
Tak lama Ravel terbangun dari tidurnya setelah Ella pergi. Ia membasuh wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuk dan bersiap untuk berkeliling kota dengan kapal sihir kepala sekolah astilice. Setelah selesai bersiap, matahari mulai terbit dan aroma makanan pun tercium dari depan kamar. Nia mengantarkan sarapan yang di buat oleh Kak Nata.
Setelah sarapan, mereka berkumpul di depan asrama dan terlihat sebuah kapal besar di langit yang membuat bayangan seakan langit mendung.
"Apa kalian sudah siap semua? Sebaiknya kalian bisa naik ke sana, jika tidak kalian akan di tinggal loh." ucap kepala sekolah lalu terbang ke atas kapal sihir itu.
"Sihir terbang?" ucap Ravel terkejut melihatnya.
"Bagaimana ini? Aku tidak tahu cara agar bisa sampai di sana." ucap Nia sedikit panik karena takut tidak bisa ikut bersama dengan yang lainnya.
"Catari!" teriak Ravel memunculkan Catari dan membawa semua temannya ke atas kapal.
"Naga?" ucap Kak Remon terkejut.
"Para senior sekalian bisa naik ke atas sendiri bukan?" tanya Ravel tidak bisa mengangkut lebih banyak orang lagi.
"Nata, berpeganganlah! Ayo pergi!" ucap Kak Remon menggendong Kak Nata dan melompat ke atas dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Aku juga akan pergi." ucap Kak Walles melontarkan panah dengan tali dan menggunakan sihir penarik untuk menarik badannya ke atas.
Kak Azzack pun juga ikut menyusul di bantu Intelligent dengan sihir terbangnya. Ravel pun tertinggal sendirian di sana.
"Apa tidak ada yang mau mengangkutku sekalian? Masa aku harus memanggil Catari lagi. Oh iya, aku kan punya cara yang mudah, Teleport!" ucap Ravel lalu berpindah atas kapal sihir itu.
Kemudian kapal sihir itu mulai berlayar di langit dan menuju ke beberapa kota terdekat. Mereka melihat pemandangan yang sangat indah dari ketinggian itu. Terkadang juga melihat hewan gaib yang bisa terbang ketika melalui hutan. Karena sudah di lindungi artefak, tidak ada hewan gaib atau pun monster iblis yang menyerang.
"Hoam! Sepertinya aku masih sangat mengantuk. Karena mata ku terkena angin kuat seperti ini rasanya aku ingin tidur saja." ucap Ravel berbicara sendiri ketika memandangi luasnya hutan dari atas kapal sihir.
"Tak apa, aku akan tidur sendiri. Kalau menggunakan pahamu untuk bantalan kau paati akan kesemutan nantinya." jawab Ravel lalu tidur di bawah tanpa apa pun.
"Sudah! Sebaiknya tidak usah banyak membantah aku." ucap Ella cukup marah lalu mengangkat kepala Ravel ke pangkuannya.
"Kalau kau sangat memaksa, baiklah aku akan beristirahat di sini." ucap Ravel lalu tertidur pulas.
Ares yang melihat itu menjadi ingin mencoba melakukannya ke Mort karena iri dengan Ravel dan Ella.
__ADS_1
"Mort, apa kau lelah? Berbaringlah di pangkuanku." ucap Ares memanggil Mort.
Mort berjalan menujunya dan duduk di sampingnya. Mort menarik kepala Ares dan membuatnya bersandar ke bahu. Ares terkejut melihat Mort malah membiarkannya beristirahat di bahunya. Karena terlalu menikmati Ares tertidur pulas sambil bersandar ke bahu Mort.
"Dia malah tidur duluan, sudahlah." ucap Mort ketika melihat wajah Ares dan ikut tidur dengan saling bersandar.
Seketika suasana hati Nia dan Ariel sangat menurun. Ketika melihat sekeliling, Ravel di pangkuan Ella, Mort dan Ares yang tidur saling bersandar, Kak Nata dan Kak Remon yang memandangi pemandangan berduaan, Adrea dan Dion yang malah mengobrol berduaan sambil melihat pemandangan, yang lainnya pun minum arak bersama dengan hebohnya.
"Rasanya kita berada di tempat yang salah, aku benar bukan?" tanya Nia ke Ariel dengan suasana hati buruk.
"Saat di perhatikan lagi, sepertinya kita salah tempat." jawab Ariel semakin kesal melihat semua pasangan bermesraan.
"Kapan ada orang yang akan mendampingiku ya?" ucap Ariel dan Nia bersamaan.
"Haha, sepertinya akan memakan waktu lama untuk menemukannya." ucap Ariel setelah tak sengaja berbicara secara bersamaan dengan Nia.
"Benar sekali, sepertinya kita harus lebih menguatkan hati di depan para pasangan ini." jawab Nia menghela napas panjang.
__ADS_1