Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Persiapan Penuh!


__ADS_3

Setelah makan dengan kenyang, Ravel pergi keluar untuk mencari angin bersama Ella. Sedangkan Mort sedang membantu Kak Nata membersihkan meja dan piring kotor yang sudah kotor terpakai. Dion dan Nia sedang membaca buku sihir lagi bersama dengan rekan kontrak mereka masing-masing. Karena tidak merasakan kantuk sedikit pun, Ravel mencoba mengunjungi Paman Strakeln.


Sesampainya di depan toko pandai besi, dari dalam toko masih terlihat sangat terang. Ketika Ravel mendekat dan mencoba mengetuk pintu, ia mendengar suara pukulan palu yang sedang membentuk besi panas. Ia langsung mengetuk pintunya dan melihat sekitar sebelum paman Strakeln sempat menjawab ketukan pintu itu.


Ia terkagum dengan tumpukan pisau kasar yang belum di poles yang sudah hampir berjumlah 50. Ravel merasa sangat berterima kasih kepada paman Strakeln. Karena ia rela melakukan hal yang melelahkan untuknya. Karena kedatangan Ravel, paman Strakeln mengistirahatkan tubuhnya sebentar dan membiarkan Ravel menggantikannya.


Setelah 30 menit, paman Strakeln kembali mengerjakan pisau itu lagi. Ia berniat membuat pisau dengan pegangannya juga. Setelah mendengar alasannya kerja lembur, Ravel berniat membantunya hingga pagi tiba. Tanpa banyak bicara, paman Strakeln menerima bantuannya. Mereka berdua bekerja tanpa henti sepanjang malam hingga matahari terbit.


Sedangkan yang lain sudah tidur karena Mort memberitahu kalau Ravel sedang ada urusan jadi tak akan pulang malam ini. Karena Mort bisa merasakan aura Ravel selama masih menjalin kontrak dengannya. Sementara itu, Mort tak mau mengganggu jadi ia tidur di kamar Ravel. Sementara Ella membantu membuatkan minuman dan camilan di selanya agar tak terlalu lelah.

__ADS_1


Tak terasa pagi tiba dan 50 pisau selesai dengan sempurna. Ravel langsung kembali ke rumahnya dan mengucapkan terima kasih atas kerja keras paman Strakeln. Sesampainya di rumah, makanan sudah disiapkan di meja makan. Dion dan Nia sudah berangkat ke sekolah sementara Kak Nata sedang ada urusan dengan temannya yang juga merupakan alumni dari sekolah sihir vitoria.


Saat sampai, Mort sedang tertidur di sofa dengan lelapnya. Kemudian Ravel langsung memakan sarapannya dan bersiap untuk ke sekolah secepatnya. Ia berlari sekuat tenaga agar tidak terlambat. Sesampainya di kelas, Nia dan Dion mengira kalau Ravel tidak akan berangkat. Sesampainya di sana, Ravel mempelajari sihir perpindahan dimensi.


Ia mempelajarinya dengan sangat cepat seperti biasanya. Karena akan merepotkan jika harus membawa 50 pisau dengan kedua tangannya saja, jadi dia ingin menggunakan penyimpanan dimensi. Hanya dalam sekali membaca buku tentang dimensi, Ravel langsung bisa menggunakan beberapa sihir dimensi hanya dalam sekejap.


Ravel merasa ada sesuatu yang penting dan langsung bergegas ke rumah dan menitipkan izin ke Dion dan Nia. Tanpa bertanya mereka berdua hanya menuruti perkataan Ravel saja. Sesampainya di sana, Mort terlihat sedang teliti membaca buku yang Ravel dapatkan dari paman Strakeln. Mort terlihat sangat serius dan mendalaminya dengan rasa penasaran.


“Ada apa Mort?” tanya Ravel ke Mort yang sangat fokus ke buku itu saat dia sampai.

__ADS_1


“Dari mana kau mendapatkan buku ini?” tanya Mort dengan sangat serius.


“Dari paman dwarf yang ada di toko besi, memangnya kenapa?” tanya Ravel bingung.


“Lyudota Volga, ini pasti bukunya.” ucap Mort pada dirinya sendiri.


“Lyudota? Siapa itu?” tanya Ravel ke Mort setelah tak sengaja mendengar nama yang terucap dari mulutnya.


“Mungkin, pandai besi itu mempelajari buku ini dengan penuh kerja keras. Lyudota adalah manusia setengah dewa yang pernah membuatkan sabit kebanggaanku ini.” ucap Mort menjelaskan.

__ADS_1


__ADS_2