Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Mengemasi Barang


__ADS_3

Sesampainya di rumah Kak Remon, semuanya terlihat sedang merapikan barang dan menyiapkan persediaan makanan yang cukup banyak. Ravel herang dengan apa yang di lakukan para alumni dan semua temannya. Karena tak tahu apa yang terjadi, ia pun bertanya ke Kak Remon.


"Kak, apa yang kalian lakukan? Bukankah semua persediaan itu cukup banyak?" tanya Ravel ke Kak Remon.


"Akhirnya kau kembali, 3 hari lagi kita akan melakukan perjalanan menuju ke sekolah sihir terbaik di benua ini. Kau harus ikut! Karena ini termasuk kegiatan sekolah." ucap Kak Remon lalu meninggalkan Ravel dan kembali mengiapkan persediaan.


"Apa? Kenapa mendadak sekali? Lagi pula apa tujuan kita pergi ke sekolah sihir terbaik di benua ini?" tanya Ravel yang merasa kalau ia tak punya waktu untuk membuat senjatanya terlebih dahulu.


"Sebenarnya kepala sekolah sudah berteman lama dengan kepala sekolah dari sekolah itu. Mereka meminta bantuan untuk mengirim beberapa penyihir dengan kemampuan tinggi untuk membantu mereka menyelesaikan beberapa masalah." ucap Kak Remon berhenti dan menjawab pertanyaan Ravel.

__ADS_1


"Membantu? Bukankah mereka sekolah sihir terkuat di benua ini? Kenapa masih meminta tolong pada sekolah kita yang statusnya terus menurun setiap tahun?" tanya Ravel merasa aneh.


"Sepertinya para murid di sana merasa sombong karena status sekolah yang tinggi dan menyebabkan banyak perkelahian antar murid, jadi kalian akan ke sana sebagai murid pertukaran untuk membuat mereka sadar bahwa tak ada yang bisa mereka sombongkan atas kemampuan mereka." ucap Kak Remon tersenyum karena merasa kalau masalah ini sangat menarik.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menyiapkan persediaanku dan pulang ke tempat Kak Nata sebentar untuk menjemput rekan kecilku." ucap Ravel terpaksa mengikuti perkataan kepala sekolah.


"Rekan kecil?" ucap pelan Kak Remon bingung dengan siapa yang di maksudkan oleh Ravel.


Baru saja melintasi gerbang teleportasi, Ravel di buat terdiam dengan apa yang ia lihat. Catari sudah membesar seukuran kamarnya hanya dalam waktu beberapa bulan. Ia terkejut melihat itu dan hanya melihat Catari sedang tidur.

__ADS_1


"Dia tidak akan memakanku kan?" ucap Ravel dalam hati ketika melihat Catari.


Lalu Ravel melangkahkan kakinya dan detik itu juga Catari terbangun. Ravel sudah terkejut dan tegang karena situasi itu. Catari langsung menghadapnya dan menundukkan kepalanya. Ravel merasa tenang kalau ia masih Catari yang sebelumnya. Ia pun mengelus Catari sebagai sapaan setelah lama tak bertemu.


"Sudah lama tak bertemu, Catari." ucap Ravel mengelus kepala Catari yang sedang membungkuk ke arahnya.


Catari menaikkan kepalanya lalu menjilati Ravel.


"Ayolah, aku takut kau akan memakanku jika terus melakukan itu, Hahaha." ucap Ravel yang sedang di jilati Catari.

__ADS_1


Sesudah melakukan kontak setelah sekian lama, Ravel dan Catari menjadi sangat dekat. Catari terlihat sangat jinak ketika bersama dengan Ravel. Seketika muncul masalah lain yang baru terpikirkan oleh Ravel. Masalah ini seharunya sudah ia sadari sejak ia baru memasuki kamarnya.


"Catari, aku baru sadar sekarang, bagaimana cara aku bisa mengekuarkanmu dari kamar?" tanya Ravel ke Catari yang hanya seekor naga.


__ADS_2