
Kemudian penyihir kerajaan itu mengucapkan mantra di mana mantra itu akan mengambil sebagian umurnya. Mantra ini bernama Equip dan biasanya hanya orang yang pernah menemukan artefak yang bisa menggunakannya. Artefak memiliki 3 level, artefak Peri, artefak Iblis, dan artefak raja. Kalau keadaan memang sangat gawat, Mort akan memberikan Artefaknya untuk Ravel.
Namun, efeknya akan sangat besar, bahkan bisa membuat Ravel kehilangan nyawanya. Jika Artefaknya hanya level Peri, Ravel masih bisa menahannya dengan kekuatan penuh. Itu pun juga akan berefek kehabisan mana dan tak sadarkan diri untuk beberapa hari.
“Equip!” teriak penyihir kerajaan itu lalu muncul sebuah pisau kecil di tangannya.
“Pisau terbang? Bagus, ini hanya tingkat peri.” ucap Mort memberitahu Ravel.
“Level peri? Bukankah itu level iblis? Aku merasakan aura iblis di pisau kecil itu.” ucapnya dengan santai.
“Level iblis? Tapi, kenapa kau bisa merasakan kalau ada aura iblis di sana? Dan kau juga masih bisa berbicara dengan santainya.” tanya Mort yang merasa kalau Ravel terlalu meremehkan lawannya.
“Memangnya kau tak merasakannya? Pisau itu mungkin dimiliki oleh iblis yang menjalin kontrak dengan peri.” jawab Ravel dengan santainya.
__ADS_1
“Bagaimana kau tahu? Apa yang akan kau lakukan untuk melawannya? Aku bisa memberikan artefak dewa namun, efeknya akan sangat besar kalau belum pernah berlatih equip.”
“Untuk melawan penyihir itu untuk apa sampai menggunakan artefak dewa?” respon Ravel dengan nada menjengkelkan.
“Sepertinya kau punya rencana.”
“Aku sudah siap Ravel!” ucap Ella tiba-tiba.
“Equip!” ucap Ravel menggunakan sihir yang sama.
“Dasar dewa bodoh! Apa kau lupa partner ku juga peri.” jawab Ravel dengan ejekan karena berhasil mengelabui Mort.
Lalu muncul sebuah busur di depannya. Pisau terbang itu mengeluarkan warna dan aura gelap seperti hewan yang haus darah sementara panah Ravel mengeluarkan warna jade hijau dan aura alam yang menenangkan. Penyihir itu langsung menyerangnya tanpa menunggu lama. Ravel menutup matanya dan merasakan aura pisau itu.
__ADS_1
Saat mendekat ia menangkap pisau terbang itu menggunakan tangannya. Tangannya tergores dan berdarah namun pisaunya berhasil di tangkap. Ravel menggenggam pisau itu sampai patah lalu menarik busurnya. Seketika muncul anak panah di bagian busur yang ia tarik. Lalu melepaskan anak panah itu ke penyihir kerajaan itu.
“Dengan kekuatan alam, cahaya kesetaraan, hilangkan kegelapan yang mengusik dunia ini! Equality arrow!” Ravel melepaskan anak panah itu dan mengenai penyihir kerajaan itu.
Penyihir kerajaan itu pingsan kehabisan mana setelah menerima serangan anak panah itu. Karena anak panah itu akan menghilangkan mana dan memberikannya pada pemiliknya. Pertandingan selesai dan dimenangkan oleh Ravel. Semua temannya langsung berlari menuju Ravel dan merayakan kemenangannya.
Ketika temannya baru saja sampai, Ravel langsung tergeletak pingsan seketika saat itu juga. Dion membawanya ke ruang perawatan dan membiarkannya pulih terlebih dahulu. Saat di periksa oleh divisi kesehatan, Ravel tidak terluka kecuali goresan di tangannya. Tapi, entah kenapa mana dalam tubuhnya terlalu banyak dan membuatnya tak sadarkan diri.
Saat itu, Ravel berada di alam bawah sadarnya dan sedang memperluas kapasitas mananya yang berhasil dia rebut dari penyihir kerajaan itu. Setelah 2 jam akhirnya ia berhasil memperluas kapasitas mananya. Ketika ia sadar keempat temannya sedang berada di ruangan itu dan menunggunya sadar. Ketika ia membuka mata, Nia dan Ariel langsung memeluknya dengan napas lega.
Dion hanya meliriknya dengan wajah tawa kecil. Sementara Adrea mencoba menghentikan Ariel dan Nia mengganggu istirahatnya.
“Sepertinya kau kerepotan juga ya, tuan populer.” ucap Dion mengejeknya.
__ADS_1
“Kalau kau tahu, cepatlah bantu aku Dion!”