
Kemudian Kak Remon menuju ke penjara sekolah itu yang berada di bawah tanah. Kak Remon pergi bersama alumni lainnya dan hanya Intelligent yang menetap dan mengawasi segel itu. Ravel mulai bisa merasa tenang dan menghela napas. Baru saja merasa tenang, segel di perpustakaan hancur karena di paksa buka dari dalam.
"Krak . . . Duar!" suara yang awalanya hanya retakan segel dan di susul ledakan kuat.
"Sial, apa dia berhasil menghancurkan segel itu? Aku sudah membuatnya susah payah dan dia menghancurkannya dengan mudah." ucap Intelligent terkejut kalau segelnya sangat rapuh bagi iblis itu.
"Hahaha, apa kau pikir dinding kecil itu bisa menahanku? Terlalu naif bagi seorang senior yang termasuk jenius bukan?" ucap iblis itu dengan tawa dan santainya berjalan ke luar perpustakaan.
"Sial, Ravel bantu aku menahannya." ucap Intelligent meminta bantuan Ravel karena merasa tak kuat menahannya sendiri.
"Oh, tidak usah khawatir kak. Serahkan saja pada mereka berdua." ucap Ravel duduk santai dan membiarkan Mort dan Ares yang mengurusnya.
"Biarkan aku mencoba kekuatan lamaku, kau menonton saja ya." ucap Mort menyuruh Ares untuk tidak ikut campur.
__ADS_1
"Baiklah, sudah lama juga aku tidak melihatmu bertarung." jawab Ares lalu berhenti dan kembali duduk bersama Ravel.
"Hooh? Apa ada yang ingin mengantar nyawanya? Kau pikir bisa mengalahkanku sendirian? Bahkan jika kalian bekerja sama, kalian masih tidak bisa mengalahkanku." ucap iblis itu merasa kalau Ravel dan yang lainnya sudah tidak memiliki kesempatan untuk menang.
"Mort! Santai saja melawannya! Karena dia hanya wanita bodoh saja!" teriak Ravel meledek iblis itu karena jatuh ke dalam jebakannya.
"Anak ini, mati kau!" ucap iblis itu berpindah posisi dengan cepat dan berada di belakang Ravel dan mencoba untuk mencekiknya.
"Lawanmu adalah aku." ucap Mort yang menahan tangan iblis itu sebelum meraih Ravel.
"Tidak akan aku beri kesempatan dengan mudah." ucap Mort tiba-tiba berada di belakang wanita itu dan menyerangnya dengan sihir bela diri yang pernah di pelajari Ravel.
Iblis itu terhempas cukup jauh dan mulai serius menghadapi Mort. Meski berada di tempat yang jauh, niat membunuhnya terasa sampai ke semua murid yang berada di dalam pelindung tepat di belakang Ravel dan Ares. Karena iblis itu mulai serius, Ravel memilih untuk mencoba melawannya dan membiarkan Mort kembali duduk bersama Ares.
__ADS_1
"Ravel, habisi dengan satu serangan!" teriak Mort mengejek Ravel yang kemungkinan tidak akan bisa mengalahkannya dengan satu serangan saja.
"Kalahkan dia tanpa tersentuh olehnya!" teriak Ares ikut mengejek Ravel yang tidak mungkin menang tanpa luka sedikit pun.
"Baiklah, kalian yang memintanya. Jika aku berhasil melakukannya, akan aku pastikan kalian memberikan benda berharga sebagai hadiahnya." ucap Ravel malah tersenyum dan bertaruh dengan dewa-dewi itu.
"Oke, aku akan bertaruh denganmu." ucap Mort membalas senyuman Ravel dan penasaran dengan apa yang di rencanakannya.
Kemudian Ravel berhenti dengan jarak sekitar 10 langkah dari iblis itu. Karena waspada, iblis itu tidak menyerang duluan untuk membaca pergerakan Ravel. Sementara Ravel menggumamkan suatu hal di posisinya dan kemudian muncul banyak lingkaran sihir di seluruh sekolah itu.
"Peraturan dunia ini, hukum dunia ini, kemustahilan dunia ini, keberadaan dunia ini, lenyaplah! Dimension Rule!" teriak Ravel lalu di seluruh tempat itu berpindah dan hanya terlihat lautan bintang tanpa ujung.
"Ravel, sihir ini?" tanya Mort terkejut dengan sihir Ravel yang belum pernah dia lihat.
__ADS_1
"Benar, ini sihir yang aku ciptakan sendiri. Peraturan Dimensi!" jawab Ravel memberitahu sihirnya.