bu."
"Bagaimana ya Mai...eumm!" bu Zakiya tampak ragu-ragu.
"Tolong teman saya bu, kasihan dia sedang hamil dan sulit mencari pekerjaan dimanapun."
"Baiklah , siapa namamu nak?"
"Maharani Putri bu." jawabnya
"Mulai besok kamu sudah bisa bekerja, nanti kamu akan ditempatka di belakang, bagian bersih bersih.Nanti Maima yang akan membimbingmu ya."
" Iya bu, terima kasih telah menerima saya bekerja disini bu." menangkupkan tangan ya.
Tbc
__ADS_1