
"Kepala sekolah, apa pelatih mereka juga tetap melatih para anak bangsawan itu ketika di sekolah ini?" tanya Ravel ke kepala sekolah.
"Begitulah, itu membuat para guru di sini ingin menunjukkan bakat mengajarnya agar dapat menarik perhatian para pelatih anak bangsawan itu." ucap kepala sekolah sudah tidak tahu lagi apa yang harus di lakukan.
"Aku akan membantu, tapi aku ingin di bayar." ucap Ravel memikirkan suatu rencana.
Kemudian Ravel memberitahu rencananya ke kepala sekolah. Ia berniat melakukan latih tanding dengan semua pelatih itu. Karena ia masih ingin melihat batasan dirinya sendiri.
"Memangnya kamu sanggup melawan pelatih mereka?" tanya kepala sekolah yang tidak mengharapkan bantuan dari Ravel.
"Tenang saja, aku hanya ingin sedikit mempermainkan mereka saja." ucap Ravel dengan senyum percaya diri.
"Apa kamu sungguh yakin? Jika aku melawan salah satu dari mereka memang aku masuh bisa menang dengan mudah. Tapi, pelatih mereka ada 10 loh." ucap kepala sekolah memperingati Ravel.
"Ada orang di belakangku, tidak perlu mengkhawatirkanku." ucap Ravel karena masih ada Mort dan Ares serta Ella.
Kemudian ia mulai membuka buku sihir itu dan membacanya. Kepala sekolah masih di sana untuk menghentikan Ravel melakukan hal berbahaya yang bisa membuatnya di penjara di kerajaan. Kemudian Ravel menutup buku sihir yang ia baca dan mulai mempraktekan sihir.
"Hovering Objects!" ucap Ravel lalu buku sihir lain yang ia ambil terbang menujunya.
Kepala sekolah terkejut dan langsung mengambil buku sihir yang pertama di baca Ravel. Ia sangat kaget ketika mengetahui Ravel mempelajarinya hanya dalam waktu beberapa menit saja.
__ADS_1
"Apa kamu baru mempelajarinya?" tanya kepala sekolah memastikannya.
"Ya, memangnya ada apa?" tanya Ravel balik sambil membuka buku sihir yang lainnya.
"Ya, ampun. Kau terlalu jenius untuk seorang manusia. Bahkan, ras selain manusia juga belum tentu bisa mempelajari sihir dengan waktu sesingkat itu." jawab kepala sekolah menjelaskan kemampuan Ravel yang sangat tidak biasa.
"Setiap orang punya pemahaman tersendiri, bukan mustahil jika seseorang dapat bahkan menciptakan suatu sihir dalam waktu yang cepat." ucap Ravel sambil membaca buku sihir berikutnya.
"Kalau begitu kau lanjutkan saja, aku akan kembali ke ruang kepala sekolah. Jangan lakukan hal bodoh yang dapat membuatmu di masukkan ke penjara kerajaan." ucap kepala sekolah kembali ke ruangannya.
Kemudian Ravel hanya membaca buku sihir di sana sampai hari menjelang sore. Ia kembali ke asrama untuk berpamitan dengan yang lainnya. Sesampainya di sana, semua teman-temannya sudah siap untuk pergi dan berangkat secepatnya.
"Kenapa kalian sudah siap begini? Bukankah kepulangan kalian besok?" tanya Ravel heran melihat yang lain sudah berkemas dan siap untuk pulang.
"Begitu 'kah? Aku akan menantikan perkembangan mereka nanti, apa mereka menyusul ku? Atau semakin tertinggal?" ucap Ravel ketika melihat semua temannya berkemas.
Kemudian semua temannya sudah siap untuk pulang menggunakan kapal sihir kepala sekolah. Kapal itu akan di kendalikan oleh kepala sekolah dari jauh agar tidak mengganggu pekerjaannya.
"Ravel! Jangan pernah lengah, kami tidak bersamamu, pastikan kau selalu baik-baik saja." ucap Ariel lalu naik ke kapal sihir.
"Ravel, aku akan segera menyusulmu. Jangan sampai kau bertambah lemah ya!" ucap Dion lalu naik ke kapal sihir.
__ADS_1
"Aku juga akan berusaha di sana, jangan sampai tertinggal ya, Ravel!" ucap Adrea lalu naik ke atas kapal sihir.
"Pastikan, pastikan kalau, pastikan kalau kau akan kembali! Aku akan berlatih sekuat tenaga. Latihan nyata itu, kita akan menjuarainya dan membawa kabar baik ke panti asuhan!" ucap Nia perlahan mulai mengeluarkan air mata.
"Kenapa kau menangis? Sudahlah, aku akan mampir ke sana dengan sihir teleportasi jika sedang bosan." ucap Ravel mencoba menghentikan tangis Nia.
Kemudian Nia juga naik ke kapal sihir itu. Hanya tinggal menunggu para alumni keluar dan mereka siap berangkat ke Sekolah Sihir Vitoria.
Kemudian Kak Nata dan kak Remon keluar dari asrama bersama yang lain. Senua langsung naik ke kapal sihir kecuali Kak Nata dan kak Remon untuk memberikan sesuatu.
"Ravel, kau akan sendirian di sini. Aku ingin meninggalkan sesuatu kepada mu." ucap kak Remon memberikan pedang cadangannya yang setara dengan pedang yang sering ia gunakan.
"Pedang sihir?" ucap Ravel tidak menyangka akan mendapat pedang sihir.
"Aku tidak tahu apa kau bisa memakainya, tapi kalau dirimu, pasti bisa memakainya keesokan harinya, bukan?" ucap Kak Remon dengan tawa kecil.
"Ini hadiah dari ku, beberapa obat yang ku buat. Kamu bisa membedakannya dari warnanya, yang warna merah untuk memulihkan luka, yang warna biru untuk mengembalikan mana, dan yang warna kuning untuk mengembalikan tenaga. Lalu, terakhir aku ingin memberikan ini." ucap kak Nata memberikan sebuah buku tebal.
"Buku apa ini Kak?" tanya Ravel tidak pernah melihat buku setebal buatannya.
"Buku ini berisi cara membuat potion, kamu bisa mempelajarinya jika kamu mau." ucap Kak Nata.
__ADS_1
Kemudian mereka berdua pun naik ke kapal sihir dan bersiap berangkat.
"Sampai jumpa semuanya, aku pasti akan membuat kelian terkejut dengan perkembangan ku, nanti!" teriak Ravel ketika kapal sihir itu mulai berjalan.