
"Pertandingan di mulai!" teriak pengadil memberi aba-aba pertandingan.
Kemudian keduanya langsung saling menerjang dan menyerang satu sama lain. Kali ini Mort menggunakan senjatanya walau hanya senjata biasa. Mereka saling menyerang tanpa henti memberikan serangan beruntun ke lawan. Meski pertarungan terlihat tak ada hentinya saling menyerang, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil melukai lawan.
Tiba-tiba senjata Mort patah ketika menerima serangan Ares. Mort pun melangkah mundur dan terus menghindari serangan pedang Ares. Di saat Ares tepat akan menebas Mort dari atas, Mort mengeluarkan salah satu sabit terbaiknya. Pedang Ares terpental berkat benturan kejutan antar senjata. Senjata terpental ke ujung arena pertandingan.
Mort merasa sudah cukup santai, karena ia memperkirakan kalau Ares akan mengambil pedangnya terlebih dahulu dan membiarkannya untuk memgambilnya. Ketika Mort sedang terdiam setelah pedang Ares terpental, Ares tidak mengambil pedangnya dan memukul wajah Mort sekuat tenaganya hingga membuatnya terjatuh dengan keras dan meludahkan darah dari mulutnya.
"Kau pikir aku akan naif seperti itu?" ucap Ares sambil mengambil pedangnya kembali.
"Aku mengaku kalah, aku menyerah." ucap Mort menyerah tiba-tiba sambil bangun dari jatuhnya.
"Kenapa menyerah? Aku masih ingin melawanmu setelah sekian lama." ucap Ares merasa kesal sedikit karena Mort tiba-tiba menyerah.
"Mana mungkin aku akan melukaimu kan?" ucap Mort menuruni arena sambil memukul pelan kepala Ares.
Reaksinya hanya terdiam karena tidak mengira kalau kata-kata seperti itu akan keluar dari ucapan Mort. Ares tak bisa berkata untuk membalas perkataan Mort dan hanya berjalan di belakangnya dengan wajah malu dan memerah. Dia hanya menunduk dan tidak bisa memandang wajah Mort untuk sementara waktu.
__ADS_1
"Pertandingan berikutnya, seorang elit di antara elit di sekolah sihir, sang jenius yang hanya muncul 100 tahun sekali, Ravel! Akan melawan pengguna pedang besar yang kuat yang membabat habis musuhnya tanpa menggunakan sihir apa pun sepanjang pertandingan, Luke!" ucap pengadil manggil peserta berikutnya yang memasuki semi final.
Kedua peserta memasuki arena dan bersiap di posisi masing-masing. Luke menarik pedang besarnya dan menancapkannya di tanah. Ravel merasa hawa membunuh yang kuat, jadi dia mengeluarkan pisau yang ia miliki dan bersiap dengan serangan cepat apa pun.
"Pertandingan di mulai!" teriak pengadil memulai pertandingan.
Luke mengayunkan pedang besarnya ke arah Ravel. Ia berhasil menghindarinya, namun karena benturan yang di timbulkan pedang itu membuatnya terhempas ke samping. Tanpa memberi kesempatan, Luke kembali mengayunkan pedangnya ke arah Ravel.
"Accel!" ucap Ravel menggunakan sihir percepatan dan berpindah ke belakang Luke.
"Time Rules! Sihir peraturan pertama, Time Stop!" ucap Ravel lalu waktu terhenti.
Ia mengikat melilir tubuh Luke dengan benang itu lalu kedua pisau itu di tancapkan ke tanah. Ia merasa kalau pisaunya kurang kuat dan menginjaknya dengan bantuan sihir hingga pisaunya benar-benar tertanam ke dalam tanah.
"Determination!" ucap Ravel menggunakan sihir penguatan dan menginjak pisaunya hingga tertanam dalam.
Setelah menancapkan semua pisaunya, ia mengambil 5 pisaunya dan kembali menyimpannya di penyimpanan dimensi.
__ADS_1
"Time Rules! Sihir peraturan pertama, Normal." ucap Ravel lalu waktu kembali berjalan normal.
Ketika ia menoleh, Luke sudah terlilit benangnya dan tak bisa bergerak. Kemudian Luke terlihat seperti sesak saat bernapas dan terengah-engah seperti orang kelelahan.
"Aaaaaah! Aku muak dengan semua ini!" teriak Luke berubah menjadi ras iblis dan membuat semua benang Ravel terputus ketika tubuhnya bertambah kekar.
"Ada ras iblis! Semuanya pergi melarikan diri!" teriak pengadil memberitahu keadaan darurat dan semua orang berlarian menjauhi arena.
Kemudian seorang wanita dari ras iblis menusuk pengadil itu dengan pedang dari belakang. Ia bersama 2 ras iblis lainnya berjalan menuju arena untuk menjemput Luke.
"Luke! Artefak sudah di tangan, ayo kita pergi!" teriak wanita iblis meneriakinya dari ujung arena yang besar itu.
"Hahaha, aku akan bersenang-senang sebentar di sini. Kalian pergi saja duluan." ucap Luke yang menatap tajam ke arah Ravel.
Ravel tidak gentar atau pun takut ketika di intimidasinya, ia malah menatap tajam balik Luke dan mengeluarkan senapan buatannya dari penyimpanan dimensi.
"Yah, sepertinya aku juga akan bersenang-senang di sini." ucap Ravel membalas intimidasi Luke sambil memasang amunisi senapan.
__ADS_1