Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Kepulangan ke Astilice


__ADS_3

Sekembalinya mereka ke Sekolah Sihir Astilice, mereka langsung menuju ke ruang kepala sekolah dengan sihir teleportasi. Saat memasuki ruang kepala sekolah, tidak ada orang di sana. Mereka mengelilingi sekolah untuk mencari kepala sekolah. Akhirnya mereka menemukan kepala sekolah sedang bersama orang yang di selamatkan Ravel di sebuah taman sedang berbicara berdua sambil minum teh.


"Kepala sekolah! Masalah sudah selesai!" teriak Ravel sambil berjalan menuju mereka berdua di ikuti semua temannya.


"Anak ini! Mengapa dia tidak bisa menjaga etika dan perilakunya sedikit saja." ucap kepala sekolah di dalam hati yang kesal dengan perilaku Ravel.


Kemudian Ravel membisik ke kepala sekolah mengenai masalah para bangsa elf yang sudah di selesaikannya.


"Aku sudah menyelesaikan permasalahan bangsa elf, apa akan ada hadiah untuk ku?" tanya Ravel.


"Apa kau bodoh? Lihat siapa yang ada di depan kita? Jagalah sikap mu!" bisik balik kepala sekolah dengan geram.


"Baik, aku akan mendengarkan." ucap Ravel terkejut dengan reaksi menakutkan kepala sekolah.


Kemudian kepala sekolah melanjutkan obrolan dengan tuan putri. Mereka sedang membahas mengenai perjalanan kembali menuju ke kerajaan dengan aman. Kepala sekolah sudah mengabari raja, karena banyaknya prajurit yang mencurigakan dia tidak berani mempercayakan putrinya untuk di jemput tanpa dia.


"Kalau boleh tahu, kapan tuan putri akan kembali?" tanya Ella dengan sopan.

__ADS_1


"Kalau bisa secepatnya, karena aku sudah hilang selama 4 hari ini." jawab tuan putri.


"Apa tidak bisa di perpanjang? Aku bisa mengantar mu, tapi saat ini aku harus mempelajari beberapa sihir dan mempelajari tentang latihan nyata perang sihir dunia." ucap Ravel menawarkan untuk mengantar namun meminta waktu lebih.


"Sebenarnya aku bisa pergi kapan pun yang aku inginkan, kalau begitu aku akan menunggunya saja." jawab tuan putri memutuskan.


"Maaf, aku ingin beetanya. Bukankah di sini ada banyak anak bangsawan? Mengapa tidak meminta bantuan mereka?" tanya Mort asal bertanya tanpa menyaring topik yang sudah di bahas.


"Bukankah sudah di bahas kalau ada kemungkinan banyaknya pengkhianat dalam anggota kerajaan!" ucap Ares memukul kepala Mort hingga membuatnya terpental jauh.


"Hahaha, sepertinya kalian sangat menyenangkan dan akrab." tawa kecil putri melihat Ares memukul Mort.


"Siapa yang kau sebut bodoh?" ucap Ares lalu memukul Ravel seperti yang di lakukannya ke Mort.


"Ravel! Apa kau baik-baik saja?" teriak Ella khawatir dan berlari menuju Ravel.


"Sungguh, kalian ini sangat menyenangkan." ucap pelan putri ketika melihat mereka semua berulah.

__ADS_1


Setelah itu Ravel menuju ke tempat para anak bangsawan karena ia pernah berniat untuk menghadapi semua pengajar anak bangsawan itu dengan duel langsung.


"Baiklah, saat meregangkan tubuh kita." ucap Ravel melakukan peregangan sebelum membuat keributan bersama yang lainnya.


"Haha, ini pasti akan menyenangkan." ucap Mort mengepal tangannya dan mengeluarkan niat membunuh yang mendalam.


"Jangan lengah ya, dan terutama jangan di bunuh." ucap Ella mengingatkan dengan wajah masam ketika melihat mereka semua bersemangat membuat keributan.


"Tidak boleh di bunuh kah? Kalau begitu setidaknya satu tangan atau kaki saja." ucap Ares menarik pedangnya dan membuat wajah jahat.


"Kalian ini apa tidak mengerti? Jangan membuat kalian di pandang sebagai penjahat di dunia ini! Perlakuan semua orang terhadap penjahat sangat tidak adil dan selalu di deskriminasi!" ucap Ella dengan sedikit teriak karena tidak ada yang mendengarkan perkataannya.


"Tenang saja, kami semua tahu. Karena kami pernah mengalami hal yang sama dengan yang kau alami." jawab Ravel memgelus kepala Ella dengan tersenyum.


Kemudian setelah mereka sudah siap dan sudah tidak sabar. Mereka berteriak ke asrama para bangsawan.


"Kalian para bangsawan yang hanya menang kasta! Aku ke sini ingin menghancurkan harga diri kalian!" teriak Ravel dengan sihir penguatan tekanan udara yang membuat suaranya lebih kuat.

__ADS_1


Kebetulan putri dan kepala sekolah melewati tempat itu. Mereka terkejut melihat Ravel dan semua temannya membuat keributan. Terutama kepala sekolah yang mengira Ravel sudah melupakan ide bodohnya.


"Apa yang di lakukan anak ini?" ucap kepala sekolah dengan wajah mengkerut karena geran


__ADS_2