Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Ketidakpekaan Ravel


__ADS_3

“Masalah sebesar ini, mengapa sekolah yang harus menanganinya?” tanya Nia yang tidak menyangka kalau sekolah dapat tugas ini.


“Sebenarnya aku tidak tahu, aku sudah menanyakan ke kakekku tapi tidak diberitahu.” jawab Ariel apa adanya.


“Mengapa kita harus mengambil buku ksatria? Kita ‘kan penyihir.” tanya Dion sedikit heran.


“Karena ilmu bela diri dan bersenjata lebih cepat dipelajari di bandingkan sihir. Kalau kalian sanggup mempelajari ilmu sihir dalam kurang dari 2 bulan, kalian diperbolehkan memilih buku sihir.”


“Kalau begitu kami akan mengambil buku sihir. Kalian berdua aku tahu apa yang cocok dalam situasi ini.” ucap Ravel lalu pergi mencari buku ke sekeliling perpustakaan.


Kemudian Ravel mengambil buku berwarna biru 2 buah. Warna buku menentukan level dari sihir yang ada di dalamnya. Jika diurutkan dari yang terkecil, Merah, Hijau, Biru, Hitam, Putih, Ungu. Ravel membawa buku sihir non-elemen yaitu, Invisible dan Night Vision. Invisible untuk Nia dan Night Vision untuk Dion.


“Ravel, kenapa kau memilih sihir non-aktif? Bukankah kami tidak akan bisa melindungi diri dengan ini.” tanya Dion yang menganggap Ravel hanya bercanda.


“Tidak, sihir ini akan melindungi kalian meski lawannya hewan iblis kelas A sekali pun.” ucap Ravel menjawab.


“Memangnya bagaimana cara kita melawannya? Ini saja sihir non-aktif bukan?” tanya Nia yang sangat bingung.


“Aku tidak bilang kalian bisa melawannya. Setidaknya kalian bisa menyembunyikan diri jika terjadi hal tak di inginkan.” jawab Ravel sambil menghela napas panjang.

__ADS_1


“Tidak kuduga, ternyata kau mengkhawatirkan mereka.” ucap Adrea yang terkejut kalau Ravel mengkhawatirkan teman-temannya.


“Aku orang yang baik bukan?” tanya Ravel dengan senyuman.


“Ya, kau orang yang sangat baik.” jawab Adrea yang malu-malu dengan wajah yang memerah.


“Adrea? Kau kenapa? Wajahmu memerah loh, apa kamu tidak enak badan?” tanya Ravel yang tidak peka.


“Dia melakukannya lagi. Ravel ini memang parah.” ucap Dion menepuk kening dan menggelengkan kepala.


“Parah? Memangnya aku melakukan hal buruk?” ucap Ravel yang bingung.


“Memangnya aku salah apa sih?” ucap Ravel dalam hatinya.


“Hahaha, menurutku itu bagus. Karena tidak akan ada yang mengambilmu.” ucap Ella langsung ke pikirannya.


“Mengambilku? Sudahlah aku tidak mengerti lagi.” ucap Ravel yang tidak mempedulikan hal itu lagi sementara Ella yang mendengarnya hanya tertawa kecil.


Kemudian Nia dan Dion mengambil buku yang di sarankan oleh Ravel dan pergi ke tempat latihan duluan bersama Adrea. Sementara Ravel dan Ariel masih mengobrol di dalam perpustakaan sihir.

__ADS_1


“Hei, apa aku boleh mengambil senjata yang ada di sini?” tanya Ravel.


“Tentu saja tidak kan, barang yang ada di sini adalah sejarah dan tidak bisa asal pakai saja.” jawab Ariel dengan wajah marah.


“Kalau begitu, apa ada tempat dimana aku bisa mendapatkan senjata yang aku inginkan?” tanya Ravel.


“Tentu saja ada, tapi bayarannya cukup mahal. Karena belakangan ini stok bahan dasar membuat senjata semakin menipis.”


“Kira-kira berapa biaya untuk membuat sebuah senjata yang desainnya ku buat sendiri?”


“Tergantung tingkat kesulitan dan banyak logamnya.”


“Apakah kau bisa mengantarku ke sana?”


“Sekarang? Memangnya kau ingin membuat senjata apa?”


“Tidak, aku hanya ingin membuat sarung tangan dari besi.”


“Baiklah terserah kau saja, aku akan mengantarmu.” ucap Ariel dengan nada malas dan juga tak berniat menanyakan untuk apa membuat sarung tangan dari besi.

__ADS_1


__ADS_2