Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Kembali dan Menetap


__ADS_3

"Berani sekali kalian berbuat onar di hadapanku!" bentak Ares ke semua pasukan itu.


"Ada apa dengannya? Bukankah dia terlalu terbawa emosi?" tanya Ravel terdiam melihat Ares dan menanyakannya ke Mort.


"Saat di dunia dewa, jika ia melawan orang yang sudah di pastikan kalah, tetapi tetap mengirimkan pasukan untuk menyelamatkan diri, ia akan menunjukkan sifat yang di sembunyikannya. Ia di juluki dewa tersadis di tempat para dewa." jawab Mort malu ketika melihat Ares berperilaku seperti itu.


"Siapa yang memerintahkan kalian?" tanya Ares ke Achilles Troy.


"Aku yang memimpin pasukan ini, karena pasukan sebelumnya gagal menjalankan misi ini." jawabnya dengan jujur.


"Siapa yang memberikan misi ini?" tanya Ravel ke Achilles dengan tatapan tajam.


"Raja sendiri yang memerintahkan misi ini." jawabnya Achilles gemetar ketika menatap mata Ares.


"Sudah, sebaiknya kita cepat pergi. Mereka tidak layak di beri kesempatan hidup, Memory Eraser!" ucap Mort lalu langsung pergi meninggalkan semua pasukan yang pingsan itu.


"Sihir barusan?" tanya Ravel mengikuti Mort bersama yang lain.


"Penghapus ingatan, tapi ada bayarannya ketika menggunakan sihir ini." jawab Mort sambil berjalan.


"Apa bayarannya?" tanya Ravel berniat mempelajari sihir itu.

__ADS_1


"Kau akan mengingat kenangan terburukmu." jawab Mort ke Ravel.


Kemudian Ravel kembali memanggil Catari yang berada di alam lepas. Ketika Ravel memanggilnya, naga itu menghampirinya dari langit.


"Catari!" teriak Ravel memanggil naga itu.


Kemudian angin berembus dengan kuat dan membuat pepohonan meluruhkan dedaunannya. Catari mendarat dengan posisi membungkuk ke arah Ravel.


"Kerja bagus, kita kembali sekarang." ucap Ravel ke Catari kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Sekolah Sihir Astilice.


Sesampainya di sana, hari sudah terang. Fanya bersembunyi di gua dalam hutan bersama Catari sebagai teman yang mendampinginya. Sementara Ravel kembali ke sekolah dan membuat alasan.


"Sekarang di mana Kak Remon? Aku akan menemuinya." ucap Ravel menanyakan keberadaan Kak Remon.


"Sepertinya dia sedang di kamarnya, coba kau pergi untuk memeriksanya." jawab Kak Walles.


Kemudian Ravel pergi menuju kamar Kak Remon untuk menemuinya. Sesampainya di depan kamar Kak Remon, ia langsung mengetuk pintunya dan memanggilnya.


"Tok, tok, tok. Kak! Apa kau di dalam?" teriak kecil Ravel memanggilnya.


"Masuklah." jawab Kak Remon.

__ADS_1


Saat memasuki kamar Kak Remon, Ravel melihat Kak Remon sedang membersihkan pedangnya. Ia sedang mengelapnya dari noda darah.


"Apa kau mencari ku Kak?" tanya Ravel ke Kak Remon.


"Oh, aku hanya memberitahu. Besok kita kembali ke Sekolah Sihir Victoria." jawab Kak Remon memberitahu alasannya mencari Ravel.


"Kembali? Aku mungkin akan belajar di sini untuk beberapa saat, karena buku sihir di sini berbeda dengan di sana. Aku ingin mempelajarinya beberapa hari." jawab Ravel mencari alasan untuk menetap.


"Kalau begitu aku akan mengabari kepala sekolah untuk perpanjanganmu. Jangan mempermalukan nama sekolah kita di sini, paham?" ucap Kak Remon mengizinkannya tanpa syarat.


"Kalau begitu, aku akan berpamitan dengan yang lain terlebih dahulu." ucap Ravel lalu pergi dari kamar Kak Remon.


Kemudian Ravel pergi ke ruangan tempat mereka berkumpul bersama. Semuanya juga ada di sana dan membuatnya lebih mudah berpamitan.


"Hei, kalian!" teriak kecil Ravel berjalan menuju semua temannya.


"Ada apa Ravel?" tanya Nia ke Ravel.


"Maaf, kalian akan kembali besok kan? Aku tidak ikut. Masih ada yang harus ku pelajari di sini selama beberapa hari." ucap Ravel mengatakan kalau ia tidak akan kembali.


"Apa?" ucap semuanya terkejut.

__ADS_1


__ADS_2