
Keduanya saling menggunakan sihir tanpa bergerak. Mereka berdua menggunakan sihir pertahanan di waktu yang bersamaan.
"Straight Waves! Aku akan berbaik hati kepadamu karena aku hanya akan mengeluarkanmu dari arena." ucap Zink yang menciptakan sebuah ombak yang lurus dan mengarah tepat ke Ravel.
"Jangan menahan diri, takutnya nanti kau akan bilang kalau kau sengaja mengalah ketika melawanku, Freezing." ucap Ravel mengarahkan tangannya ke ombak itu dan dalam seketika ombak itu membeku dan hancur mengkristal.
Zink mundur dan mengambil jarak ketika Ravel berhasil menghalau serangannya dengan sangat mudah. Ravel masih berdiri diam di tempatnya dan hanya menunggu serangan datang.
"Aku akan serius, rasakan ini Dragon Lightning!" ucapnya lalu muncul petir yang membentuk naga.
"Oh, lumayan juga sihir ini." ucap Ravel melihatnya dan cukup terkesan.
Petir yang membentuk naga itu mulai menyerang Ravel. Ia hanya menghindari semua serangan tanpa melakukan serangan.
__ADS_1
"Apa kau terlalu takut untuk menggunakan sihirmu dan hanya menghindar saja?" ucap Zink mengejek Ravel yang sedang menghindari serangan petirnya.
Tatapan mata Ravel tertuju ke Zink dengan tajamnya. Zink yang merasa tertekan akan kehadirannya saja merinding saat Ravel menatapnya dengan tajam. Kemudian Ravel mulai melakukan tindakan. Ia menancapkan pisau di sekelilingnya ke tanah dan memegang 1 pedang di tangannya. Ketika petir itu mendekat, Ravel mengangkat pedangnya.
"Creation!" ucap Ravel lalu muncul rantai yang menghubungkan semua pisau dengan pedangnya.
Kemudian ia melempar pedangnya ke arah petir yang di kendalikan Zink dan dalam seketika petir itu lenyap ketika menyentuh pedang Ravel. Semua orang tercengang ketika melihat sihir sehebat itu lenyap hanya dengan sebilah pedang biasa dan beberapa pisau yang di rantai saja.
"Sekarang giliranku menyerang, Illusion of Demon, Minotaur Zarka." ucap Ravel menggunakan sihir ilusi hanya ke Zink dan ia lari terbirit-birit dari arena dengan memalukannya.
Ravel kembali ke tempat Mort dan Ares. Saat di sana, Ares langsung memukul kepalanya cukup keras.
"Lumayan juga ternyata dia ini, di mana kau bisa menemukan anak ini Mort?" tanya Ares setelah memukul kepala Ravel.
__ADS_1
"Aku tidak menemukannya, aku tersegel di dalamnya. Wadah untuk menyegel setengah diriku adalah dia dan ketika aku sadari dia berkembang dengan cepatnya." ucap Mort menjawab apa adanya.
Kemudian mereka meninggalkan arena karena hanya akan mendapatkan giliran bertanding sekali perharinya. Mereka pergi untuk mencari makan siang karena sudah sangat kelaparan.
"Aku ingin makan, ayo cari tempat makan yang enak!" ucap Ares bermanja ke Mort seperti anak kecil.
"Apa dewa dan dewi juga bisa merasakan kelaparan?" tanya Ravel sedikit tertarik.
"Tentu saja, karena kami sebelumnya juga hanya manusia biasa. Setelah menembus batasan manusia barulah menjadi dewa dan dewi dan pindah dari dunia ini. Jadi, jika kami kembali ke dunia ini, maka tubuh kami juga tubuh manusia." jawab Ares menjelaskan dengan cara yang mudah di pahami.
Mereka pun pergi untuk mencari makan siang dan Ella pun juga ikut karena peri membutuhkan makanan juga. Ketika sedang berjalan, mereka menemukan sebuah bar yang cukup besar dan juga di dalamnya cukup banyak orang. Mereka mengambil tempat kosong dan tidak menarik banyak perhatian karena tidak ingin membuat masalah yang malas di urusi.
"Pelayan, kami ingin memesan!" teriak kecil Ravel memanggil pelayan.
__ADS_1
"Baik, mohon tunggu sebentar." jawab pelayan itu lalu menuju meja mereka sambil membawa daftar menu.