Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Karena 50 Pisau


__ADS_3

Keesokan harinya, Ravel kembali ke toko pandai besi untuk membantu membuat pisau. Ia terus mengikuti instruksi dan langkah-langkah yang di berikan oleh paman Strakeln. Ketika bekerja tanpa henti, tiba-tiba Nia datang ke toko itu untuk mengantar surat dari kepala sekolah. Kemudian mereka berdua beristirahat sebentar untuk melihat pesan dari kepala sekolah.


Ravel membuka surat itu, isinya merupakan pemberitahuan tentang pertemuan untuk perencanaan ekspedisi reruntuhan Neredzahm. Karena itulah dia membutuhkan banyak pisau sebagai senjata andalan jika ada hal yang tak di inginkan. Setelah melihat isi surat itu, Ravel menjadi semakin bersemangat.


“Paman, sepertinya memang tidak perlu istirahat.” ucap Ravel lalu langsung kembali mengerjakan tugasnya.


“Haha, sepertinya kau sangat bersemangat setelah melihat pesan itu. Terima kasih nona cantik, berkatmu pekerjaan ini mungkin akan lebih cepat selesai.


“Ti-tidak, aku hanya mengantarkan surat saja kok. Kalau begitu aku kembali ya Ravel, nanti malam kau bisa istirahat sepuasnya, Kak Nata akan pulang malam ini.” teriak Nia sambil berlari kembali ke rumah.


“Oke!” teriak Ravel menjawab padahal matanya hanya serius ke pekerjaannya.

__ADS_1


5 jam berlalu, tak di sangka pekerjaan yang selesai lebih banyak dari yang di perkirakan. Ravel terkapar di lantai karena kelelahan. Pemilik toko itu kagum melihat semangatnya untuk membuat senjata. Ia berpikir kalau mungkin Ravel bisa menjadi tukang besi yang hebat jika berminat. Namun, ia pun juga sadar kalau Ravel pasti memiliki antusias pada sihir lebih dari ini.


“Hei, hari ini sudah cukup. Ini sudah melebihi setengah dari pisau pesananmu.” ucap pemilik toko menyuruhnya pulang untuk beristirahat.


“Benarkah? Kalau begitu aku akan langsung pamit dan istirahat. Besok aku akan datang di pagi yang sama.” ucap Ravel lalu langsung berlari menuju rumah.


“Tunggu dulu!” teriak pemilik toko memanggil Ravel.


“Aku ada hadiah untukmu, ini adalah buku tentang bahan dasar senjata langka dan kuat. Kau bisa menambah wawasanmu, mungkin juga di dalam reruntuhan itu kau bisa mendapatkan barang bagus bukan?” ucap pemilik toko itu memberikan buku yang pernah ia baca dulu.


“Kalau begitu aku terima, terima kasih paman! Aku pamit!” ucapnya kemudian langsung berlari sekuat tenaga sampai rumah.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Nia dan Dion sedang membaca buku sihir di rumah. Ravel langsung mandi dan tidur karena terlalu lelah. Setelah selesai mandi dia berniat makan siang terlebih dahulu, namun karena terlalu lelah Ravel terlelap dengan posisi duduk di kursi dapur. Dion yang berniat mengambil pisau terkejut melihat Ravel tertidur dengan posisi duduk dengan pulasnya.


“Astaga, kenapa dia selalu melakukan hal aneh? Bagaimana bisanya dia tertidur pulas dengan posisi begitu?” ucap Dion berbicara sendiri sambil menggelengkan kepalanya ketika melihat Ravel.


Baru saja akan mengangkat Ravel ke kamarnya, tiba-tiba Mort melakukan perwujudan. Dion pun menjadi semakin terkejut melihatnya. Karena ini baru kedua kalinya dia bertemu dengan Mort.


“Ah, kau tak perlu memindahkannya. Ini bagus untuk latihannya.” ucap Mort melarang Dion memindahkan Ravel.


“Latihan?” ucap Dion bingung dengan maksud perkataan Mort.


“Lihat ini!” ucap Mort mengambil pisau yang di pegang Dion.

__ADS_1


Kemudian Mort mengambil langkah dan berniat menusuknya ketika tidur. Dion panik dan ingin mencoba menghentikan Mort. Ia terkejut, karena Ravel tiba-tiba terbangun dan menghindari serangan pisau itu dengan sempurna. Dion merasa lega dan lemas setelah kejadian beberapa detik itu.


__ADS_2