Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Selimut Kasih


__ADS_3

Setelah itu Kak Remon dan yang lainnya beserta kepala sekolah kembali dengan terburu-buru karena merasakan mana yang besar di atas mereka. Sesampainya di sana, mereka terkejut dengan pemandangan semua duduk dengan santainya sedangkan wanita iblis itu tergeletak di depan mereka.


Kemudian mereka menyelesaikan masalah tersebut dan juga sekalian memenjarakan iblis itu. Setelah hari mulai malam, masalah tersebut akhirnya terselesaikan dan mereka bebas melakukan apa pun karena telah menyelesaikan masalah sebenarnya. Surat itu di kirim oleh kepala sekolah yang asli dengan sembunyi-sembunyi.


Namun siapa sangka, Ravel dan yang lainnya malah berhasil menuntaskan semua masalahnya dengan cepat. Karena itu mereka mendapatkan hadiah untuk bebas berkeliling kota dengan kapal sihir milik kepala sekolah sebagai tanda terima kasih.


Note: Kapal sihir adalah semacam kapal laut yang mengudara dengan bantuan suatu sihir dan artefak tertentu.


Karena sudah merasa lelah, mereka kembali ke asrama masing-masing dan mengistirahatkan diri sepuasnya. Karena di anggap sebagai murid, Mort, Ares, dan Ella mendapat kamar sendiri. Karena itu Ravel akan sendirian di kamarnya untuk malam itu.


"Senyapnya, karena terbiasa dengan keberadaan Ella dan Mort, jadi aneh kalau tiba-tiba tidak ada mereka." ucap Ravel yang terbaring di atas tempat tidur.


Kemudian terdengar suara kecil ketukan pintu. Ravel membuka pintunya dan melihat Ella sendirian di depan kamarnya.

__ADS_1


"Ravel, apa aku boleh masuk?" tanya Ella dengan wajah merah karena malu kalau ia sebenarnya kesepian di kamarnya sendiri.


"Ada apa? Masuklah." tanya Ravel sambil menyuruhnya masuk.


"Tidak, hanya saja apa aku boleh tidur di sini bersamamu?" tanya Ella tanpa menatap Ravel karena terlalu malu.


"Kenapa? Aku tidak masalah, tapi memangnya ada apa dengan kamarmu?" jawab Ravel dan menanyakan apa alasan Ella ingin tidur di kamarnya.


"Ya sudah, kau tidurlah. Aku masih ingin menulis buku sihir untuk Mort." ucap Ravel menyuruh Ella tidur lebih dulu.


Kemudian ia mulai menulis buku sihir yang ia ciptakan sendiri itu untuk Mort.


"Ini akan memakan waktu lama, mungkin aku masih belum menyelesaikannya sampai pagi. Tak perlu memaksakan diri untuk bergadang menemaniku." ucap Mort mulai menulis bukunya.

__ADS_1


"Aku tidak memaksakan diri, aku hanya melakukannya karena keinginanku." jawab Ella menunggunya di sofa.


"Lakukan sesukamu." ucap Ravel membiarkannya melakukan apa yang di inginkannya.


Setelah 3 jam menulis dan berkonsentrasi, ia menoleh ke belakang untuk melihat Ella. Ketika ia menoleh, Ella tertidur pulas di sofa dalam posisi duduk dan bersandar.


"Sudah ku bilang tak perlu memaksakan diri." ucap Ravel ketika melihat Ella yang tertidur dalam posisi duduk.


Kemudian Ravel menggendongnya dan memindahkannya ke tempat tidur agar lebih nyenyak. Ia memberikan selimut ke Ella dan kembali menulis buku sihir kembali. Karena terlalu banyak berpikir, tanpa sadar Ravel tertidur di kursi dengan bersandar ke meja setelah melanjutkan menulis selama 2 jam.


Pagi pun tiba, Ella bangun di waktu matahari belum terbit. Ia sadar kalau tempat ia tidur berpindah dari sofa ke tempat tidur. Ketika ia melihat sekeliling, di sebelah kanannya Ravel tertidur di kursi dengan badan membungkuk ke meja sebagai sandaran. Ella menyelimutinya dengan selimut yang sebelumnya di pakaikan Ravel ke Ella.


"Sering memarahiku karena terlalu memaksakan diri. Apa kamu tidak pernah melihat kepribadianmu sendiri?" ucap Ella menyelimuti Ravel lalu pergi kembali ke kamarnya agar tidak membuat salah paham yang lain.

__ADS_1


__ADS_2