
Kemudian Ravel pergi menuju ruang kepala sekolah setelah sarapan. Ia ingin meminta izin untuk mempelajari sihir yang ada di perpustakaan inti Sekolah Sihir Astilice.
"Permisi, apa kepala sekolah ada di dalam?" ucap Ravel mengetuk pintu dua kali dan menanyakan keberadaan kepala sekolah.
"Masuklah." jawab kepala sekolah dari dalam.
Kemudian Ravel membuka pintu ruang kepala sekolah dan memasukinya. Kemudian ia duduk dan berbicara kepala sekolah.
"Aku ingin latih tanding dengan murid di sini yang mengikuti latihan nyata perang sihir dunia." ucap Ravel ingin mencoba latih tanding untuk memperkirakan kemampuan peserta lainnya di latihan nyata itu yang pada awalnya dia hanya berniat meminta izin mempelajari sihir di perpustakaan sekolah.
"Oh? Memangnya kenapa kamu ingin melakukan latih tanding dengan murid ku?" tanya kepala sekolah penasaran dengan tujuan Ravel.
"Hanya ingin mengenal batasan saja." ucap Ravel tidak menutupi apa pun dan hanya ingin melihat batasan dirinya sendiri.
"Batasan? Bagaimana kalau melawanku saja?" ucap kepala sekolah.
"Itu lebih baik, kapan kita mulai?" ucap Ravel bersemangat dan bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Tunggu dulu, apa tidak apa kalau melawanku?" tanya kepala sekolah yang tidak menyangka kalau reaksi Ravel tidak ketakutan.
"Bukankah kepala sekolah yang mengatakannya? Justru jika aku kalah itu akan semakin baik lagi." ucap Ravel benar-benar ingin melihat batasan akhir dirinya.
"Baiklah, ayo kita ke lapangan latihan." ucap kepala sekolah itu tertarik dengan apa yang ingin di lakukan Ravel.
Kemudian mereka menuju ke lapangan latihan. Karena masih jam pelajaran teori, jadi tidak ada siapa pun di luar kelas. Mereka memulainya dengan pertarungan tanpa sihir.
"Pertama, aku ingin memulainya dengan pertarungan tanpa sihir." ucap kepala sekolah mengeluarkan tombak berwarna keemasan yang merupakan artefak legenda.
"Baiklah! Apa batasan senjata yang di gunakan ada batasannya?" tanya Ravel menanyakan batas senjata karena ia membutuhkan banyak pisau.
"Kemudian Ravel mengeluarkan 2 pisau, dan mengenakan sebuah ikat pinggang yang memiliki tempat pisau sebanyak 12.
Ia mengisi semua tempat itu dan meletakkan salah satu pisaunya di gigi. Lalu, ia mengeluarkan satu pedang biasa di tangannya yang kosong.
"Senjata yang kamu gunakan bukankah terlalu banyak? Apa ini tidak merepotkanmu?" tanya kepala sekolah ketika masih persiapan dan menanyakan keadaan Ravel.
__ADS_1
Ravel hanya menggeleng karena tidak bisa menjawab. Sebab di mulutnya ia menggigit satu pisau. Tiba-tiba lapangan latihan di lindungi medan pelindung. Jadi, ketika keluar dari medan ini akan kembali seperti semula bagaimana pun luka yang di terima. Ravel memasang posisi siap dengan tubuh sedikit membungkuk.
"Siap, mulai!" ucap kepala sekolah menerjang dengan kecepatan biasa.
Mereka saling beradu senjata dengan cepat. Ravel juga sedang dalam keadaan primanya. Suara gaung besi yang saling beradu dengan kerasnya terdengar di seluruh sekolah. Semua murid serta guru keluar dari kelas untuk memeriksa apa yang terjadi. Mereka terkejut melihat kepala sekolah sedang melatih Ravel yang terlihat aneh dengan senjatanya.
Kecepatan terus meningkat seiring waktu berjalan. Ravel mulai terbiasa dengan jarak serangan tombak itu dan mulai serius. Ketika tiba saatnya menyerang, ia menghantam tombak dengan sekuat tenaganya sampai membuat pedangnya patah. Lalu, ia melompat ke belakang dan melempar pisau yang ada di giginya.
Pisau itu menggores pipi kepala sekolah dan tanpa jeda Ravel kembali menerjang dengan kecepatan yang tidak biasa. Ia menggunakan pisau andalannya dan menarik pisau lain. Serangan Ravel meningkat sejak ia menggunakan dua pisau. Kemudian kepala sekolah meningkatkan kecepatannya. Mereka kembali beradu dalam kecepatan yang sama.
Ravel membuang salah satu pisaunya yang sudah menumpul. Ia menarik 3 pisau sekaligus dan melemparnya. Kepala sekolah terfokus ke pisau itu dan pisau itu berhenti di depannya yang membuatnya kembali waspada. Lalu pisau menerjang dari jauh dengan berayun dari segala arah.
"Ravel! Bukankah tidak boleh menggunakan sihir?" ucap kepala sekolah ke Ravel sambil menghindari 3 pisau yang berayun ke arahnya.
"Aku tidak menggunakan sihir apa pun, ini hanya benang." ucap Ravel yang mengayunkan pisaunya dengan benang dari kejauhan.
"Ide cemerlang, aku terkejut dengan ketiga pisau itu." ucap kepala sekolah yang terus menghindari pisau itu.
__ADS_1
Lalu, Ravel menarik benang itu dan ternyata dari tadi ayunannya mengarahkan semua benang agar melilitnya. Ketika Ravel menarik benang itu dengan kuat, kepala sekolah terikat dengan benang tipis yang kuat.
"Wah, aku ceroboh." ucap kepala sekolah saat Ravel menarik benangnya.