
“Kalau begitu, aku akan mengatakan sebuah rahasia pada kalian. Jika kalian menyebarkan rahasia ini, mungkin aku bisa mati.” ucap Ravel yang tiba-tiba serius.
“Kenapa kau tiba-tiba serius? Aku tidak akan bilang kepada siapa pun kalau nyawaku pun jadi taruhannya.” ucap Nia dengan serius.
“Aku juga tidak akan memberitahu siapa pun!” ucap Dion yang percaya pada Ravel.
“Aku tidak akan bilang juga.” ucap Adrea.
“Baiklah, kami tidak akan memberitahukan rahasia ini pada siapa pun walau nyawa kami taruhannya!” ucap Ariel yang menyatukan pendapat mereka semua.
“Kalau membahayakan nyawa kalian, tidak apa kalau kalian memberitahunya. Jangan memberikan nyawa kalian begitu mudahnya. Sebenarnya, aku selain membuat kontrak dengan peri, aku juga membuat kontrak dengan dewa.”
“Dewa?” ucap teman-teman Ravel yang sangat terkejut.
__ADS_1
Kemudian Mort melakukan perwujudan di hadapan semua teman Ravel. Seluruh temannya terkejut bukan kepalang, karena untuk pertama kali mereka melihat dewa. Bahkan mereka sempat tak percaya, namun setelah di rasakan auranya memang sangat mengerikan. Karena merasakan aura Mort mereka yakin kalau Mort adalah dewa sungguhan.
“Dia adalah Mort, dewa kematian.” Ucap Ravel memperkenalkan Mort ke teman-temannya.
“Aku bukan lagi seorang dewa, hanya setengah dewa. Di tambah kontrak denganmu aku hanya seperempat dewa malah.” ucap Mort dengan lesu.
“Baiklah, seperti yang kalian lihat. Rencana akan kita mulai, apa ada yang keberatan?” ucap Ravel.
Setelah Mort menyerap sekitar belasan hewan gaib, terdengar suara teriakan murid di dalam sekolah. Setelah mendengar suara itu Mort menghentikan perwujudannya dan Ravel langsung menuju arah suara teriakan itu. Tak jauh dari tempat mereka ada monster iblis yang sedang mencoba masuk ke ruang perpustakaan inti.
Karena suara itu berasal dari perpustakaan, tanpa banyak pikir Ravel langsung menggunakan sihir ke monster itu dan memancingnya ke luar sekolah.
“Devil Hand. Matilah monster sialan!” teriak Ravel sambil mengarahkan sihirnya ke monster iblis tersebut
__ADS_1
Monster itu pun terluka di bagian punggungnya, monster ini adalah monster level menengah kelas B, Lizard. Makhluk yang seperti manusia namun berwujud kadal ini, memiliki kesensitifan yang tinggi dan kekuatan yang sangat besar. Karena bukan tipe monster jarak jauh, Ravel berlari dan memancingnya dengan serangan sihir jarak jauh secara terus menerus.
Tanpa ada kesulitan, ia pun berhasil melumpuhkan monster itu. Ia langsung menuju ke depan pintu perpustakaan inti.
“Hei, buka pintunya! Sekarang sudah aman, biarkan aku masuk.” ucap Ravel mengetuk pintu dari luar dan memberitahu keadaan di sekitarnya.
Kemudian pintu perpustakaan terbuka. Di dalam perpustakaan terdapat 5 murid kelas 1. Dua perempuan tiga laki-laki. Kemudian Ravel masuk ke dalam perpustakaan dan memulihkan mananya. Kelima orang itu heran kenapa lizard yang ada di depan pintu menghilang. Sementara Ravel, langsung bertapa memulihkan mana sebelum yang lain bertanya.
“Kalian sepertinya hampir mati.” ucap Ravel tiba-tiba ke kelima orang itu.
Kelima orang itu terdiam mendengar perkataan Ravel dan menjaga jarak dengannya. Lalu, Ravel memberikan tatapan dengan niat membunuh yang sangat kuat ke salah satu perempuan yang ada di antara kelima murid itu. Sementara yang lain mengira kalau Ravel menatap mereka berlima. Ravel menatap perempuan itu karena perempuan itu bukanlah manusia biasa.
“Untung saja aku tiba, benar ‘kan? Nona vampire yang ada di sana.” ucap Ravel langsung dengan anggapan seakan menantang.
__ADS_1