
Seminggu berlalu, Ravel pulih dengan sepenuhnya. Ia akan berangkat ke sekolah hari ini, karena dia telah tertinggal pelajaran di kelas, meskipun hal itu tidak terlalu jadi masalah untuknya. Sesampainya di sekolah bersama kedua temannya itu, seluruh murid bersorak dan memberi tepuk tangan ke Ravel yang ada di depan gerbang sekolah.
“Hei, sebenarnya ada apa ini?” tanya Ravel ke kedua temannya.
“Sebenarnya, banyak rumor beredar tentang dirimu yang menyelamatkan sekolah dan berhasil melawan ras vampire.” ucap Nia gugup karena ia juga ikut menyebarkan rumor tersebut.
“Benar, sepertinya kau dianggap sebagai penyelamat sekolah oleh beberapa murid. Namun, ada juga yang membencimu karena merebut kepopuleran dan usaha mereka, sebaiknya kau berhati-hati.” ucap Dion menjelaskan keadaannya.
“Sepertinya lebih baik aku menyembunyikan kekuatanku.” ucap Ravel dalam hati setelah memikirkan keadaannya.
Tak lama kemudian, Ariel dan Adrea datang menemui mereka, beserta dengan kepala sekolah yang berada di belakangnya. Kepala sekolah merasa berterima kasih karena jika buku sihir yang di incar vampire itu berhasil di dapatkan akan terjadi masalah serius di dalam kerajaan. Para murid yang melihatnya pun semakin meriah memberikan tepuk tangan untuk Ravel.
Kemudian Ravel di ajak oleh kepala sekolah ke ruangannya untuk membahas beberapa hal penting. Mereka pun mengikutinya tanpa tolakan sedikit pun. Sesampainya di depan ruang kepala sekolah, Ravel merasakan kapasitas mana yang sangat besar dari dalam ruang kepala sekolah. Ia pun berhenti dan memberitahu yang lain.
“Tunggu, ada orang kuat di dalam ruangan ini.” ucap Ravel tiba-tiba.
__ADS_1
“Hahaha, kau memang sangat sensitif ya! Orang ini adalah penyihir kerajaan yang datang untuk mencari informasi tentang orang yang menyusup ke sekolah kita.” ucap kepala sekolah yang menjelaskan untuk menenangkan Ravel.
“Pantas saja, aura ini kuat sekali. Sekitar empat kali lipat dari milikku.”
“Empat kali lipat?” ucap teman-temannya yang terkejut bahwa ada orang sekuat itu.
“Hahaha, dia adalah salah satu anggota elite kerajaan yang di utus untuk menangani kasus ini.”
“Kalau begitu, kita sebaiknya langsung masuk. Tidak enak membuat orang itu menunggu.” Ucap Adrea.
“Kau benar juga, ayo kita masuk.” ucap Dion menanggapi saran Adrea.
“Tuan, ini orang yang telah menyelamatkan sekolah ini.” ucap kepala sekolah ke orang itu sambil menunjuk Ravel.
“Penyelamat sekolah? Kepala sekolah kau terlalu berlebihan.” respon Ravel yang merendah karena dia merasa kalau semua orang terlalu memandang tinggi dirinya.
__ADS_1
“Hei, apa kau benar orang yang menahan rencana vampire itu.” ucap pria itu merendahkan Ravel.
“Ya, itu aku Arravel Dista dari panti asuhan Lamour!” ucap Ravel dengan mewaspadai gerak-gerik pria itu.
“Aku kecewa! Mana mungkin ini menjadi masalah besar kerajaan. Bocah ini saja bisa menahannya, bagaimana ini bisa menjadi ancaman untuk kerajaan?”
“Pak tua, kau jangan sombong dulu! Aku bisa menahannya karena usaha keras dan pertaruhan nyawa. Jika, kau menganggap hal itu sebagai hal kecil, aku tidak akan terima kau merendahkan kemampuanku!” ucap Ravel marah karena di rendahkan oleh orang yang hanya berkuasa di atas pangkatnya saja.
“Memangnya kau sekuat itu? Bahkan jika aku tidak mengasihanimu aku bisa membunuhmu kapan saja.” ucap pria itu merendahkan Ravel dengan statusnya.
“Kalau kau begitu percaya diri, aku ingin menantangmu!”
“Hahaha, lucu sekali! Kau? Ingin menantangku? Jangan terlalu besar kepala bocah, jika kau tidak sayang nyawamu maka aku akan menjadi dewa kematianmu!” ucap pria itu merendahkan Ravel dan menganggap kalau Ravel bukanlah apa-apa.
“Kalau begitu, minggu depan! Kau bisa memberiku 3 serangan sihir apa pun, jika aku bisa menahannya aku menang, jika kau bisa menjatuhkanku kau yang menang!” ucap Ravel menentukan tantangannya.
__ADS_1
“Baiklah, jangan salahkan aku jika kau mati. Karena kau hanya menggali kuburanmu sendiri.”
“Aku tidak akan mati!” ucap Ravel dalam hati.