
Pada akhirnya mereka berempat memeriksa keadaan kota itu dan melihat dari mana asal artefak langka yang mereka rasakan sebelumnya. Ketika mereka sampai di kerumunan orang, terlihat ada sebuah barisan yang di penuhi orang dengan kemampuan yang kuat dan tidak biasa. Karena penasaran, mereka bertanya ke seseorang di kerumunan itu.
"Permisi, sebenarnya ada apa dengan keramaian ini ya?" tanya Ares ke salah seorang yang berkerumun di sana.
"Oh, apa kalian orang luar? Ini adalah acara setiap tahun dan di ikuti oleh banyak orang berbakat. Mereka melakukan kompetisi pertarungan ini dengan mengharapkan hadiah pemenang sebuah artefak. Meski tidak menentu artefaknya, tapi dapat di pastikan kalau setiap tahun akan memberikan artefak yang langka sebagai hadiah pemenang." ucap orang itu menanggapi pertanyaan Ares.
"Apa orang luar juga bisa ikut serta?" tanya Mort ke orang itu lagi.
"Tentu saja, bahkan banyak orang luar yang datang ke sini hanya untuk mendaftar dan mengikuti kompetisi ini."
Kemudian Ella menghentikan perwujudannya dan Ravel pun pergi berbaris untuk ikut mendaftar. Begitu pun Ares yang ingin ikut serta karena sedang bosan. Mort pun juga tidak kalah semangat karena ia ingin mencoba kemampuannya setelah sekian lamanya tersegel.
__ADS_1
Setelah mendaftar, mereka melihat siapa yang akan menjadi lawan mereka. Karena ada beberapa orang yang cukup terkenal karena pernah mengikuti kompetisi ini sebelumnya dan bahkan mendapat julukan dari para penonton. Di awal pertandingan, mereka bertiga akan melawan semua peserta terkuat yang pernah mengikuti kompetisi ini sebelumnya.
"Bukankah ini terlalu sial? Bagaimana bisa kita langsung melawan orang yang kuat? Bukankah akan membosankan saat di akhirnya nanti?" ucap Ares merasa kalau kompetisi ini mulai tidak menarik.
"Sepertinya karena kita orang luar dan baru pertama kali mengikuti ini, jadi di sengajakan agar lebih cepat tereliminasi dan membiarkan para peserta sebelumnya melaju dengan mudah." ucap Mort menggunakan sihir pembaca pikiran dan mendengar pikiran semua orang yang ada di kerumunan itu.
"Yah, sepertinya mereka salah memilih lawan ya? Terutama yang akan melawan Ares." jawab Ravel merasa kalau pertarungannya akan menyenangkan.
"Hihi, aku jadi sedikit kasihan melihat mereka bertiga yang menjadi lawan kalian." ucap Ella ke Ravel dengan pikiran.
"Apa kalian juga mendaftar?" tanya seseorang berjubah hitam dan bertudung yang terdengar jelas suara seorang wanita.
__ADS_1
"Benar, kami ikut mendaftar karena hadiahnya." jawab Mort tanpa menoleh ke arah orang itu.
"Sebaiknya kalian tidak berbelas kasih, karena jika tidak berusaha membunuh lawan maka kalian yang akan terbunuh lawan." ucapnya memberitahu lalu pergi begitu saja.
"Apa maksudnya barusan?" tanya Ravel merasa kalau wanita itu memperingati suatu hal yang serius.
"Sepertinya kita tetap harus waspada terhadap sekitar." ucap Mort memberitahu Ravel untuk selalu waspada.
Kemudian seseorang berjalan melalui mereka dengan hawa membunuh di setiap langkahnya. Ia menggendong sebilah pedang yang di penuhi mana di sekitarnya.
"Mort, apa kau merasakannya?" tanya Ravel menyadari kalau itu juga termasuk ke artefak.
__ADS_1
"Iya, terasa kuat sekali. Sepertinya dia akan menjadi lawan yang sengit untukmu. Bahkan mungkin kau bisa kalah karena dia memiliki pedang itu." ucap Mort merasa kalau orang yang lewat barusan akan membuat Ravel kesulitan saat melawannya.
"Kau lihat saja, karena aku punya senjata rahasia." jawabnya dengan percaya diri sekali.