Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
45. Sayang, lewat samping saja ya?


__ADS_3

Maima merasa lega karena telah menuntaskan hajatnya. Ketika ia baru melangkah akan membuka pintu, tiba-tiba daun pintu itu terdorong dari luar dan alhasil Maima pun terjengkang hampir terjatuh, untung saja Rangga sigap meraih tubuh Maima.


"Argh....kak, Rangga!" Miama berusaha bangkit dan melepaskan diri dari rengkuhan tangan Rangga.


srett


grepp


Rangga menarik lengan Maima dan merengkuh kembali kedalam dekapannya. kini tubuh mereka saling bersentuhan tanpa jarak, Rangga mngernyit aneh karena merasakan ada suatu penghalang diantara mereka.


"Kamu baik-baik saja kan Mai, apa ada yang sakit?" ini...?" arah matanya beralih memandang perut Maima.


"I...iya, tidak apa-apa. Maaf kak, aku cuma mau ganti sprei saja."


Melihat tampilan Rangga yang hanya memakai handuk, membuatnya malu. ia memalingkan wajahnya lalu beranjak keluar dari kamar Rangga.


Maima sudah tahu kalau itu adalah kamar Rangga, namun ia tidak menyangka kalau laki-laki itu akan pulang kerumah orang tuanya. Dan sungguh tadi ia sangat malu dan canggung. tak tahu harus bagaimana lagi menghadapinya.


Setelah sampai didalam kamarnya, Maima kembali berpikir tentang apa rencananya kedepan nanti. Kehadiran Rangga membuat hatinya bergejolak kembali.


Jauh dilubuk hati terdalamya ia akui masih tersimpan rasa untuk ayah dari anak yang dikandungnya.Namun ia telah memutuskan tak ingin berurusan lagi dengan Rangga yang bahkan tak pernah menganggapnya. Dari awal hubungan mereka memang selalu diisi dengan kepura-puraan, laki-laki itu hanya memanfaatkannya saja.


"Apa aku harus pergi lagi?iya, secepatnya aku akan mengatakan kehamilanku pada bu Herlina."


"Kita harus kuat nak, ibu akan selalu menjagamu sampai kelak kamu lahir kedunia ini." Maima mengusap-usap perutnya


Sementara itu dikamarnya Rangga juga tengah melamun dan berpikir keras tentang masalah yang telah dibuatnya sendiri. Kejadian tadi sore membuat rasa bersalahnya semakin besar pada Maima.


"Jadi benar apa yang ia bilang pada mbok Sarmi. Maima memang sedang hamil, ia mengandung darah dagingku sendiri. Aku harus mengakhiri semuanya. Maafkan aku Mai."


----------‐-------


Di kediaman keluarga Darmanto, tampak sepasang suami istri tengah bersiap-siap untuk makan malam diluar.


"Ayo kita berangkat sekarang sayang!" Varell mengapit pinggang istrinya untuk menuju kemobil. Namun sepertinya Rani masih enggan untuk pergi.


"Mas, nanti kalau baby Rava bangun gimana? kasihan pasti dia akan mencari Rani mas!"


"Sudahlah sayang, jangan khawatir! ada mama dan yang lainnya pasti akan menjaga jagoan kita. bukankah banyak atok asi mu kan?"


"Iya sih mas, tapi kan....?"


"ssutt, sudah ayolah sayang! sesekali kita juga butuh waktu berduaan kan? aku janji tidak akan lama sayang, setelah itu kita langsung pulang." Varell menempelkan jari telunjuknya pada bibir Rani agar tidak protes lagi.


Kini mereka telah sampai disebuah restauran mewah di sebuah hotel berbintang lima. Rani begitu menikmati suasana romantis yang telah di persiapkan secara khusus untuknya. Mereka menikmati santap malam dengan diiringi alunan suara biola yang dimainkan oleh seorang seniman musik.


Ketika tengah menikmati hidangan penutup, Varell mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya. sebuah kotak pipih berbentuk persegi empat berwarna merah dan langsung ia letakkan diatas meja tepat dihadapan sang istri. Rani pun tergelak tak percaya menatap benda itu.


" Apa ini mas?"


"Untuk istriku tercinta. bukalah sayang!"


Kemudian Rani meraih dan membukanya. Manik matanya berbinar menatap sebuah kalung yang berkilau indah, terdapat sebuahh inisial huruf RV dan dilapisi oleh berlian. Rani begitu terpukau dan dengan rasa bahagia iapun menerima hadiah dari suami tercinta.


"Sini sayang, biar suamimu ini yang pakaikan!" Varell beranjak menghampiri Rani dan meraih kalung itu lalu memakaikannya. Senyum selalu merekah diwajah ayu nya ketika menatap sang suami penuh cinta.


"Perfect, kamu terlihat semakin cantik sayang." Mengecup sekilas leher sang istri. Bulu kuduk Rani meremang mendapatkan sentuhan lembut itu. ada geliyer aneh yang dirasakannya.

__ADS_1


"Mas....malu ih, nanti dilihat orang?" Seburat merah telah muncul dikedua belah pipi Rani, menambah kadar kecantikkannya. apalagi gerakan sang istri sekilas menggigit bibir bawahnya dan itu membuat Varell seketika menelan salivanya.


"Jangan menggodaku sayang. nanti bisa-bisa kita akan terlambat pulang kerumah loh?" meraih tangan Rani dan meremasnya.


"Maksud mas apa, kenapa kita sampai pulang terlambat? memang ada apa? Memang mas Varell mau mengajak Rani kemana lagi?" Rani masih mencerna maksud dari ucapan suaminya.


"Ya kita ngak akan kemana-mana sih, bagaimana kalau kita istirahat sebentar diatas?" Mengedipkan matanya dengan tersenyum penuh harap.


Rani akhirnya mengerti apa yang dimaksud dan yang diinginkan oleh Varell.


" Mas Varell sih modus? Rani ngak mau ah, nanti pasti bakalan kebablasan dan ngak akan mungkin cuma sebentar?"


Apa yang dikatakan Rani memang benar apa adanya. seorang Varell tak akan pernah puas meski beberapa kalipun bergelut dengan istrinya.


"Enggak bakal sayang, janji deh!" ✌


"Rani tetep ngak percaya? sudah yuk, kita pulang saja mas!"


"Loh, kok pulang sih sayang? terus urusan kita gimana?"


Rani mengernyitkan keningnya. " urusan kita? itu sih urusan mas Varell aja deh!"


"Ya urusan kita berdua dong sayang, kan yang bergerak kita berdua?"


"Hah, tetep ngak mau. oke, kalau kita pulang sekarang. nanti Rani kasih setelah sampai dirumah. gimana mas?"


Rani semakin menggoda dengan memainkan jari kakinya di pangkal paha Varell. membuat si empunya kelabakan.


"Ish, kamu telah memancing pedangku untuk segera bertarung sayang? baiklah, ayo kita pulang sekarang!"


Varell menggenggam tangan Rani dan berjalan cepat keluar dari restauran.


Setibanya dirumah, Rani langsung menuju kekamar baby Rava yang bersebelahan dengan kamar mereka. Terdapat pintu penghubung agar Rani mudah mengawasi buah hatinya.


"Sayangnya mama ternyata sudah tidur ya?" Rani membenahkan selimut untuk menutupi baby Rava. Setelah itu ia masuk kekamarnya.


Varell terlihat sudah bersiap diatas ranjang, ia terus memandang gerak gerik sang istri dari masuk kekamar mandi sampai duduk dimeja rias. Dengan sigap Varell langsung menghampiri Rani lalu memeluknya dari belakang sambil menciumi wangi tubuh sang istri sehabis mandi.


cup cup


"Sayang, bisa kan kita mulai sekarang?"


grepp


Varell langsung menggendong Ranì ala bridal style dan merebahkan tubuh mungil istrinya dengan lembut diatas ranjang. Ketika akan memasuki tahap inti, tiba-tiba terdengar tangisan baby Rava. Dan Rani pun langsung menghentikkan kegiatan mereka. lalu ia bergegas menuju kamar baby Rava.


"Loh kok, malah dibawa kesini sih sayang?"


"Iya mas, baby Rava sepertinya minta mimik.Rani akan mengeloninya sampai baby Rava tertidur ya mas." Rani meletakkan baby Rava, ia pun mulai menyusuinya.


"Padahal ayahnya yang pingin dikelon, eh ini malah diganggu anaknya?"


Varell terus menggerutu, namun ia pun ikut tiduran dengan mengambil posisi miring tepat disamping Rani.


"Mas Varell mau apa ih?" Rani terbelalak kaget karena tiba-tiba dressnya sudah terangkat keatas dan tangan sang suami telah membelai diwilayah sekitar pinggang kebawah.


"Sabar mas, emm....sebentar lagi, uh....baby Rava belum tidur!" Rani mencoba menahan rasa yang menderanya akibat sentuhan Varell.

__ADS_1


Namun ternyata Varell sama sekali tak menggubris ucapan Rani. Ia malah semakin aktif melucuti atribut bagian bawah sang istri.


"Sayang, lewat samping saja ya. seperti ini?"


"Ahh...mas Varell!"


 -----------------


Sudah seminggu ini Rangga selalu pulang kekediaman orang tuanya. Hal itu membuat bu Herlina menjadi heran. Ia bertanya-tanya ada apa dengan putranya itu, kenapa tiba-tiba pulang kerumah?.


"Ngga, apa ada sesuatu yang terjadi hingga putra mama ingat pulang kerumah?"


"Tidak ada apa-apa kok ma, memangnya Rangga ngak boleh pulang kerumah orang tua sendiri gitu?"


"Mama nih aneh, giliran aku jarang pulang selalu di kejar-kejar harus pulang. Dan sekarang giliran aku pulang malah di curigai?"


"Bukan begitu sayang, cuma aneh saja. apa ada sesuatu yang menarikmu untuk pulang kerumah ini, hmm?"


"Apa sih mama, sudah ah jangan tanya-tanya terus!"


Ketika mereka masih asik mengobrol , daribarah dapur Maima melangkah sambil membawa nampan berisi teh dan cemilan.


"Ini bu, ka....kak Rangga minumnya. silahkan!" Maima tampak canggung karena Rangga tak henti menatapnya.


"Maaf bu, apa boleh nanti saya ingin bicara sama ibu?" Bu Herlina langsung menatap Maima yang tampak takut-takut.


"Mau bicara apa Mai, sekarang saja juga boleh kok. ayo duduk sini!"


"Ti...tidak bu, nanti saja. kalau begitu saya permisi kebelakang bu."


"Baiklah, ya sudah. sekarang kamu istirahatlah. akhir-akhir ini ibu lihat kamu selalu tampak kelelahan."


Maima pun hanya me gangguk lalu berjalan kembali menuju kekamarnya yang ada dibelakang rumah.


Didalam kamarnya Maima tengah menenangkan debaran didadanya. ia benar-benar sangat gugup ketika berhadapan dengan bu Herlina. Untuk berkatapun ia agak sungkan. tidak, akan tetapi takut jika bu Herlina ternyata tak menerimanya lagi dan mau tidak mau dan siap ataupun tak siap. ia harus segera pergi dari rumah megah itu.


tok tok tok


klekk....krett


Rangga langsung menerobos masuk ketika pintu telah dibuka oleh Maima. Rangga duduk disebuah kursi dihadapan sebuah meja rias kecil. sedangkan Maima tertunduk lesu duduk ditepi ranjangnya.


"Kita harus bicara sekarang juga Mai, kita akan akhiri semua permasalahan yang tengah kita hadapi ini. kamu mau mau kan Mai, jangan menghindari aku lagi!"


"Maksud kak Rangga apa? Maima ngak ngerti, maaf kak bukankah urusan kita sudah selesai? kak Rangga tak usah berbuat apapun untukku!"


"Baiklah, aku akan mengatakan segalannya sekarang juga dan dalam detik ini juga." Rangga terdiam sejenak, lalu beranjak dari duduknya mendekat, lalu beraimpuh dihadapan Maima.


"Aku tahu kamu hamil kan Mai? Dan sudah dapat dipastikan bahwa itu adalah anakku."


"Kakak tahu dari mana?"


Brakk


"Apa maksud dari semua ini Rangga? ayo cepat jelaskan sekarang juga pada mama!"


Tbc

__ADS_1


__ADS_2