
Ella hanya tersenyum mendengar perkataan Ravel. Mereka pun berjalan keluar untuk mencari angin di malam hari. Jarak dari sekolah ke rumah tidaklah terlalu jauh. Saat di perjalanan terdengar suara lantunan musik yang indah dari arah sekolah. Mereka pun bergegas ke sana untuk melihat sekaligus penasaran dengan pesta yang ada di sekolah.
Ravel dan Ella melihat ke dalam melalui atap dan turun ke sebuah beranda di lantai dua untuk masuk dan melihat lebih dekat. Ketika masuk, di lantai dua tak terlihat banyak orang. Jadi, mereka melihat pesta hanya dari lantai dua.
“Ravel, kenapa kamu tidak ikut berpartisipasi dalam pesta?” tanya Ella ke Ravel.
“Aku tak terlalu suka acara semacam ini, karena tak terbiasa dengan suasananya.” jawab Ravel yang tak suka dengan pesta.
“Lain kali, cobalah untuk datang. Aku akan menemanimu.” ucap Ella dengan mata terfokus ke lantai bawah.
“Baiklah, tapi jangan ke tempat yang terlalu ramai ya!” jawab Ravel yang merasa kalau Ella sangat ingin ikut serta.
“Tentu saja, karena aku juga tak ingin menjadi sorotan saat di pesta. Apalagi kamu cukup populer karena partisipasimu dalam beberapa masalah besar di sekolah.” jawab Ella menoleh ke arah Ravel dengan wajah tersenyum.
__ADS_1
Kemudian Ravel mengeluarkan suatu benda yang ada di penyimpanan dimensinya. Ia mengeluarkan sebuah biola yang ia buat sendiri saat dia masih di panti asuhan. Ia memainkannya di beranda lantai dua untuk memperdengarkannya ke Ella. Suara gaung dari senar biola yang merdu dan nada indah refrain yang terus mengulang.
Orang yang ada di pesta juga ikut mendengarkan suara dari biola itu. Karena biola adalah alat musik yang Ravel buat mengikuti cara yang ada di dunia asalnya, tak ada yang tahu suara alat musik apa itu sebenarnya. Ella yang duduk di sebelah Ravel yang memainkan biola hanya memejamkan mata dan mendengarkan suara indah dari biola itu.
Ravel yang terlalu fokus pada nada biolanya tak menyadari kedatangan orang-orang di pesta. Ketika selesai memainkannya, terdengar riuh suara tepuk tangan dari depannya. Ia terkejut melihat ada banyak orang yang mendengarkan suara biolanya. Ia langsung menarik tangan Ella dan meloncat langsung ke bawah bersama Ella dan meninggalkan sekolah.
Mereka berdua tertawa bersama sembari berlari menuju rumah. Malam itu terasa sangat menyenangkan. Sesampainya di rumah, mereka hanya terengah-engah karena berlari dengan cepat tanpa henti. 30 menit setelah mereka bersantai, Kak Nata, Dion, dan Nia pulang ke rumah. Mereka sudah menebak-nebak suara biola yang hanya pernah mereka dengar dari satu orang.
“Ravel, tadi kau datang ke pesta ya? Dengan alat musik buatanmu yang kau buat di panti asuhan.” tanya Dion menebak kalau orang itu adalah Ravel.
“Tidak, aku dan Ella langsung kabur dengan cepat.”
“Hehe, karena itulah kakiku lelah sekali.” ucap Ella dengan tawa kecil.
__ADS_1
“Para pemain musik pasti merasa kesal karena pertunjukkannya kau ambil alih, bukan?” ucap Nia ke Ravel.
“Benar juga, apa aku terlalu banyak membuat masalah di sekolah ya?” tanya Ravel dengan wajah memaksakan tertawa.
“Memangnya kenapa? Bukankah kau selalu membuat masalah dimana pun kau berada?” tanya Dion mencoba mengejeknya.
“Bisa juga ucapanmu, kau pikir siapa yang membuat sepanjang jalanan menjadi es saat hari pertama berangkat sekolah?” tanya Ravel menyindir balik untuk membalas ejekan dari Dion.
“Entahlah, mungkin orang bodoh yang tak jelas asalnya.” jawab Dion seolah tidak tahu.
“Apa itu berarti kau mengakui kalau dirimu bodoh?” ucap Ravel kembali mengejeknya.
“Ya, aku mengaku itu aku!” jawab Dion.
__ADS_1
“Hahahaha.” ucap yang lain tertawa bersama.