
Varell berdiri lalu menghampiri Rani. Ia begitu emosi ketika melihat kebersamaan istri dan sahabatnya.Varell mencekal pergelangan tangan Rani begitu erat dengan tatapan menghunus tajam pada keduanya.
"Apa yang sedang kau lakukan hah? Oh, jadi begini ya kelakuanmu. ternyata kalian masih saling bertemu.sudah sejauh mana hubungan kalian hah, dasar tidak tahu diri...jawab aku Rani!" Rani semakin takut dibentak sekeras itu. ia sama sekali tak berani menatap manik mata Varell.
"Jaga ucapanmu Rell, kau selalu salah faham pada. gue sama Rani ngak pernah ada hubungan apapun seperti yang selalu kau tuduhkan itu."
" Dan perlu kau tahu.Dia bekerja disini, karena suaminya yang terhormat dan kaya raya ini tidak pernah perduli padanya." Rangga tidak tahan melihat perlakuan kasar Varell pada Rani.
"Jangan kurang ajar loe ngga, dia adalah istri gue. loe ngak berhak turut campur masalah rumah tangga kami. Minggir loe!" mendorong Rangga.
"nggak, gue ngak bakal ngebiarin loe berbuat seenak jidat loe. suami macam apa loe hah." Akhirnya Rangga tak bisa menahan emosinya lagi.
"Brengsek....dasar penghianat!"
"BUGH... Rangga hampir jatuh teraungkur terkena pukulan telak dari Varell yang tepat mengenai pelipisnya. iapun bangkit untuk membalasnya.
"BUGH...Greb, membalas memukul wajah Varell kemudian menarik kerah bajunya.
"Gue bukan penghinat, dan asalkan loe tahu. Rani adalah istri yang setia, gadis baik-baik dan suci. gue ngak pernah ngelakuin apa yang loe tuduhkan itu."
Luis yang melihat keadaan yang semakin memanas itu segera menghampiri dan melerai mereka.
"Berhenti...! sudahlah guys, semua bisa dibicarakan secara baik-baik bukan!"
"Hah, terserah! ayo kita selesaikan ini dirumah!" menarik tangan Rani dan membawanya pergi. Rangga dan Luis hanya bisa memandang kepergian mereka. tiba-tiba Maima keluar dan berlari mengejar mereka. gadis itu sedari tadi memang melihat kekiaruhan yang terjadi, hanya saja Maima tak berani mendekat karena ia merasa tak berhak ikut campur masalah rumah tangga sahabatnya itu.
"Ran....Rani, tunggu ini tasmu!" mengejar sampai kedepan namun mobil yang ditumpangi suami istri tersebut telah menjauh pergi tak terlihat lagi. dengan langkah gontai gadis itupun kembali kedalam sambil mendekap tas milik Rani. ia melewati begitu saja Rangga yang masih terdiam dengan pria yang bernama Luis yang tadi datang bersama Varell.
"Maaf, tuan saya permisi. selesaikanlah masalah kalian secara baik-baik. kasihan Rani!" menepuk pundak Rangga.
‐-----------
"BRAKK.... masuk!" Varell menarik paksa Rani masuk kedalam kamar.
"Mas, Rani...." tak berani melanjukan ucapannya karena begitu ngeri melihat tatapan membunuh sang suami.
__ADS_1
"Duduk!" Rani menuruti perintah suaminya dan duduk di tepi ranjang dengan hati yang semakin berdegup kencang. ia semakin menunduk ketakutan, tangannya mengepal erat bedcover, ketika merasakan langkah Varell yang semakin mendekat.
"Jadi sekarang apa penjelasanmu? katakan!" Varell telah berdiri tegap menjulang tinggi dihadapan Rani.
"Maaf mas, Rani bekerja tidak ada maksud apapun. waktu itu mas Varell pernah mengatakan kalau tidak akan mau tau dengan Rani ataupun anak yang ada didalam kandungan ini kan mas, jadi Rani cuma mau berusaha mandiri dan tak akan merepotkan mas Varell."
Rani menengadahkan kepalanya menatap wajah dingin suaminya. mata indahnya audah berkaca-kaca.
"Apa benar semua yang dikatakan Rangga tadi?" Rani hanya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku percaya padamu. Tapi aku akan tetap bicara dengan Rangga. sekarang mandilah dan istirahat. tidak usah masak. aku akan pesan makanannya."
"I...iya mas."
Rani beranjak dari duduknya dengan tubuh yang lemas, masih syok atas apa yang terjadi. mengambil handuk dan pakaian ganti lalu masuk kekamar mandi.
Varell menatap Rani hingga tubuh mungil itu hilang dibalik pintu. kemudian iapun keluar kamar.
Didalam kamar mandi.Rani tak dapat menahan air matanya lagi. Kesedihan yang begitu mendalam dirasakannya. ia tidak menyangka suaminya seemosi itu.
Setelah membersihkan diri, Rani menghampiri sang suami yang telah duduk menunggunya dimeja makan. terlihat berbagai makanan yang sudah tertata diatas meja.
"Duduklah Ran, ayo kita makan!" menarik kursi disebelahnya dan menyuruhnya untuk duduk. Rani hanya terdiam tak berani menyentuh makanannya.
"Kenapa diam saja, ayo dimakan. anak kita juga butuh makan, dia juga paati sudah lapar kan!"
"Iya mas, Rani akan makan." mulai menyantap makanannya. Varell pun tersenyum melihat Rani yang penurut.
‐--‐---------
Setelah membereskan meja makan dan mencuci peralatan bekas makan mereka tadi. Rani beranjak menuju kekamar. Perlahan ia masuk dan keadaan lampu kamar sudah temaram karena hanya lampu tidur di meja nakas yang menyala. Ranipun ragu untuk mendekat. ia melihat Varell telah berada diatas tempat tidur.
"Kenapa diam saja, ayo naik!"
__ADS_1
"Baik mas." kemudian Rani perlahan naik dan merebahkan tubuhnya dipinggir ranjang, memunggunggi sang suami.
"Srett...Grep! Selamat tidur sayang...cup!" Varell merengkuh tubuh mungil Rani dan memeluknya dari belakang. mengecup kepala Rani, tangannya Mengelus perut istrinya sampai mereka terlelap dengan begitu nyaman.
---‐----------
Seperti sudah menjadi rutinitasnya. Rangga telah standby dipinggir jalan depan sebuah gang kecil menunggu Maima.
Maima yang melihat keberadaan mobil itupun hanya menghela nafasnya saja. ia bingung kenapa Rangga selalu saja mencarinya.
"Mari nona, silahkan!" Rangga membukakan pintu mobil dan mempersilahkan sang gadis untuk masuk.
Sepanjang jalan gadis itu hanya terdiam, wajahnya cemberut dan pandangannya melihat kesamping jendela. Rangga tersenyum melihat nya.
"Kenapa cemberut, apa tidak senang dijemput oleh pangeran tampan ini eumm...?"
"Siapa yang cemberut? aku ngak kenapa-napa kok. kalau kakak mau tanya-tanya soal Rani lagi, maaf ya kak aku tetap pada jawabanku yang kemarin. ngerti kan?" menoleh dan menjawabnya lalu kembali mengalihkan pandangannya pada kaca jendela.
"Oh, jadi ada yang sedang cemburu nih?" menoel lengan gadis itu dan menebarkan senyuman mautnya.
"Kak Rangga apa-apaan sih, siapa juga yang cemburu. memangnya aku siapanya kakak pake acara cemburu-cemburuan segala. kakak jangan ge'er ya, huh...menyebalkan!" membuang muka sambil terus menggerutu. membuat Rangga semakin gemas untuk menggodanya.
" Tentu saja akan ada apa-apanya, sebentar lagi kan kamu akan jadi apa-apanya aku?" jawabnya sambil terkekeh geli melihat tingkah lucu gadis disampingnya.
"Maksudnyaaa.... Maima semakin kesal dengan jawaban ambigu Rangga.
"Iya, sekarang kamu mau kan jadi pacar aku yang tampan ini?" mengedipkan matanya genit.
"Hah, Jadi pacar kak Rangga gitu? beneran nih kakak lagi nembak aku?" kaget tapi dalam hati merasa senangnya bulan main.
"Iya, gimana. diterima jadi pacar ngak nih? Rugi loh kalo sampai menolak pangeran tampan ini."
"Ish...kepe'dean banget sih. Iya, mau banget kak. Jadi sekarang kita resmi berpacaran kan?" tersenyum bagai bunga yang sedang merekah indah.
"Iya, sayang." tersenyum penuh arti. semoga ini jadi jalan keluar yang terbaik , Varell akan percaya dan Rani akan mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya. maafkan aku ya Ran, atas semua yang terjadi.
__ADS_1
Tbc