Kala Cinta Menyapa

Kala Cinta Menyapa
28.Pertemuan tanpa sengaja


__ADS_3

"Masalahnya ini cewek baru aja patah hati bro. Jadi ya harus sabar ngedeketinnya." Zack melirik sinis Rangga dan itu tak luput dari perhatian Varell dan Doni. Membuat keduanya saling berpandangan dan bertanya-tanya menaik turunkan alisnya memberi kode.


"Jadi tuh cewek baru putus sama cowoknya? memang putusnya karena apa?" Si Doni semakin penasaran.


"Kenapa jadi kalian yang kepo sih, pokoknya ni cewek manis banget. Kasihan cewek semanis itu di sia-siain sama cowok plin plan?" sambil menatap Rangga, hal itu membuat Rangga jadi curiga.


"Loe kenapa sih Zack kayaknya agak senewen sama gue?"


"Ngak, ngak pa-pa. gue cuma mikir aja. kok ada ya cowok yang memperlakukan seorang gadis lugu seenak jidatnya aja?"


"Iya, tapi lihatnya jangan ke gue dong!"


"oh, iya sorry Ngga." Ya udah ngak usah dibahas lagi." Zack kembali fokus pada ponselnya lagi. ia hendak menelpon seseorang.


" Hallo manis, besok pulang kerja aku jemput ya?"


"..............


"Enggak repot kok, boleh ya?"


"..............


"Oke manis, jam 4 kan? sip...!"


".............


" Kamu memang manis kok, itu fakta. bukan gombal." bye....see you tomorrow sweety!"


Varell dan Doni berdecak lalu terkekeh melihat kegombalan temannya itu.


Rangga hanya tersenyum didalam pikirannya ia jadi teringat seseorang.


Varell melirik jam tangannya kemudian menepuk lengan Doni dan menyampaikan peaan bahwa selama ia berada di luar kota Doni teman yang sekaligus merangkap sebagai asisten nya . Agar menghandle pekerjaan dikantor. Dan juga ia meminta tolong pada Doni untuk mengawasi adiknya. Setelah itu pamit untuk pulang.


"Guys, gue cabut duluan ya. bidadari gue dah nunggu dirumah." ketiganya pun mengiyakan


Varell tiba dirumah pukul sepuluh malam. Perlahan ia memutar gagang pintu dan membukanya. Bahkan menhendap-endap seperti maling. Rani telah tertidur namun tubuhnya tidak tertutupi selimut. Daster nya yang teraingkap menampakkan paha putih mulusnya. membuat Varell menelan salivanya, ia mencoba menahan godaan itu dengan sekuat hati. Kemudian ia menarik bedcover untuk menutupi tubuh Rani sampai sebatas dada. Varell mengelus pipi sehalus sutra itu. Merasa teruaik akan sentuhan tangan itu, Rani mulai membuka kelopak matanya. senyum manis tersungging ayunya.


"Mas, sudah pulang. Jam berapa ini? maaf ya mas Rani ketiduran." mengucek-mengucek matanya, namun segera sitahan oleh tangan Varell.


"Jangan dikucek sayang, nanti matamu iritasi!" menggenggam jemari nanlentik itu lalu menciumnya.


"Sudah, ayo tidur lagi. aku mau bersih-bersih dulu dan ganti baju." membantu Istrinya merebahkan tubuhnya lagi.

__ADS_1


Setelah melakukan ritual sebelum tidur, Varell naik keatas kasur menyusul sang istri tidur. Varell memeluk Rani dalam posisi miring. memeluknya dari belakang sambil mengusap-usap perut buncit istrinya.


----‐-----------


Pagi yang cerah, Keluarga Darmanto seperti biasa mengawali aktivitasnya dengan sarapan pagi bersama. tampak mama Sandra sibuk menawarkan segala makanan yang tentunya sangat bergizi dan baik untuk sang menantu dan calon cucunya.


"Ayo sayang, ini dimakan ya dan ini ikan salmonnya juga bagus loh untuk si dedek." Mama Sandra terus menyendokkan berbagai lauk pauk hingga piring itu penuh. membuat Rani bingung bagaimana cara memakannya.


"Mama, Rani mana kuat makan segitu banyaknya.memangnya perut istriku karung apa?" mengambil kembali lauk pauk yang memenuhi piring dan mengembalikannya ke tempat semula. membuat sang mama cemberut.


"Iya, mama tahu. maaf ya sayang." mama Sandra jadi merasa bersalah.


"Sudah....sudah, jangan ribut terus. sekarang waktunya makan. ayo ma, jangan ganggu Rani terus!" mama Sandra pun tak bisa berkata apa-apa lagi. dan melanjutkan makannya.


‐------------


Rani mengantar suaminya sampai teras depan. Sebelum masuk kedalam mobil, Rani meminta izin pada Varell untuk bertemu dengan Maima siang nanti.


"Mas, nanti siang Rani mau ketemuan sama Maima boleh ngak mas? ngak jauh-jauh kok mas, cuma di sekitaran sini saja."


"Iya, boleh. tapi beneran ya ngak jauh. hati-hati! nanti pak sosro yang akan mengantarmu." Mengecup sang istri dan mengusap perut buncitnya.


Siang itu Rani dan Maima bertemu disebuah cafe yang tak jauh dari rumah. Kini mereka sedang menikmati makan siang sambil berbincang santai.


"Ran, bagakmana kabar calon keponakanku? emm....biar aku tebak, pasti dia baby boy kan?" Maima menyentuh perut Rani. Dan dijawab anggukkan oleh Sahabatnya itu.


"Mai....sebenarnya ada apa kamu ngajak ketemuan, apa ada yang ingin kamu bicarakan padaku?"


"Iya Ran, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan. itu....kamu kenal kan sama kak Zack teman suamimu?"


"Tentu saja Rani kenal, memangnya ada apa sama kak Zack.apa dia...." Rani tak melankitkan pertanyaannya, dia kembali menatap Maima penuh tanya.


Maima menghela nafas panjang dan mulai menceritakan kegundahan hatinya. ia mengatakan awal kisah pertemuan pertamanya dengan Zack pada saat acara mitoni waktu itu.


Dan ketika Zack yang saat ini mulai intens mendekatinya. Bahkan saat ini mereka sudah sering saling bertukar kabar ya walaupun hanya lewat chattingan atau via video call.


"Jadi sekarang aku haris bagaimana ya Ran? sebenarnya aku belum mau dekat lagi dengan seorang laki-laki. rasanya hati ini belum siap Ran." tertunduk lesu.


Melihat raut wajah Maima yang terlihat galau ia sudah dapat menebak kalau kegalauannya itu pasti diakibatkan oleh Rangga.


"Mai, apa itu semua karena kak Rangga? hingga membuatmu jadi begini."


"Sebenarnya kak Ra...." Perkataannya terputus karena mendengar sapaan seseorang yang sudah berada tepat dihadapan mereka.

__ADS_1


"Hai, Rani....Ma...mai? apa kabar?" Rangga menyapa begitu sumringah ketika melihat Rani, namun pandangannya kembali terpaku pada sosok Maima yang juga tak kalah terkejutnya akan kemunculan laki-laki yang pernahh dan masih mengisi relung hatinya saat ini.


"Ha....hai juga kak." mengalihkan tatapannya pada gelas juice yang isi nya hampir habis.


"Kalian sudah makan, atau mau tambah minumnya. sebentar....!" Rangga berjalan menghampiri seorang pelayan dan memerintahkan sesuatu. setelah itu ia kembali menghampiri ke meja Ranindan Maima.


"Aku ngak nyangka kalian ada disini. oh ya, apa boleh aku bergabung?" Rani hanya tersenyum lalu beralih menatap pada wajah Maima yang terlihat gusar.


"eumm....Kalau begitu sampai disini dulu ya Ran, aku mau pulang. ada yang harus aku kerjakan." Tiba-tiba Maima langsung berdiri dan berpamitan.


"Loh kok aku datang, kalian malah mau pulang. sorry ya Ran kalau aku menganggu acara kalian."


Rangga hanya menatap Rani dan mengajaknya berbicara sedangkan padanya tidak. itu membuat hatinya semakin sakit.


Kring....kring...kring


"Iya ma, ini sudah mau pulang kok."


"--------------"


"Iya iya ma, ini sudah mau jalan. ngak jauh ma sebentar pasti Rani dah sampai rumah."


"--------------"


"Oke ma, dah ya ma Rani tutup dulu....bye!"


"mm...Mai, mama Sandra menyuruh Rani segera pulang. kamu gimana pulangnya?" merasa tidak enak karena harus segera pulang atas permintaan sang mama mertua.


"Iya Ran ngak pa-pa kamu segeralah pulang!" memegang tangan Rani.


"Kalau begitu biar Maima aku saja yang mengantar pulang? gimana Mai, kamu mau kan aku antar?" menatap intens Maima


"Begitu juga boleh Mai, oke kalau begitu Rani titip Maima ya kak. bye Maima....!" melangkah keluar dari cafe.


"Ayo Mai....!" berjalan beriringan menuju ke area parkir.


Didalam mobil mereka masih saling terdiam. tak ada satupun yang memulai percakapan, hingga suara dering ponsel yang berasal dari dalam tas selempang Maima mengalihkan perhatian mereka.


Maima mengambil ponselnya dan segera ingin menjawabnya. ia melihat id Zack tertera disana. tiba-tiba hatinya jadi dag dig dug dan gugup. bukan karena si penelpon akan tetapi yang membuatnya resah adalah laki-laki yang kini ada disampingnya.


"Siapa Mai, kenapa tidak segera diangkat?" melirik sekilas kearah layar ponsel yang sedang dipegang Maima ingin tahu siapa si penelpon.


"Ha....hallo Kak Za....eh iya kak, ada apa?" Rangga mengernyitkan keningnya mendengar suara si penelpon.

__ADS_1


Tbc


 


__ADS_2