
Setelah lama melakukan ide akhirnya Ravel hanya memindahkan Catari ke penyimpanan dimensi lalu mengeluarkannya di tempat yang luas. Ia menuju ke tanah luas yang sebelumnya pernah di serang oleh para bandit. Ia mengeluarkan Catari di sana dan pergerakannya pun menjadi lebih leluasa. Kemudian Catari menundukkan kepalanya ke arah Ravel.
"Apa kau ingin aku menunggangimu?" tanya Ravel ke Catari.
Catari menganggukan kepalanya ketika Ravel bertanya padanya. Ravel pun menaiki tubuh Catari dan dengan cepat terbang dengan kedua sayapnya yang besar.
"Woah! Terlalu cepat!" teriak Ravel ketika Catari terbang ke atas dengan cepat.
Kemudian ia terbang menuju ke rumah Kak Remon bersama Catari. Ia mengambil jalur luar kota agar tak membuat semua penduduk ketakutan. Ketika ia sudah dekat dengan rumah Kak Remon, Catari kembali ke dalam penyimpanan dimensinya. Lalu Ravel terpikir suatu hal mengenai masalah pembuatan senjatanya.
"Tunggu dulu, jika aku membuat senjata terlebih dahulu, bukankah aku tetap bisa menyusul yang lainnya jika bersama dengan Catari?" ucap Ravel dalam hati ketika masuk ke dalam rumah Kak Remon.
Ketika ia masuk, semua orang sudah selesai mempersiapkan persediaannya dan sedang makan malam bersama. Ia pun mencoba berbicara dengan yang lain mengenai rencananya untuk membuat senjata.
"Maaf, apa aku bisa meminta perhatian kalian sebentar!" ucap Ravel sedikit keras agar semuanya mendengarkannya.
__ADS_1
"Ada apa Ravel?" tanya Nia sambil mengunyah makanan.
"Untuk perjalanan menuju ke sekolah terkuat itu, apa kalian bisa memberikan aku waktu untuk tinggal di sini?" tanya Ravel ke semua orang.
"Apa maksudmu memberikan waktu? Apa ada hal penting yang belum kau selesaikan?" tanya Kak Nata ke Ravel.
"Aku ingin membuat senjata, jika kalian bisa memberikan peta perjalanannya, aku bisa menyusul kalian dengan cepat." ucap Ravel menjelaskan alasannya.
"Masalahnya, hanya ada 2 kereta kuda yang bisa kita gunakan. Apa yang akan kau gunakan untuk pergi ke sana? Apa kau ingin berlari sampai tujuan?" tanya Kak Walles ke Ravel.
"Aku akan menunggangi Catari!" ucap Ravel sampai membuat Nia tersedak karena terkejut.
"Catari? Apa itu? Nama seseorang?" tanya Kak Remon sedikit bingung.
"Tak usah khawatirkan aku, tugas di sana aku sudah paham, jadi aku akan menjalankan tugas ini langsung ketika aku menginjakkan kaki di sekolah itu." ucap Ravel yang berniat mendarat dengan naga di tengah sekolah itu.
__ADS_1
"Asalkan bisa sampai tepat waktu aku tak akan mempermasalahkannya. Ini peta untukmu!" ucap Kak Remon lalu mengeluarkan peta dari penyimpanan dimensinya lalu memberikannya pada Ravel.
Setelah itu Ravel kembali ke kamarnya dan menggambar setiap bagian dari senapan terbaik yang ia gunakan di dunia lamanya.
"Akhirnya, rekan lamaku akan bisa kembali ku gunakan." ucap Ravel dengan senangnya ketika menggambar desainnya.
Pagi hari tiba dan ketika Ravel keluar dari kamarnya sudah tak ada orang satu pun. Ia melihat surat di atas meja makan.
"Kami memutuskan untuk berangkat hari ini, kau cepatlah selesaikan senjatamu dan susul kami ke sana secepatnya." ucap Ravel membaca surat kecil itu.
Kemudian ia menuju ke toko yang pernah ia kunjungi sebelumnya untuk membuat senjata. Sesampainya di sana, terlihat Paman Strakeln sedang menganggur di depan tokonya.
"Paman! Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Ravel ke Paman Strakeln yang sedang bersantai.
"Oh, kau bocah waktu itu. Apa ada pesanan senjata lagi?" tanya Paman Strakeln tersenyum karena belakangan ini tak ada pengunjung di tempatnya.
__ADS_1
"Begitulah, aku sangat membutuhkannya dan hanya memiliki waktu paling lambat 3 hari untuk membuat ini." ucap Ravel tersenyum apa adanya karena masalah yang di buatnya.
"Baiklah, aku akan melakukannya sekali lagi." jawab Paman Strakeln.