
Setelah memulihkan diri selama seharian penuh, akhirnya penyihir kerajaan itu siuman dengan mana yang sudah pulih sepenuhnya. Ketika ia bangun, Ravel berada di sana bersama dengan kepala sekolah. Setelah sadar ia langsung memberi hormat pada Ravel dan mengakui kekalahannya sepenuhnya.
Ia menekuk lutut dan menundukkan kepalanya dan meminta maaf kepada Ravel karena terlalu meremehkannya. Ia juga memberikan buku sihir yang di tinggalkan gurunya sebagai permintaan maaf.
“Aku minta maaf karena sudah merendahkan orang lain. Karena jabatanku sepertinya aku harus memperbaiki diri dan menyamaratakan status sebagai pendirianku.” ucap penyihir kerajaan itu sambil memberikan hormat ke Ravel.
“Dasar kau ini! Bukankah kau penyihir kerajaan? Kenapa dengan mudahnya menundukkan kepala ke orang lain. Apa kau orang yang mudah mengkhianati majikannya?” ucap Ravel membuat dia sadar akan perbuatannya yang berlebihan.
“Ini hanya sebagai permintaan maaf saja. Sesampainya aku di kerajaan nanti akan ku ceritakan hal baik tentangmu pada sang raja.”
“Aku tak tertarik pada rajamu, aku hanya penasaran pada suatu hal. Dari mana kau mendapatkan pisau terbang itu?” tanya Ravel khawatir kalau penyihir itu punya hubungan dengan para iblis.
“Itu peninggalan guruku, ia mendapatkannya sebagai barang rampasan ketika membunuh iblis mengamuk di sebuah desa kecil jauh di utara. Setelah ia wafat, ia memberikannya padaku sebagai kenang-kenangan dan jimat keberuntungan.”
__ADS_1
“Pisau itu tak seharusnya kau pakai, aku memang tak lebih kuat darimu tapi aku bisa mengalahkanmu. Apa kau tahu alasannya?” tanya Ravel dengan serius.
“Karena kau orang yang licik dan pandai mengelabui orang?” tanya penyihir itu mulai jengkel dengan perkataan Ravel.
“Orang ini! Itu karena aku lebih pintar darimu bodoh! Dasar kepala kopong! Tak bisa berpikir!” ucap Ravel membalas ejekan Penyihir itu.
“Kalian berdua, sudah hentikan!” ucap kepala sekolah yang mulai kesal karena sifat mereka berdua.
Setelah selesai, tak terasa hari sudah sore. Ravel berjalan kembali ke rumahnya sendirian karena harus menjelaskan hal membosankan itu terlebih dahulu. Karena tak ingin merepotkan, Nia dan Dion sudah di suruh pulang lebih dulu. Karena terlalu lesu, Mort dan Ella melakukan perwujudan dan berjalan bersamanya.
Mereka muncul dengan pakaian dan wujud seperti manusia pada umumnya. Ravel kaget mereka berdua bisa melakukan hal itu.
“Bagaimana kalian melakukan hal itu?” tanya Ravel ke Ella dan Mort.
__ADS_1
“Invisible bisa di gunakan untuk hal ini juga, bodoh!” ucap Mort mengejeknya.
“Apa kau bilang? Siapa yang kau panggil bodoh!” ucap Ravel kesal atas perkataan Mort.
“Sudahlah! kalian berdua, jangan berkelahi terus. Kalian akan mengganggu orang lain kalau terus begitu.” ucap Ella mencoba melerainya.
Mereka pun berjalan bersama layaknya orang yang sedang bersama temannya. Tak ada yang menyadari hal itu sedikit pun karena Mort dan Ella menyembunyikan auranya sampai tak terlihat. Sesampainya di depan rumah, terdengar suara ramai di dalam rumah. Ravel pun segera masuk dan ingin melihat ada keributan apa di dalam rumah.
“Aku pulang!” teriak kecil Ravel saat memasuki pintu.
“Ravel, kau sudah pulang? Bisa bantu kami?” tanya Dion langsung dengan cepat menuju ke pintu.
“Memangnya ada apa?” tanya Ravel sambil berjalan menuju suara bising itu dan terkejut dengan apa yang ia lihat.
__ADS_1