
Rani dan mama Sandra akhirnya menuntaskan kegiatan berbelanjanya. Mereka menuju ke restauran kembali untuk menjemput Maima. Baby Rava sedang asik berceloteh karena baru saja bangun tidur. sepanjang perjalanan mama Sandra tak henti-hentinya mengajak berbicara sang cucu.
"pa...pa...pa....ba...bab..."
"Iya, cucu uti memang pintar, ganteng, sayangnya uti....ba....ba!" Rani tersenyum melihat interaksi nenek dan cucunya itu. Hingga tak terasa mobil mereka hampir sampai didepan restauran.
Di kejauhan Rani melihat Maima sedang berbicara dengan seorang pria. ia tak bisa melihat wajahnya karena laki-laki itu berdiri membelakanginya.
"Eh, itu yang sama Maima siapa ya ma? kok kayak kayaknya Rani kenal?"
"Siapa Ran?" Mama Sandra pun penasaran dengan sosok laki-laki itu.
"Kak Rangga? iya itu benar kak Rangga ma, ada apa dengan mereka ya? sebentar ya ma!" Ranipun turun dari mobil dan hendak menghampiri Maima.
Setelah hampir mendekati mereka, ternyata Maima menyadarinya. Gadis itu kemudian melangkah meninggalkan Rangga dan berlari menuju kemobil yang baru saja berhenti tak jauh dari mereka berdiri. Rangga refleks berbalik akan mengejar Maima. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Rani yang turun dari mobil tersebut.
"Rani? bagaimana ini? aku harus beraikap biasa dan jangan sampai ia curiga." batin Rangga
Kini Rani dan Maima sudah saling mendekat dengan Rangga yang juga mengekori dibelakang Maima.
"Maima....kak Rangga, kalian....apa...?" belum juga Rani melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Rangga langsung menyela karena melihat kegugupan pada diri Maima.
"Ra...rani, sebenarnya ka..." Maima jadi bingung harus mengatakan apa? hingga Rangga berauara tepat dibelakangnya.
"Oh, iya Ran. kebetulan aku sedang berkunjung kesini. Restauran ini milik tanteku, jadi ya sesekali aku mampir kesini dan otomatis bertemu dengan Maima. Iya kan Mai?"
Tersenyum pada Maima. Dengan santainya Rangga memberi alasan yang memang cukup masuk di akal. Maima pun hanya mengangguk, ia sama sekali tak menatap Rangga.
"Ran, ayo kita berangkat sekarang. Baby Rava ada didalam kan?"
Maima langsung menerobos masuk kedalam mobil dan kegundahannya seketika hilang merengkuh dan memeluk baby Rava yang terasa nyaman dan menenangkan.
__ADS_1
" hai, keponakan onty.sini-sini sama onty ya!" ia tak lagi menghiraukan keberadaan Rangga yang maaih berbicara dengan Rani.
"Kak Rangga, maaf nih. Rani boleh bertanya sesuatu tidak sama kakak?"
"Tentu saja boleh Ran, iya ada apa?" Rangga penasaran akan apa yang akan ditanyakan oleh Rani. Entah mengapa dadanya berdebar-debar.
" Waktu malam di pestanya kak Zack, apa kak Rangga yang mengantar Maima pulang? soalnya waktu itu kak Zack begitu khawatir pada Maima yang tiba-tiba saja menghilang?"
Rani kembali menatap manik mata Rangga, menunggu jawaban dari laki-laki itu.
"Oh itu, i....iya Ran. Memang aku yang telah mengantar Maima pulang ke kos-kosannya. karena katanya dia agak pusing, sepertinya sedang tak enak badan. Takut terjadi apa-apa padanya, akhirnya aku berinisiatif mengantarnya."
Rangga terlihat meyakinkan akan jawaban yang diberikannya. Akan tetapi entah mengapa Rani sedikit ragu, sorot mata laki-laki itu seakan meragukan.
"emm, begitu ya kak. Maaf ya kak kami harus pergi sekarang." setelah mendapat anggukkan, Rani pun langsung masuk dan sang supir melajukan kendaraannya kembali untuk menuju kekediaman keluarga Darmanto.
Di dalam mobil, untuk mengalihkan kecanggungannya dan juga berbagai pertanyaan yang paati akan dilontarkan oleh sahabatnya itu.
Apalagi ada mama Sandra bersama mereka, ia merasa malu jika harus mengatakan yang sebenarnya pada Rani. Maima mengalihkannya dengan menyibukkan diri mengajak bermain baby Rava.
Akhirnya ia meminta untuk turun dan melanjutkan perjalanannya pulang ke kos-kosannya.
Rani pun tak bisa mencegah keinginan sang sahabat, namun ia tetap penasaran akan sikap aneh Maima setelah bertemu dengan Rangga tadi.
"Da...da baby Rava, maaf Ran lain kali saja ya aku pasti akan main kerumahmu. maaf ya tante, merepotkan."
Sudah sebulan lebih sejak kejadian itu, Maima melakukan aktivitas seperti hari-hari biasanya.
Walaupun Rangga sering datang dan selalu mencarinya, Maima sebisa mungkin bersikap biasa saja. Rangga terus saja mengungkit kejadian malam itu dan selalu mengucapkan permintaan maaf padanya.
__ADS_1
Yang membuat Maima kecewa adalah sikap Rangga yang hanya mengungkapkan rasa bersalahnya dan tanpa berniat untuk bertanggung jawab akan apa yang telah terjadi pada dirinya.
Karena alasan itulah, akhirnya Maima memutuskan akan melupakan segala yang telah terjadi dan melanjutkan kehidupannya sebagai gadis biasa.
"Mai, kamu sudah benar-benar memaafkan aku kan?" Rangga tak pernah bosan mengatakan hal itu pada Maima. sedangkan Maima sudah lelah dan menyerah tak ingin memikirkannya lagi.
"Cukup! sudah kak. Baiklah, aku sudah memafkan kak Rangga. jadi sekarang tolong jangan menggangguku lagi. biarkan aku melanjutkan hidupku dengan tenang ya kak. aku mohon kak lupakanlah aku dan kejadian dimalam itu. anggap semua tak pernah terjadi diantara kita. maaf, permisi aku mau kembali ke pantry."
Matanya sudah berkaca-kaca. Maima bergegas menuju ke pantry sambil mengusap air matanya yang telah mengalir deras membasahi pipinya.
"Kamu harus kuat Mai, kamu pasti bisa melewatinya. lupakanlah semuanya. Kak Zack, maafkan aku. aku tak bisa bersamamu lagi kak." Batin Maima menangis
Keesokkan paginya, entah mengapa Rani begitu malas untuk bangun. Tubuhnya terasa lemas sekali. akan tetapi ia harus segera bergegas berangkat kerja karena hari ini ia mendapatkan shift pagi. Perlahan ia turun dari atas tempat tidurnya. Dengan sekuat tenaga ia menuju kekamar mandi dan bersiap berangkat ke tempat kerja.
Seperti biasa, Maima berangkat kerja menaiki kendaraan umum. didalam angkot tiba-tiba perutnya terasa bergejolak dan sangat mual. ia mencoba menahannya karena sedikit lagi ia akan sampai di Restauran. setelah turun, Maima langsung menepi di pinggir jalan. Berjongkok lalu mengeluarkan segala isi dari dalam perutnya, namun yang keluar hanya berupa cairan kental berwarna kuning kehijauan yang terasa sangat pahit dilidahnya.
Setelah puas memuntahkan semuanya, Maima perlahan berjalan masuk kedalam restauran dengan langkah terhuyung merasakan kepalanya yang tiba-tiba pusing.
"Pagi Maima. loh Mai, kamu sakit? wajahmu pucat sekali?" salah seorang teman kerjanya menyapa ketika ia hendak menyimpan tas di loker miliknya.
"Pagi juga mbak Icha. ah masa' sih mbak? aku tidak apa-apa kok mbak." Maima tersenyum dengan wajahnya yang semakin memucat.
"Oh, ya sudah kalau begitu. ayo kita harus segera bergegas Mai, cheef Darma sudah standby di pantry."
Tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. Maima telah bersiap untuk pulang. dihalte bus, Maima duduk melamun seorang diri.
Mbak Icha sudah duluan menaiki angkot sesuai tujuan kerumahnya. Sedangkan Maima masih setia menunggu angkot jemputannya. Ia mencoba mengingat akan sesuatu.
Tapi, setelah mengalami hal-hal aneh pada tubuhnya yang ia rasakan sejak tadi pagi. Setelah berpikir keras, dadanya tiba-tiba berdebar tak menentu karena ia menyadari bahwa sudah hampir dua bulan ia tidak kedatangan tamu bulanannya. tubuhnya bergetar keringat dingin mulai muncul disekujur tubuhnya.Ia sudah bisa menebak akan apa yang telah terjadi pada dirinya.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? kenapa semua ini harus terjadi pada diriku?" Ia pun mulai terisak, tanpa sadar ada sosok yang telah berada didekatnya.
__ADS_1
"Apa yang telah terjadi pada dirimu Maima?" Refleks Maima menoleh kearah suara orang tersebut dan seketika matanya terbelalak kaget melihat orang tersebut.
Tbc